Pengikut

Pengikut

Advertisement

Malam di Kampung Antah berantah

Malam telah menunjukkan gelapnya, beberapa jam lagi ayam-ayam jago akan bersenandung indah, membangunkan manusia seperti biasa. Namun kampung Antah Berantah masih ramai dipenuhi manusia berpesta, baik di warung-warung maupun di sudut-sudut jalan. Memang warung di kampung Antah Berantah telah lama menjadi tempat mangkal para anak-anak muda, tak hanya anak muda dari kampung antah berantah saja, tapi anak-anak muda dari kampung tetangga ikut juga ambil bagian.

“Hai nyak Din, apa tidak ada jalan lain…”? “Maaf polem, cuma ini jalan satu-satunya yang harus kita lewati…”. Polem Ma’e mengerutkan dahi, nafasnya menahan amarah manakala melihat pasangan muda-mudi diatas kereta, berpelukan mesra, bertasbih syahdu. Mobil kijang bewarna hitam terus berlari mengikuti jalan, membawa pulang sang polem ke kampung halaman, melewati pemandangan-pemandangan ramjadah di kampung Antah Berantah. Polem Ma’e dan nyak Din sebenarnya adalah warga asli kampung, tapi mereka sudah lama tak menetap di kampung itu. Polem Ma’e sudah mendapat kerja di negeri fulan, nyak Din sendiri menjadi supir setia sang polem sampai kini.

Polem Ma’e berusaha mengingat kembali kondisi kampung Antah berantah yang lama ia tinggalkan. Kampung Antah Berantah sudah banyak berubah maksiat, mungkin hanya segelintir dari mereka yang masih mewariskan semangat suci agama. Padahal dulunya pohon-pohon berjejal asri, para nak dara saban sore pergi ke bale dayah untuk mengaji, mereka berkerudung rapih. Tiba-tiba Polem menitikkan air mata, pemandangan tadi sungguh mengerikan baginya.

Nak dara dari kampung Antah Berantah sudah berubah menjadi lonte berbusana ketat, membungkus aurat, mereka seperti telanjang. Nyak Din menoleh ke arah polem, ia berusaha memahami kegelisahan sang polem. Untuk ukuran kampung Antah Berantah, nyak Din memang patut menjadi contoh, ia tak berpesta. nyak Din tak perlu menenangkan diri dengan seteguk minuman, ia hanya tenang dengan agama suci. Berkat didikan polem Ma’e.



Mobil polem Ma’e sudah berada di depan warung kopi, ada niat polem untuk berhenti, manakala melihat para anak muda sedang masyuk berpesta, ia ingin memberi peringatan. Tapi sebuah kereta pasangan muda-mudi melewati mobil polem begitu dekat, parahnya dua pasangan muda-mudi ini terlihat lagi asyik memadu kasih. “Ramjadah…! Polem Ma’e berteriak penuh amarah, hatta teriakan polem terdengar sampai ke telinga pasangan muda-mudi itu. karena benar-benar merasa ramjadah, pasangan itu secepat kilat mempercepat laju kereta. “kau kejar nyak Din…” Polem Ma’e berteriak, ia benar-benar diluapi amarah, ingin ia memberi pelajaran pada kedua anak manusia itu. Namun kereta malah berlari kencang jauh meninggalkan mobil Polem. Polem Ma’e benar-benar kalah.

Malam itu Polem Ma’e dan nyak Din beristirahat di rumah syupo Meulu. Ia adalah kakaknya polem Ma’e, Syupo Meulu seorang yang taat, suaminya telah lama meninggal. Tiga anaknya yang laki-laki telah merantau ke negeri seberang. Ia juga memiliki satu anak perempuan, Yanti namanya, seorang wanita yang dikenal baik, berbeda dengan wanita di kampung Antah Berantah umumnya. Yanti tinggal di kota, menuntut ilmu di sebuah universitas ternama.

“Apa rencana polem hari ini…? nyak Din bertanya pada Polem Ma’e di sewaktu makan siang… “ nanti malam aku ingin ke warung, aku ingin memberi nasehat pada mereka, generasi macam apa kalau kerjaan macam syetan, mabuk-mabukan…” kau ikut nyak Din? Sip polem…” nyak Din menurut saja, baginya polem Ma’e tahu betul bagaimana mencegah mereka, Ia percaya polem Ma’e tak akan membuat keributan berarti. Kalau mengandalkan para tetua di kampung Antah Berantah sudah jelas tak mungkin lagi, mereka tak lagi kuat melarang anak-anak muda itu, mereka terlalu lemah kini, umur mereka telah menua dimakan usia.

Malam yang direncanakan polem rupanya tak berjalan mulus, warung di kampung Antah Berantah tiba-tiba kosong, polem begitu kecewa. Belum hilang rasa kecewanya, polem Ma’e dan nyak Din dikejutkan oleh desas-desus penemuan dua sosok mayat tak jauh dari kampung Antah Berantah, semua warga lagi berduyun menuju lokasi. Ada dua sosok mayat disana, mayat perempuannya terperosok kedalam got terjepit kereta, menyedihkan. Sedang mayat laki-laki tergeletak tak jauh dari got, mungkin terpelanting kereta.

Penduduk kampung berteriak histeris manakala mayat perempuan diangkat, ada yang menggelengkan kepala, dan menutup mata, warga benar-benar tercengang. Polem Ma’e dan nyak Din dilanda bingung tak tahu ulah warga, polem Ma’e mencoba memutar kembali sisa-sisa memori malam kemarin, Syupo Meulu sendiri akhirnya jatuh pingsan. beberapa syupo lain di kampung Antah Berantah saling berteriak lemah “itu mayat si Yanti anak Syupo Meulu…!

Kairo, 2 April 2011

Posting Komentar

0 Komentar