Pengikut

Pengikut

Advertisement

Qattamea Tak Tersenyum Hari Ini

Jam di dinding menunjukkan pukul 05.00 tepat. Ahmad Albaraqi baru saja menyiapkan peralatan sekolah, ketika azan shubuh terdengar menggema di mesjid Nashr Qattamea. Dengan memakai jubah kesayangan, ia bergegas menuju mesjid, yang terletak tepat di sebelah rumah ammu Sulaiman. Ahmad tampak gagah dengan jubah dan peci putih di kepala. Udara di Qattamea memang sangat dingin tadi malam. Dinginnya meninggalkan bekas sampai pagi menjulang. Tapi bukanlah hambatan bagi Ahmad untuk menunaikan shalat shubuh di mesjid.

Selepas shalat, Ahmad tak langsung pulang ke rumah, ia mampir dulu ke tempat penjualan Isy, ful dan tha’miyah. Itu semua menjadi sarapan lezat Ahmad pagi ini. Sarapan pagi bagi orang-orang Mesir dengan harga murah meriah. “aiz ful, tha’miyah, kullu bi geneih…” pinta Ahmad pada ammu Rahman, seorang penjual tha’,miyah di Qattamea. “mesy, enta amil e…? ammu Rahman menanyakan kabar Ahmad. “alhamdulillah quwaisy ya amm, kullu tamam…” Ahmad menjawab, logat ammiyahnya sangat kental seperti kebanyakan anak-anak Arab di negeri Mesir.


Tapi akhir-akhir ini harga sembako sudah melonjak, ibunya sudah memborong berbagai macam jenis sembako sebagai persiapan untuk hari-hari kedepan. Ahmad juga melihat beberapa pelajar Aceh dari Asia lagi berbelanja. Semuanya serba mahal, harga gas naik dari 12 LE menjadi 25 LE, begitu juga dengan harga-harga barang lain. Semakin hari, dikhawatirkan barang-barang tersebut akan berkurang seperti pagi ini persediaan kartu pulsa vodafone, etisalat sudah menipis.

Bahkan ammu Azwar , abang Ahmad harus rela mengeluarkan koceh 150 LE 2 hari lalu untuk pergi ke Hayyu ‘Asyir via taksi. Apa boleh buat tak ada lagi mobil menuju kesana. Suasana sudah begitu mencekam, untuk pergi ke Hayyu ‘Asyir saja harus melewati 5 kali pemeriksaan. Untung hari ini sudah ada mobil menuju ke Hayyu ‘Asyir, itupun terbatas sampai jam 3 sore. Paling menyedihkan lagi ammu Isma’il, pelajar asal Aceh yang kesulitan mengambil uang, semua ATM sudah tidak berfungsi. Carrefur tempat biasa mengambil uang di ATM sudah dijarah, tak tertinggal barang satupun, Alhamdulillah ammu Isma’il menemukan satu ATM di Ragab Soon, Hayyu Tsamin yang masih berfungsi walau harus mengantri panjang kemarin siang. Syukur kepada tuhan.

“Mata tusafir ila andunesia…? Tanya ammu Azwar sama ammu Ismail, ia mengkhawatirkan keadaan ammu Isma’il sebagai warga asing di negeri Mesir. Insya Allah sa asyuf akhbar min safarah andunesi…” jawab ammu Ismai’l ramah, tampak ia menyembunyikan kecemasannya. Baginya pulang ke Indonesia adalah solusi terakhir melihat keadaan Mesir tak nyaman lagi untuk hidup, memang aksi massa tak berpengaruh apa-apa untuk warga asing seperti ammu Isma’il, tapi semua barang sudah mahal, dan berkurang. Banyak pencuri yang berkeliaran disana-sini memanfaatkan kondisi yang sulit diprediksi untuk hari-hari esok. kabarnya hari Jum’at ini akan ada aksi-aksi radikal dari pihak oposisi, pihak asing dihimbau untuk tetap berada di rumah saja sebagai antisipasi dari hal-hal yang tak diinginkan.

Ahmad bergegas ke sekolah menjumpai kawan-kawan dan guru-guru tercinta. Disana ada Madam Nurhain yang menunggu, beliau sangat konsisten dan disiplin, menjadi pengajar tetap di kelas Ahmad. Madam yang memakai kaca mata ini juga sangat penyayang, beliau benar-benar pendidik profesional yang dimiliki warga Qattamea.

Tapi hari ini tak tampak wajah ceria pada madam Nurhain, ia tak bisa menyembunyikan kegelisahannya melihat keadaan Cairo yang tak nyaman akhir-akhir ini. Dari televisi ia melihat bagaimana semangat bangsanya membebaskan negara dari pemimpin zhalim. Kegelisahan madam Nurhain sangat beralasan karena menyangkut pendidikan anak muridnya di hari esok.



Kegiatan belajar mengajarpun berakhir cepat dari hari biasanya, ammu Zakaria, penjaga sekolah memberitahu bahwa massa telah sampai ke kawasan Ma’adi, dekat Qattemea. Bu Nurhain segera mengakhiri jam pelajaran. Sulit baginya untuk memprediksi, ia tak tahu sampai kapan keadaan seperti ini akan berhenti.

Matahari di Qattamea baru saja kembali ke peraduan, sang mentari telah menyelesaikan tugasnya seharian penuh. Beristirahat sebentar untuk memulai tugas kembali keesokan hari. Tapi tak demikian dengan penduduk Qattamea, semakin malam massa semakin ramai saja dan justru kehidupan sangat hidup kala malam tiba. Massa memadati ruas jalan, tempat Ahmad kecil membeli ‘isy, ful, dan tha’miyah pada setiap pagi. Mereka merusak beberapa bangunan. Pintu menuju kantor polisi baru saja dirobohkan, selain itu massa juga merusak beberapa gedung pemerintah kecuali sekolah. Susana begitu mencekam. Madam-madam dan anak-anaknya lebih memilih mengurung diri di rumah, sedang baba dan saudara laki-laki mereka keluar ke ruas-ruas jalan.

Ban-ban sudah mulai di bakar, sayup-sayup terdengar suara semacam bom, Ahmad kecil penasaran dengan apa yang terjadi diluar, ia membuka jendela rumah dengan hati-hati. Banyak orang yang berlari-lari. Mereka terlihat memegang kayu menuju ke sebuah mobil sasaran. Suara semacam bom terus saja terdengar bersahutan. Dua orang berseragam polisi berlari terburu-buru ke arah mobil.

Sementara kakak perempuan Ahmad di ruang tengah lagi sibuk memantau berita terkini Mesir, di layar televisi terlihat para massa meneriakkan “get out Mubarak! Dan sejenisnya, juga kalimat-kalimat pembangkit semangat “Allah ma’akum ya Mishr…” Allah yu’assirukum ya umm ad-dunya…” poster-poster Husni Mubarak juga tak luput dari penghancuran massa. kabarnya lagi massa sudah terpecah menjadi dua bagian, antara pendukung Mubarak dan pihak oposisi el Baradei. Mereka terlibat rusuh.

Ahmad Albaraqi masih bingung dengan apa yang terjadi, terlalu kecil baginya untuk mengetahui masalah politik orang dewasa, meskipun ini menyangkut masalah bangsanya sekalipun. Tapi semangat melihat para pemuda di lantai bawah telah merasuk ke tubuh Ahmad. Serta merta angin berembus dingin, Ia benar-benar lelah dengan segala apa yang tejadi. Udara di luar memang sangat dingin, sayang tak sedingin emosi massa di bawah sana. Ahmad menutup jendela, membaca alquran dan menyelinap dalam kegelapan mimpi di negeri Musa. Nasallallah an yushahhil umurana…!

3 Februari 2011
Bld 15/17 lantai 5. Mahattah Nasrh, Qattamea.

Posting Komentar

0 Komentar