Pengikut

Pengikut

Advertisement

Teror dari Sebuah Pistol di Negeri Piramid, Memori Selasa Pagi (Part 1)

“Di salim aw madhrub...?” “ini uang asli atau palsu...?” bentak seorang laki-laki preman padaku.

Selasa 27 Juli 2010 hampir saja menjadi hari yang naas bagiku, itu terjadi ketika sedang menukar uang pecahan pound di sebuah warnet di jalan gamik, Nashr City. Pada tanggal yang bersamaan Pengurus KMA periode 2009/2010 akan melaksanakan LPJ. Hari itu juga bertepatan dengan pengumuman elasyi Award 2010. Beberapa orang yang manjadi “staff only” KMA sedang bersiap-siap untuk hajatan besar itu. Award yang berupa uang masih ada yang belum tertukar, aku buru-buru menuju pasar Gamik untuk menukar uang, warung al-Bantani menjadi tempat pertama yang ku tuju, hasilnya belum ada uang tukar sampai akhirnya langkah ini terhenti di sebuah warnet, pesimpangan gamik.


“ fi fakkah ya ammu...”? ada uang tukar gak bang? tanyaku pada seorang yang lagi duduk di tempat jaga, sepertinya si laki-laki itu adalah kawannya penjaga warnet. “maafisy...!” gak ada...! katanya dengan suara yang tinggi, seraya melihat kearah uang yang berada di tangan ku. “ di salim aw madhrub...”? ini uang asli atau palsu...? Bentaknya, spontan aku menjawab “di salim, salim ya ammu...!”, ini uang asli-lah bang...!

Memang tidak ada keanehan apa-apa pada uang 200 puond tersebut. Karena mengejar waktu aku tak peduli lagi dengan omongan si laki-laki tersebut. Tanpa mujammalah (basa-basi) lagi aku langsung keluar dari warnet begitu saja. Selanjutnya kutuju sebuah kios kecil di depannya, pertanyaan yang sama aku lontarkan hasilnya nihil, tidak ada uang tukar sama sekali, kesal rasanya kalau seperti ini, sampai akhirnya langkahku terhenti di sebuah makatabah, kebetulan disana ada seorang Indonesia, di akhir cerita aku baru mengetahui kalau beliau bernama ustaz Akhyar, sekjen PPMI Mesir.

“Assalamu’alaikum, ustaz….” sapaku. “ada uang tukar gak” seraya memperlihatkan uang dua ratusan pada beliau, “oh gak ada, afwan...!”. Yakin 100 persen uang yang kumaksud tidak ada, langsung saja aku keluar dari maktabah tersebut. Tiba-tiba saja dari arah depan, muncul seseorang Mesir, “inta turid fakkah, shah...?" kamu mau uang tukar...? tanpa menunggu jawaban, tiba-tiba saja uang yang ada di tanganku langsung direbut oleh si laki-laki itu. Spontan rasa takut bercampur marah berkelabat di hatiku. “Ta’al hina, di madhrub...” katanya, “kesini kamu, uang ini palsu...” memaksa aku mengikutinya.

Aku sama sekali tidak sadar, kalau si laki-laki itu temannya si penjaga warnet tadi, sangat sulit memang mengenali wajah orang Arab. Aku sama sekali tidak tahu kalau ia juga membututiku dari belakang. Baru beberapa langkah kucoba menghentikan jalannya, mencoba untuk melepaskan gengaman tangan si laki-laki tersebut, karena semua ini tidak fear. “Istanna Ya amm, di fulusi, la yanfak keda…haram alaik, inta syarik...!”. Tunggu dulu, ini uangku, gak boleh kau sembarangan gini, haram...!, kau pencuri...! Teriakku mulai marah. Tanpa disangka-sangka sebuah bogem melayang ke daguku, tidak sakit sih, ha.ha.. Dari situ aku semakin takut, astagh firullah hal adhim. Tidak ada lagi daya dan upaya, la haula walaa quwwata illa billah. Sempat kulirik kearah kiri dan kanan, tidak ada seorang Indonesiapun yang lewat.

Huh… Hingga tiba ke warung Internet sana, aku semakin dongkol bercampur takut dan muncul perasaan ngeri teringat bagaimana penyiksaan yang dilakukan kepada mahasiswa Padang beberapa waktu lalu. Sudah menjadi rahasia umum bagaimana dasyatnya penyiksaan demi penyiksaan yang dilakukan militer Mesir. Aku hampir saja menangis dan tidak percaya, it real…! Aku tidak percaya kalau yang didepanku ini benar-benar seorang mabahis atau intel, intel bodrek atau bukan yang jelas perangainya seperti itu.

Keaadan semakin menegangkan ketika sampai di warung internet. pintu masuk sedikit ditutup, aku di paksa duduk, siap untuk di intograsi, pun tak ada seorang indonesia disana, sungguh ngeri situasi seperti ini…”igglis hina” di madhrub...” duduk disini kau, ini uang palsu..., kalau kau macam-macam kau bisa berhadapan dengan hukum dan masuk penjara...” ancam si laki-laki bodrek itu. Lidahku kelu tak keluar sepatah katapun. Hanya satu kata yang teringat, “di salim ya ‘amm...!”, ini mah asli...! (kebenaran tetap kebenaran, ha..ha…)

Karena melihat tidak ada perkembangan sama sekali, si laki-laki tadi melirik si penjaga warnet, disuruh untuk mengambil sebuah koper yang disimpan rapi di bawah meja, nampaknya itu milik sang laki-laki itu. ”iftah…”ketakutanku semakin memuncak, manakala yang keluar dari koper adalah sebuah pistol! Entah pistol mainan atau tidak, tapi ini adalah teror yang terbesar yang aku temui selama hidup diMesir, tidak di Aceh, konflik antara TNI dan GAM dulu tidak lagi menyimpan bekas teror sama sekali bagiku, tidak…!

Pistol yang ada ditangannya dikokang jelas didepanku, sambil bertanya paksa ”dari mana uang ini kau dapat...? Aku menjawab sejujur-jujurnya dengan bahasa Arab pasaran yang pas-pasan. Pertanyaan berlanjut ke paspor, ia menyuruhku untuk keluar mengambil paspor. Bayang-bayang kemenangan telah hadir didepanku, karena memang momen ini yang paling kutunggu, keluar dari warung syetan itu!

Kasus ini harus di proses, tidak boleh dibiarkan begini, ingin sekali aku melapor semuanya ke perwakilan KBRI depan jalan. Langkah kupercepat, tapi di tengah jalan, aku kembali bertemu dengan ustaz yang telah ku ceritakan tadi, langsung saja segalanya kulapor kepada beliau dengan tersendat-sendat seperti kehabian kata. “ah gak apa-apa, ayo kita kesana...” katanya lembut, hati ku sedikit lega bercampur senang, semoga saja lancar! Batinku. Dengan langkah cepat kami langsung saja menyambar warung internet tadi, rasa takut akibat ancaman tadi masih membekas, jadi posisi belum aman, pikirku sadar. (Bersambung)

Posting Komentar

0 Komentar