Pengikut

Pengikut

Advertisement

Teror dari sebuah Pistol di Negeri Piramid, Memori Selasa Pagi (Part 2 Habis)

“Hadza haqquhu, anta la yajuz kadzalik, anta syarik…! serang ustaz Akhyar pada laki-laki "intel".

Dengan langkah cepat kami menuju warung internet di persimpangan Gamik. “Assalamua’laikum…”sapa ustaz Akhyar sopan pada si laki-laki ‘intel dan penjaga warnet, sambil menyalami mereka berdua. “Wa’alaikum salam warahmatullah…”jawabnya, kemudian ustaz Akhyar menanyakan perihal uang 200 pound yang diambilnya, lantas si laki-laki (untuk sementara kita anggap sebagai mabahis/intel) merongoh sakunya, dan menggengam uang 200 pound sambil bediri dari tempat duduk, "di madhrub…” katanya. “lau samah, hena ana syuf…”pinta ustaz Akhyar, “laak…dhi madhrub…!” kata si laki-laki berbadan tegap itu, diulanginya kata-kata madhrub sampai 4 kali.

“Aiyuha…ana ‘arif, hena ana syuf…” iya saya tahu, sini saya lihat, pinta ustaz Akhyar lagi. “lihat…lihat ini…” kata si laki-laki itu sambil memperlihatkan uang 200 pound di genggamannya tanpa mau memberikan uang tersebut pada ustaz Akhyar. “haza haqquhu ya ‘aam, enta syarik, la yajuz kazalik…!” Ustaz Akhyar mencoba membela diri. Tapi si laki-laki itu tetap dengan kata-katanya tadi, “dhi madhrub...” agak sedkit keras dari tadi. Suasana sangat mencekam.

Tanpa pikir panjang, si laki-laki tadi melirik penjaga warnet yang sedari tadi hanya diam, tanpa berkata-kata apa-apa. Ia menyuruh untuk mengambil kopernya yang tersimpan rapi. Sudah bisa di tebak apa tujuan “intel” ini, mengambil pistol untuk meneror kami. Hingga akhirnya pistolpun keluar dari koper, dan diletakkan diatas meja. Aku sendiri sedari tadi sudah berdiri di depan pintu. Ustaz Akhyar sedikit menyingkir keluar, diam tanpa berkata apa-apa lagi. Si laki-laki tadi mengikuti kami, “sudah ku bilang uang ini palsu, kalau gak percaya, akan aku cek ke Bank, ba’da suwaiya, sebentar lagi...” katanya mulai berlaku lembut. Satu jam lagi kamu ke sini …”pinta si “intel” padaku.

Sepertinya untuk satu jam kedepan ana tidak bisa keluar lagi, karena kami ada acara di KMA, aduku pada ustaz Akhyar sedkit berdiplomasi. “gak apa-apa…coba aja jumpai dia satu jam lagi, insya Allah khair..”kata ustaz Akhyar. Laki-laki yang berperangai intel tadi memberi nomor hpnya dan meminta no hp ku. Ustaz Akhyar meminta maaf pada si laki-laki ‘intel” “ana asif...” sambil bersalaman, ia juga menyalamiku, menanyakan nama dalam bahasa Indonesia, kami juga bersalaman.

Entah pikirannya sudah mulai melunak, tiba-tiba ia menyerahkan uang itu ke ustaz Akhyar untuk dilihat keasliannya. "Ambillah…, gini aja uang ini aku serahkan kembali ke adik ini, biar dia yang mengecek sendiri ke Bank kapan-kapan, apapun keputusannya kasih tau ke saya..” kata si “intel” mulai melunak. “Saya pecaya, Allah Yusyhahid…” katanya lebih melunak. Tapi uang ini memang palsu wallahi, lihatlah ini, seraya memperlihatkan kekasaran kertasnya…” katanya lagi tetap dengan pendirian. “oke...oke…” kata ustaz Akhyar, kami kembali bersalaman, dan pamit.

Dalam perjalanan pulang, aku bertanya sama ustaz akhyar, gimana menurut ustaz, apa si laki-laki itu intel atau bukan…?” “masih 50-50…”kata ustaz Akhyar. Setelah mengucapkan terima kasih dan bertukar nomor hp, aku langsung menuju sekretariat KMA. Untuk sementara uang 200 pound ini harus diamankan dulu. Setibanya di sekretariat, segala kejadian dari A sampai Z kuceritakan kepada beberapa senior, sambil memperlihatkan uang 200 pound yang di vonis palsu. Ada yang bilang palsu dan ada yang asli. Mereka semua menyarankan untuk mengecek ke bank saja.

Puji syukur pada Illahi Rabbi acara LPJ pengurus KMA dan elasyi Award berjalan lancar, malamnya aku pulang ke Qattamea via bus 69. cukup dengan 1 pound mesir untuk sampai ke sana. Aku langsung tertidur,karena lelah yang begitu mendera. Esoknya rabu, tanggal 28 pagi-pagi ku bawa kaki ini menuju salah satu bank di Qattamea, agar semua urusan menjadi clear, tidak terikat lagi oleh bayang-bayang laki-laki "intel" di warnet.

Dengan sangat berhati-hati, sedikit bercerita tentang kejadian kemarin yang menimpaku, biar tidak terjadi mis komunikasi dengan petugas bank, ho..ho… Seraya memperlihatkan uang 200 pound itu kepada petugas, setelah diamati, petugas bank mengatakan bahwa uang ini asli! untuk mentaukidkan lagi alias menguatkan, kembali, lagi-lagi aku menanyakan keaslian uang 200 poun tersebut. Si bapak menjawab lagi, ini asli terjamin, ini bank lho…”katanya.

Hatiku sedikit lega, segera kuberikan hp ke pada si bapak untuk berbicara dengan laki-laki "intel" tadi, agar ia yakin bahwa uang ini sudah dicek keasliaanya, dan akan lebih yakin kalau yang berbicara petugas bank sendiri, karena jujur aku sedikit malas berbicara lagi dengan si laki-laki ‘intel’i. Hati ini semakin lega setelah petugas bank mengatakan bahwa uang kemarin itu asli, oke…oke…” begitu yang kutangkap dari suara di seberang sana.

Tak lupa mengucapkan terima kasih ke petugas bank, aku keluar dan menelpon ustaz Akhyar, melaporkan perkembangan terkini, kembali rasa terima kasih ku ucapkan kepada beliau, “jazakumullah…!” “ semoga menjadi pengalaman ke depan” kata ustaz Akhyar, “ sampai jumpa kembali di sekretariat PPMI…”,lanjutnya. Insya Allah, syukran...wasalam…” klik.

Lama aku merenung tentang kejadian kemarin, terlepas si laki-laki intel atau bukan, kucoba memutar memori segar itu kembali, sepertinya tingkah si laki-laki “intel” memperlihatkan pistol hanya untuk mengerjai dan memberi pelajaran kepadaku, buktinya uang 200 pound tidak jadi diambil lagi. Karena ku sadari juga seperti yang telah diceritakan pada part 1, bahwa aku pergi begitu saja tanpa mengindahkan omongannya lagi, ‘dhi salim aw madhrub…?” Itu karena waktu yang begitu mendesak, tanpa kusadari ia membututiku dari belakang. Sempurna!

Pun tidak penting, karena uang 200 pound sendiri ada dua jenis, satu berukuran besar satu lagi yang baru berukuran kecil tapi agak sedikit pudar warnanya dari uang biasa, dan yang kecil berada di tanganku, mungkin saja karena hal itu juga, ia berani memvonis uang tersebut palsu apalagi warnanya sedikit pudar. Terjawab sudah pertanyaan khusus dari Tgk Muhammad Riza,Tgk hijrah, dan Tgk Mukhlis beserta syedara-syedara lain.

Kemarin dan hari ini memori segar ini kembali kuingat dan ku tumpahkan dalam bentuk tulisan ini, hanya untuk menghibur diriku, hitung-hitung belajar menulis bergaya fiksi, meskipun ini adalah kisah nyata. Moga-moga menjadi pelajaran dan pengalaman bagi bagi diriku dan siapa saja yang membacanya. Terlepas bagaimana para syedara melihat kasus ini, silahkan syedara menganalis sendiri.

Apapun cerita, kini masalahnya sudah clear. Semoga Allah selalu melindungi dan menjauhkan diri kita dari segala bala dan mara bahaya. Allahumma dengan rahmatMu dan kasih sayangMu jauhkan kami dari bencana perang, bencana senjata yang memusnahkan, bencana segala macam penyakit dan kesusahan ! Allahumma ya Allah hindarkan kami dari bala dunia dan azab akhirat...! Mengakhiri tulisan ini, sepertinya pesan bang napi cocok juga untuk diingat “kejahatan bisa terjadi dimana-dimana, tidak hanya karena niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah-waspadalah-waspadalah…!
Trimeng geunaseh…:)

Posting Komentar

0 Komentar