Pengikut

Pengikut

Advertisement

Penjahat Berdasi

Profesi ini sudah 3 bulan kujalani. Entah bosan atau tidak semuanya harus kujalani demi sebuah asa. Misi yang sangat menantang bagiku tentu saja. Ku angkat tas hitam yang berisi semua perlengkapan. “Kalian tahu profesiku apa? Kalian tahu tugasku apa? Intelijenkah? Bukan…” “Mujahidinkah? Lebih-lebih bukan…” “Atau pasukan densus88 anti teror? Ah terlalu jauh...”


Aku hanya masyarakat biasa lagi lemah yang berjuang malawan arus kehidupan yang zalim. Tak banyak yang membantuku, bahkan sebagian mereka malah mencibir dan mancemoohku. Tak ada kerjaan!

Tunggu dulu, aku bukanlah seorang pendemo sejati yang berani merusak pagar pemerintah sewaktu-waktu, aku bukanlah si peneriak ulung di depan pejabat-pejabat itu, yang mendengar atau tidak kemudian pergi begitu saja sambil senyum mencibir. Aku bukan seperti abang-abang mahasiswa yang acapkali memakai baju almamaternya untuk menunaikan apa yang disebut sebagai amanah rakyat. Bukan, bukan itu.

Hanya saja tujuanku tetap sama dengan abang-abang pendemo kemarin. Ke kantor pejabat. Mencari sebekal hak untuk menimba ilimu, sebelumnya telah berpuluh-puluh kantor di negeri ini kudatangani, tapi apa, apa yang kudapat, aku hanya mendapati keringatku semakin bercucuran, proposal ini robek dan kotor tak beraturan. Allahu Rabbi…!

Ingin kukatakan kalau aku bukan pengemis, Aku hanya menuntut hakku disana, hak dalam pendidikan. Sebagai abdi rakyat sepatutnya mereka menerimaku, mendengar keluh kesahku dan membantu rakyatnya sebagai amanah dan kewajiban mereka. Itu saja.

ku ketuk pintu ruang pejabat. Terhitung sudah 7 kali aku mengetuk, tak ada yang membuka, tak ada yang hirau, baik ajudannya atau apalah namanya. Aku keluar dengan tangan hampa, sepertinya mimpiku untuk bisa kuliah hanya sebuah obsesi yang tak akan pernah tercapai. “Tunggu…tunggu, jangan cepat putus asa…” Batinku yang lain mulai berteriak.

Ah omong kosong dengan semua janji-janji mereka ketika kampanye dulu, omong kosong! Masa-masa SMA Kala itu, aku tidak masuk pelajaran biologi pak Naim, hanya gara-gara ingin mendengar kampanye politik si calon pejabat sebelum dipilih. Kampanye mereka telah menghipnotisku untuk keluar kelas dan mendengar harapan-harapan yang dijanjikan. Aku sempat melihat sebagian masyarakat keluar begitu saja dari arena kampanye, mungkin sudah muak dengan janji-janji calon pejabat. Mungkin saja. Sedang yang lainnya tetap mendengar seksama itupun karena ada hiburan-hiburan maksiat yang ditampilkan.

Aku tahu, banyak dari mereka gagal untuk mendapatkan jabatan, artinya sebagian dari mereka gagal menjadi pejabat. Ada yang stroke dan penyakit lainnya yang menimpa. Pasca kampanyepun banyak orang yang sakit, dan banyak pula yang gila dan semakin gila. Gila dengan kekuasaan melebihi gilanya orang Aceh tempo dulu ketika kaphe Belanda menghamburkan peng griek. Lebih dari itu!

“pendidikan akan penuh beasiswa, pendidikan akan makmur… mari dukung saya, bersama kita melangkah…” dan unek-unek lain. Sejak saat itu untuk pertama kali, telah kutancapkan mimpiku untuk menimba ilmu dibangku kuliah, tapi sekarang apa yang ku dapat? Sungguh menyedihkan, sungguh menghinakan, andai mereka tahu, andai saja, betapa kuat tekadku untuk belajar dibangku kuliah. Sama saja pikirku. Kenyataannya mereka tidak pernah melangkah bersama rakyat.

Tapi aku bukan siapa-siapa mereka, aku bukan saudara mereka, kalau saja aku saudara tentu hak itu akan mudahnya ku dapat. Apa boleh buat, memang begitulah sistem negeri ini. Manusia sudah tidak tahu lagi menggunakan akalnya untuk berpikir. Bencana terus terjadi, tsunami di mentawai, letusan gunung berapi di jawa. Dus… Inikah bentuk murka tuhan?

Suatu kali ketika hilang kendali, beberapa lembar proposal kucabut satu –persatu dan kutempel didinding bangunan-bangunan tempat dmana para pejabat berkantor. Tak sampai disitu, lembaran proposal telah ku tempel juga disemua kantor-kantor pejabat yang ada di kota ini. Aku tak peduli lagi, biarkan saja aku ditangkap. Toh aku tak lagi punya asa kini. Kalau aku mati, akan kukatakan pada malaikat, “pejabat-pejabat di negeri ini telah memutuskan asaku...” dan suatu saat kelak, cucuku akan menulis pada diary birunya tentang kisah penjahat berdasi. Miris!



Malam yang dingin, Cairo, 31 oktober 2010

Poh 2.12 CLT

Mewakili mereka yang terkecewakan…

*Penulis adalah Sidroe Hamba La’eh, Alumni Dayah Jeumala Amal, Lueng Putu Pidie Jaya.

Posting Komentar

0 Komentar