Pengikut

Pengikut

Advertisement

Mau Kemana Generasi Jeumala?

Sebagai sebuah dayah yang mengemban nilai-nilai mua’asrah (kemoderenan), Jeumala dituntut untuk bisa tampil dan selalu mempertahan kekakhasannya sebagaimana yang telah diwariskan oleh indatu-indatu terdahulu. Nilai tersebut meliputi apa yang diusung  Jeumala sendiri, yaitu, iman, amal, ikhlas dan ihsan. Keempat unsur ini perlu kembali kita tanamkan kepada siapa saja yang merasa generasi Jeumala.

Generasi Jeumala sebagai pemuda yang mempunyai peran agent of change dituntut untuk senantiasa menjaga nilai-nilai tersebut. Karena kita perlu menyadari kembali bahwa generasi Jeumala adalah bagian dari mereka yang berkewajiban mempersiapkan diri untuk mengemban amanah besar agama dan bangsa. 

Selanjutnya tulisan ini taklah bermaksud jumawa, juga tak bermaksud menggurui. Penulis ingin menggunakan kesempatan mulia ini sebagai ajang  intropeksi generasi Jeumala yang dalam tulisan ini kita generalisasikan sebagai pemuda, untuk sama-sama mentajdid (memperbaharui) niat kembali. Apalagi ini adalah moment mulia bulan Ramadhan. Intropeksi ini penulis rasa wajib untuk dilakukan, karena seringkali kita lupa akan niat awal  sebagai thalabul ilmi dan status kita sebagai aneuek dayah.

Islam sendiri adalah agama yang menempatkan generasi-generasi mudanya pada tempat yang mulia memberikan kebebasan kepada pemuda untuk mengembangkan kreativitasnya, yang mana kreativitas itu akan berguna bagi islam  dan juga negaranya sendiri. Hal itu akan membawa pemuda benar-benar layak mendapat gelar sebagai agent of change

Maka sangat salah kaprah manakala kita yang masih berstatus pemuda berbalik menjauhi amanah ini. Pada kenyataanya seringkali sebagian pemuda kehilangan arahnya. Tamsilnya adalah kapas yang beterbangan tak tentu arah. Bahkan yang lebih tragis lagi, sang pemuda tersebut tak punya arah dan tujuan hidup yang jelas, ia membiarkan tubuhnya terbawa arus –arus yang salah. Hal ini selain merugikan ia sendiri juga merugikan umat.

Islam-pun sebagaimana yang disebut oleh Imam Al-Ghazali tak butuh kepada pemuda yang tak mau peduli terhadap nasib agama, pemuda yang tidak memiliki semangat juang untuk menolong agama Allah manakala agama ini sedang ditimpa suatu bencana. 

Menulis tentang kegigihan pemuda masa lalu adalah menulis bagaimana besarnya kejuhudan dan keuletan para pemuda pilihan Allah, Nabi Ibrahim misalnya adalah seorang pemuda yang gagah berani, beliau berani menentang raja Namrud bukan dengan kekuatan fisik, tapi dengan otak yang brilian. Begitu juga romansa dengan kisah Nabi Daud yang menentang raja Thalut.

Melihat lagi sepak terjang ulama-ulama dahulu, maka kita akan mendapati kegigihan seorang imam Syafi’i, imam Syaukani, imam Asnawi, Imam Baidhawi dan beribu ulama-ulama besar islam terdahulu. Kegigihan mereka dalam menunttu ilmu tak diragukan lagi, Sehingga lahirlah maha karya-maha karya dari para imam tersebut yang sampai sekarang karya-karya monumantal mereka masih saja dikaji, dikupas dan dibaca oleh mereka insan ilmu. 

Selain itu Hasan Al-Banna (pendiri Ikhwanul Muslimin) dalam kitabnya seringkali menekankan pentingnya peran pemuda, maka tak heran organisasi besar Ikhwanul Muslimin yang didirikannya sebagian besar berpengikut para pemuda yang alim dengan ilmu dan keras dalam berprinsip. Maka terkenal saat itu tokoh-tokoh seperti sayid Qutub, Yusuf al-Qardhawi dan lain sebagainya.

Tsaurah (revolusi) yang melanda beberapa negara Arab 6 bulan lalu juga didalangi atas aksi kesadaran pemuda untuk membebaskan bangsa dari rezim-rezim tirani. Salah satunya adalah apa yang terjadi di Mesir dimana para pemuda turun ke jalan berjuang meneriakkan kebebasan dari belenggu tirani.

Dalam wawasan keindonesiaan kita akan mengenal sepak terjang Agus Salim dan kawan segenarsinya yang gigih berjuang penuh saat mereka masih muda. Dan kita juga akan mendapati bagaimana keberhasilan sumpah pemuda yag mempertemukan semua tokoh-tokoh pemuda nusantara untuk menyatukan ide, sehingga terkenallah saat itu berbagai organisasi kepemudaan,

Begitu juga ketika melihat satu persatu pemuda-pemuda gagah berani yang dimiliki Aceh tempo dulu. Teuku Umar misalnya, begitu juga Tgk Syik di Tiro yang pada masa mudanya sagat uleh dan gigih dalam menuntut ilmu. Singkat kata menulis tentang pemuda masa dulu adalah menulis bagaimana kejuhudunan mereka dalam menuntut ilmu, kefaqihan mereka dalam menguasi ilmu, keuletan mereka dan keberanian mereka.  Hal yang justru sangat sulit kita jumpai pada pemuda pada masa kini.

Pada kenyataannya sebagian pemuda masa kini telah akrab denga apa yang disebut sebagai aksi premanisme, mereka terkena sebuah penyakit amnesia, penyakit lupa akan jati diri sebagai orang islam dan ureueng Aceh. Hari kita akan mendapat sebagai genarasi Aceh sudah terkulai dengan dunia semata. Jiwa meraka sangat gersang sehingga kemasiatan dengan mudahnya direproduksi, ganja, aksi kriminal adalah hal yang tak asing lagi. Karena yang demikian oitu sebagaimana kita tahu bersama adalah siasat Yhudi untuk menumbangkan akhlak generasi islamdengan perangkat 7 F yaitu, Food, film, fashion of life style,  free thin kess, financial, faith and frichtion,  freedom of treligion and frustasion. 

Untuk itu kita sangat berharap kepada generasi Jeumala khususnya untuk selalu mentajdid niat kembali, bermuhasabah (intropeksi) diri karena semangat kita terkadang luntur tanpa kita sadari. Perjuangan memang tidak ini tidak mudah, butuh beribu pengorbanan untuk mencicipi hasil yang maksimal.

Dengan bermuhasabah tersebut generasi jeumala tahu diri untuk apa mereka belajar, untuk apa menata’ati peraturan, untuk apa sahalat berjama’ah. Sehingga dengan bermuhasabah diri tersebut genarasi Jeumala tahu kemana arah yang akan dituju kelak. Dan arah yang jelas itu arah yang selalu memperjuangkan agama dan bangsanya, apalagi kita sebagai ureueng Aceh dimana semangat keacehan dengan keislamannya yang perlu segera dibenahi untuk kembali melahirkan kejayaan islam yang pernah bercokol di Aceh masa lalu. Pastinya semua itu adalah sebuah kesempatan besar bagi generasi Aceh sekarang untuk berbenah memperbaiki diri dan memperbaiki masyarakat.
Kita berharap semua generasi Jeumala benar-benar serius dan gigih melanjutkan studinya dalam berbagai disiplin ilmu. Dalam artian tidak cilet-cilet hanya untuk mengajar pekerjaan semata-mata. Sebagai generasi Jeumala, kita perlu kembali menguatkan apa yang disebut dengan dream, oppurtunity, reformasi action, energi, mapping, organizing dan network. Apatah lagi kita sebagai aneuek dayah, dimana semangat ber-tafaqquh fiddin perlu kita galakkan demi melanjutkan estafet para ulama.

Akhirnya mari kembali mewarisi ilmu-ilmu luhur yang telah ditinggalkan ulama dahulu, kembali menjadi pemuda penuh semangat. Menjadi generasi Jeumala yang punya cita-cita dan prinsip kokoh. Sudah saatnya kita melepas diri dari kejumudan ilmu yang membelenggu, sudah saatnya kita bangun dari tidur panjang untuk benar-benar menjadi manusia ilmu. Sehingga kita tahu apa yang harus kita perbuat untuk kejayaan agama dan bangsa. Sehingga kita tahu kemana arah melangkah untuk kehidupan yang lebih baik. Semoga!
*Makalah ini disajikan pada acara diskusi Ramadhan FOSKADJA tanggal 21 Agustus 2011 di Dayah Jeumala Amal



Posting Komentar

0 Komentar