Pengikut

Pengikut

Advertisement

Film Pengkhianatan

Pernyataan terbuka Kapolda Aceh Irjen. Pol Drs. Iskandar Hasan. SH. MH  ikut memberi sinyal akan krisis internal dalam tubuh penegak hukum di Aceh (SI 28/2/2011) Dimana sebagian anggota polisi menyimpan  “saham” dalam kasus-kasus seperti illegal loging, narkoba dan perjudian. Sehingga menyulitkan pihak yang masih “lurus” untuk menyelediki tuntas sederet kasus kriminal dimaksud.

Kasus kriminal yang melibatkan kepolisian tersebut sering kali muncul dalam dunia perfilman. Kemunculan film berjudul pengkhianatan itu diawali dari berbagai kisah nyata  di belahan dunia. Pelanggaran HAM di Kashmir adalah  sebagian kisah nyata lain yang diangkat. Kisah-kisah nyata tersebut tentu saja sangat menginspirasi perusahaan film setingkat Hollywood untuk mengejewatahkannya dalam dunia peran.

Street King adalah salah satu contohnya, sebuah film yang di sutradarai oleh David Ayer ini mengisahkan drama pengkhianatan polisi. Street King menceritakan sosok Tom Ludlow seorang tokoh detektif yang ditugaskan untuk membasmi para pengkhianat, dalam perjalanannya ia berhasil melakukan tugas secara profesional. Hal ini sangat membanggakan kapten Jack Wander selaku kepala, promosi jabatan sebagai komandan menjadi peluang emas baginya. 

Belajar dari Street King diatas. maka orang-orang semisal Tom Ludlow sangat dibutuhkan untuk membasmi pengkhianatan, bedanya Tom Ludlow di Hollywood hanya mengandalkan kekuatan dirinya sendiri, hingga sangat banyak waktu yang ia habiskan untuk mengakhiri sebuah kasus. Sedang Tom Ludlow yang akan diterjunkan di Aceh mesti bersinergi dengan masyarakat sekitar. Kita akan melihat kembali kinerja pelayan rakyat dalam masalah ini, tentang trik macam apa yang akan digunakan. Boleh jadi seperti trik dalam film The Departed, dimana seorang kapten polisi yang bernama Quenan menyusupkan anak buahnya bernama Billy Costigan kedalam gang kejahatan. Tapi  asumsi lain menyatakan bahwa pelaku pengkhianatan di Aceh sudah cukup lihai mempelajari trik seperti ini.

Merunut  sejarah lama, film-film bertema pengkianatan bukanlah barang baru yang diadopsi. Semenjak  dulu tokoh-tokoh pengkhianat telah menunjukan bakatnya, Abdullah bin Ubay adalah  satu  aktor pengkhianat pada zaman nabi. Indonesia sendiri sejak zaman dulu telah banyak melahirkan aktor-aktor pengkhianat berbakat, sebagiannya adalah warisan penjajah Belanda. Dalam hal ini tokoh semacam Soekarno wajib ditulis, berikut  mereka-mereka yang mempunyai kesamaan watak dengan sang fouding father itu. 

Dalam ranah Aceh, Sederetan nama-nama aktor pengkianat dari luar maupun dalam ikut tercetak manis. Nama Haji Abdul Ghaffr alias Christiaan Snouck Hugronje tak boleh tidak untuk disebutkan. Habib Abdurahman Az-Zahir, juga aktor ulung asal Arab yang ikut mewarnai sejarah Aceh tempo dulu (Harry Kawilarang, 2010) 

Belum lagi hajatan pilkada di Aceh terlaksana, film-film bertema pengkhianatan mulai menunjukkan peran manisnya. Konflik internal partai Aceh adalah salah satu contoh terupdate, selain menjurus kepada pembunuhan karakter (HA 7/2/2011), konflik ini juga telah mengakibatkan perubahan paragdima dan memutuskan harapan masyarakat. ( Politik Resistensi, AI 17/2/2011 ) Begitu juga dengan ketidakjelasan sisa dana tsunami sebesar 5 triliun (SI 4/3 2011) akan menjadi ancang-ancang film pengkhianatan terbaru yang diperan oleh pihak berkompeten.

Semua pihak mesti sadar untuk merubah sikap, kembali melakukan intropeksi menyeluruh terhadap kesalahan-kesalahan yang diperbuat, bukan malah memancing suasana  untuk mencetak film pengkhianatan lain. Apa lagi suasana menjelang pilkada di Aceh sangat berpeluang lahirnya film pengkhianatan baru. Akhirnya mari sama-sama menjunjung tinggi profesionalitas berakhlak dan  bekerja sesuai apa yang diajarkan dalam agama. Karena islam datang sebagai agama amanah, Allah Swt berfirman dalam Al-Quran, surah Al-Anfal 27 “Hai orang-orang beriman, janganlahkamu mengkhiananti Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.

Posting Komentar

0 Komentar