Pengikut

Pengikut

Advertisement

Enaknya Boh Drien Tangse

Pagi itu cuaca di tanah Pedir begitu cerah, awan diatas sana masih menunjukkan senyumnya, seakan tak mau pecah menurunkan hujan. Kami ikut tersenyum penuh syukur pada sang pencipta karena rencana menapakkan kaki ke tanah Tangse akan segera terwujud. Entahlah seandainya hujan menampakkan diri, ekpedisi ke Tangse bakalan tertunda mengingat medan yang dituju adalah alam pengunungan penuh liku. Guyuran hujan biasanya menjadikan  jalan semakin licin dilewati, akibatnya lintas Tangse-Geumpang  rawan kecelakaan. 

Bayangan matahari semakin meninggi manakala Super jhon kami mulai melintasi jalan Lamlo. Tampak beberapa warga  berjalan tergesa-gesa menuju tempat kerjanya yang paling sunyi di sawah sana. Beberapa pemuda kampung tampak asyik bersenda gurau di sebuah ploko tua dekat meunasah. Mereka adalah pemuda kampung yang mencoba peruntungannya di kota kabupaten atau di ibukota provinsi, mungkin sisa cuti masih tersisa beberapa hari lagi pasca lebaran.

Tanpa malu-malu Super Jhon kami terus benyanyi perlahan melewati kampung demi kampung. Betapa kami sangat percaya diri dengan kesehatan Super Jhon ini, setelah seorang tukang bengkel  berhasil menservisnya di sebuah sudut kota Lamlo. Di tengah jalan, kami melihat beberapa sepeda motor berkonvoi malaju kencang berlawanan dengan arah kami, Kelihatannya rombongan itu membawa serta durian-durian masak. Tak ragu lagi, kalau mereka baru saja pulang dari Tangse dalam serangkaian ekspedisi ala anak muda. 

Betapa pasca melirik durian demi durian yang diboyong itu, kesabaran untuk melahap boh drien sudah begitu menggelora. Akhirnya kamipun menjelma menjadi sosok penuh semangat  memacu Super Jhon lebih kencang. Bahkan saking kencangnya, kami tak peduli dengan penyakit batuk  klasik  Super Jhon yang kerap kambuh di tengah jalan. Kami tak peduli lagi dengan suara klekson di belakang yang sangat menganggu telinga.  

Suara-suara klekson tersebut berasal dari mobil-mobil mewah milik pejabat di kota sana, mungkin juga mereka ingin mengecap nikmatnya rasa durian di tanah Tangse. Ada juga suara klekson di belakang kami yang berasal dari keretanya mugè-mugè eungköt. Mereka biasanya mengangkut ikan segar dari kota Beureuneun untuk dijualnya kepada penduduk  Tangse. Kelihatannya mereka sangat tergesa, kamipun bermurah hati memberi jalan agar sang mugè mudah mencari rezeki, menafkahi anak istri. 

Tak terasa jalan terus menaik, sedikit berbelok, kadang menikung tajam. Kalau tak hati-hati ke juranglah tempat beristirahat. Udara dingin mulai terasa, apalagi hari masih terbilang pagi. Dingin tetap saja dingin walaupun  masih kalah dengan dinginnya Kota Takengon bahkan masih hebat lagi dinginnya negeri seribu menara nun jauh disana. Konon dinginnya negeri seribu menara sanggup membuat jaket yang kita kenakan  robek sekalipun!

Mata kami terus melirik ke alam sekitar, ada sungai yang mengalir tenang  di ujung sana, sedang  disekelilingnya adalah hutan yang ditakdirkan hadir untuk menemani gemercik air sungai Tangse. Sesaat kemudian, kami mulai menyadari akan penyakit klasik Super Jhon yang kembali kambuh. Namun alhamdulillāh penyakit itu tidaklah sampai membuat tangan kami hitam legam menservisnya kembali layaknya kerja si tukang bengkel itu. Super Jhon  seolah hanya menggertak  kami agar terus membimbingnya bernyanyi di hutan legam Tangse, agar kami tak lama-lama terbuai dengan keelokan alam sekitar. Betapa Super Jhon sangat bijaksana, dan kamipun sangat mengerti akan perasaannya!

Kami singgah di Blang Dhöt kala matahari semakin bersinar cerah. Blang Dhöt adalah sebuah kampung di kecamatan Tangse, jaraknya dengan kota kecamatan hanya hanya sekitar 3 kilo meter lagi. Blang Dhöt masih sangat alami, ada satu buah sekolah dasar tegak dengan gagahnya disana mendidik putra-putri Tangse dengan segala jenis disiplin ilmu. Tak jauh dari sekolah, sebuah warung kopi tradisional berdiri gagah. Beberapa orang tua tampak sedang menikmati kopi di warung itu.  Kami segera mencari kursi kosong, memesan dua cangkir kopi hangat.

Kopi Tangse memang terbukti enak, kami jadi berpikir kalau suatu saat kelak kopi ini bisa diekspor oleh orang kita sendiri ke eropa sana, kopi van Tangse! Namun betapa kecewanya kami setelah mengawasi ke sekeliling pohon durian dan mengintai ke atas pohon, ternyata  boh drien masih belum masak dan masih kecil benar. Seorang diatara kami menggerutu sekanannya. 

Kami geleng-geleng kepala, tampaknya Super Jhon tertawa terbahak-bahak melihat kekalahan kami. Segera pula kami pacu Super Jhon membawa beribu kecewa ke kampung Bungga, mundur lagi ke belakang sekitar 5 kilo meter dari kota Tangse. Sumber dari warga mengatakan bahwa Bungga minggu ini sedang demam boh drien, sedang wilayah Blang Dhöt mungkin sekitar tiga minggu lagi. Kami baru tahu juga bahwa dalam hal pengelolaan boh drien kampung Bungga sedikit maju ketimbang dengan kampung-kampung lainnya di wilayah Tangse.

Senyum mulai mengembang lagi, karena kami yakin kampung Bungga masih banyak menyimpan boh drien-boh drien segar nan lezat untuk kami. Kebaikan Bungga dibuktikan dengan berjejalnya boh drien itu kala Super Jhon kami memasuki wilayah itu.  Kami benar-benar mencoba rasanya, betapa enak dan sangat berisi. Bolehlah kami ambil beberapa untuk kami bawa pulang ke kampung Mali sana. Ah dari jauh sana Super Jhon kami seakan berteriak-teriak  ingin juga merasakan enaknya boh drien Tangse seperti tuannya!

Posting Komentar

0 Komentar