Pengikut

Pengikut

Advertisement

melihat Aceh di Negeri Leste

Kemerdekaan Timor Leste yang resmi diakui dunia internasional tahun 2002 tak bisa luput dari diplomasi hebat para tokoh sekaliber Xanana Gusmou, Mar’i Arkatiri dan Ramos Haorta. Perjuangan mereka untuk membebaskan negeri mencapai hasil lewat referendum 1999, dimana 78 persen rakyat Timor Leste menolak opsi otonomi yang diberikan Indonesia dan memilih merdeka!




Dunia terkesima seketika, Rakyat Leste serta merta bereuforia, Aceh dan beberapa daerah lain yang saat itu masih diliputi kabut konflik sedikit tercengang. Setidaknya kemerdekaan Timor Leste kala itu telah menjadi pelecut semangat bagi tokoh-tokoh pergerakan berbasis daerah untuk menjadi bangsa yang bermartabat walau akhirnya Aceh sendiri harus merdeka dalam damai.



Waktupun terus beranjak, sejarah kembali mengabadikan sepak terjang perjuangan Timor leste mengisi kemerdekaannya. Berbagai media massa internasional menulis bagaimana kegigihan rakyat Timor berjuang melawan kemiskinan yang kian menggerogoti hari. Sementara Aceh, sebagai provinsi paling barat Indonesia masih berkubang dengan amisan pahit bernama darah, banyak anak-anak kehilangan orang tua. Lahar panas senjata api terus muntah tak mengenal jenuh. Ini menjadi sebuah paradoks disaat Timor Leste tengah bereuforia merayakan kemerdekaannya, justru Aceh harus beruforia dengan status barusnya sebagai daerah darurat militer kala itu.



Mencermati lebih jauh antara sejarah Timor Leste dan Aceh akan ada hal-hal menarik yang akan kita temukan. Disatu sisi akan akan ada hal-hal yang membuat Timor Leste jauh berbeda dengan Aceh, namun disisi lain kita akan menemukan titik-titik persamaan antara keduanya. Kita contohkan dalam hal bahasa, tercatat bahwa bahasa Portugis masih menjadi bahasa penting di Timor Leste, yang menjadi simbol betapa kuatnya hegemoni Portugis terhadap Leste. Bahasa Tetun sendiri sebagai bahasa persatuan utama di Timor leste banyak mengalami perubahan setelah menyerap bahasa Portugis. Begitupun nama negara sampai nama orang juga tak lepas dari bau Portugis. Bahkan lagu kebangsaan Timor Leste sebagaimana yang disebut dalam wikipedia masih dinyanyikan dalam bahasa Portugis.



Namun dibalik semua itu, usaha mulia Timor Leste dalam dalam meningkatkan bahasa Tetun sebagai bahasa persatuan patut diapresiasi, setidaknya usaha mereka telah menunjukan hasil dengan adanya surat kabar harian berbahasa Tetun. Kegigihan Timor Leste ini kiranya bisa menjadi semangat kembali bagi Aceh untuk meningkatkan peran bahasa indatu sebagai bahasa tulisan disamping mempertahankannya sebagai bahasa tutur, karena mengingat kondisi bahasa Aceh sekarang sangat memprihatinkan. Kita berharap bahasa Aceh suatu saat nanti dapat menguasai media seperti televisi radio maupun surat kabar. Sehingga posisi Bahasa Aceh bisa hidup normal ditengah euforia nasionalisme keacehan sebagaimana yang disebut Saiful Akmal (SI 13 Maret 2011)



Selanjutnya negeri Portugis sebagai penjajah Timor Leste agaknya menjadi titik temu kesamaan antara Aceh-Leste sendiri, karena Portugis bukan lagi nama yang asing dimata orang Aceh. Pelaut Portugis sendiri mendarat di Aceh abad ke 14 walau gagal menancapkan pengaruhnya. Sebuah sajak ikut mengabadikan nama Portugis ketika Aceh berusaha menggempurnya kala itu “di nanggroe Aceh na alam peudeueng, cap sikureueng lam jaroe raja. Phon di Aceh troh u Pahang, tan soe na tentang Iskanda Muda. Bangsa Portugis angkatan meugah, abeh geupinah, u Meulaka keudeh I piyoh, keunan pih troh geupucrok teuma. Iskandar Tsani duek keugeunanto, lakoe Cut Putro Tajul Mulia. Kota malaka teuma geu eungkho, Portugis diwoe keudeh u Gua.



Satu hal yang menarik adalah adanya keturunan Portugis di Lamno sebagai bentuk integrasi mereka dengan penduduk setempat. Para keturunan portugis adalah adalah pemeluk islam yang taat, wanitanya terkenal dengan sebutan si gadis bermata biru karena kemiripan mereka dengan orang-orang Eropa umumnya.



Melihat lagi dalam hal beragama, beruntung Timor Leste punya pemimpin sekaliber Mari Amude Alkatiri seorang penganut Muslim yang taat. Sejarah sendiri mencatat bahwa ajaran islam telah datang ke Timor Leste lewat peran pedagang Hadramaut yang menetap di Dili pada awal abad ke 17 Masehi, walaupun ada teori sejarah lain yang menyatakan islam masuk ke Dili bersamaan dengan datangnya orang-orang Eropa ke nusantara. Namun sayang sekali pasca kemerdekaan negara tersebut, islam justru tak berwarna, tampaknya misionaris kristen terus melancarkan misi dakwahnya menumbangkan islam di Timor Leste.



Ini pula yang terjadi bumi Aceh pasca MoU Helsinki. Merebaknya pedangkalan akidah lewat aktivitas para misionaris beberapa bulan pasca tsunami, meningkatnya status khalwat, perjudian, kriminalitas sampai kemunculan aliran-aliran sesat yang akhir ini mulai menggerogoti Aceh. Ini semua merupakan sebuah nilai mundur dalam beragama di Aceh ditengah kegigihan beberapa pihak menegakkan syari’at kaffah.



Titik kesamaan lainnya menurut penulis adalah dalam hal politik, Timor Leste bukanlah negara yang bebas dari konflik politik setelah pasca kemerdekaan, perang politik terus saja terjadi akibat nafsu kuasa, ego politik dan lain sebagainya. Hal itu pula yang telah menjadi kenyataan pahit di Aceh pasca damai, apalagi mendekati pilkada 2011 kedepan, konflik politik di Aceh semakin memanas dan semakin hangat dibicarakan dalam berbagai media lokal dan warung-warung kopi. Miris memang, Ambis-ambisi politik rupanya telah mengalahkan sifat malu dan etika. Kita tak ingin kekakhasan beragama di Aceh itu terjual demi nafsu politik individu yang mengatasnamakan rakyat.



Sebagai penutup, kalau saja diadakan pertandingan bola antara Timor Leste dan Aceh sekarang ini, maka kita boleh berasumsi bahwa kemenangan akan berada pada tim keseblasan Aceh. Namun disisi lain geliat bola di Timor Leste juga tak boleh dipandang sebelah mata, karena akhir-akhir ini Timor Leste giat melakukan pembenahan besar-besaran dalam dunia sepak bola. Mulai dari pembangunan infrasruktur sampai mendatangkan pelatih Brazil bernama Clodoaldo, bekas pemain segenerasi Pele yang turut mempersembahkan piala dunia Meksiko 1970. Mungkin saja pada tahun-tahun mendatang akan lahir kesebelasan “Brazil kecil” yang tidak hanya siap mengalahkan Persiraja dan kawan-kawan namun siap mengancam timnas Indonesia sekalipun. Allahu ‘Alam.

Posting Komentar

0 Komentar