Pengikut

Pengikut

Advertisement

Rohingya Dalam Sepi

Malam sudah pekat, angin dari laut Hindia berhembus dingin. Dua-tiga anjing tak henti-hentinya menggonggong, seakan malam hanya menjadi milik mereka. Sekawanan kucing pun begitu, berlari tak menentu arah, sinar matanya gagah. Tepat saat itu aku menjerit seperti karasukan saja. Huh... rezim buduk Nyanmar semakin menggila merampas hak-hak tanah airku.

Senyum sinis junta masih berkelibat dalam otakku ketika ayah diambil paksa dari rumah, malam itu ayah dan beberapa orang kampung dituduh terlibat melakukan gerakan bawah tanah. Sungguh itu alasan mereka saja, kebohongan dan ketakutan jelas nampak pada setiap percikan ludah dan senyum sinis junta. Sebenarnya mereka lebih layak disebut budak dan penjilat penguasa Nyanmar.

Hari-hari terus saja berlalu dalam setiap kebiadaban militer junta. Apa salah kami sebenarnya tuan? Kami tak melawan penguasa, kami tak pernah sedikitpun menganggu kedaulatan tubuh tuan di istana mewah sana. Ini kampung kami, tanah dan air kami. Tempat kami menyara hidup. Kenapa pula tuan menganggu kami, merusak tempat ibadah kami. Ataukah tuan tak lagi mempunya mata dan telinga. Atau masih layakkah tuan-tuan disebut manusia?

Aku masih ingat petuah ayah suatu sore bahwa harga diri masih kita pelihara, kita masih punya identitas sebagai muslim Rohingya “engkau ingat baik-baik Mujib, suatu masa dulu kita pernah memegang kendali di tanah ini. Kita memiliki banyak intelektual, kaum kita banyak yang duduk di posisi pemerintahan. Tapi itu sejarah, orang-orang iri lagi dengki telah menghapus sejarah besar Rohingya. Kita perlu melawan dengan cara kita sendiri...”

Pasca nasehat ayah, kaum kami semakin teraniaya dalam sepi. Memang ada perlawanan lemah dari orang-orang kampung. Contohnya Fatma, seorang gadis kampung Rohingya yang hampir bernasib naas. Suatu ketika Fatma mau diculik, tapi beruntunglah orang-orang kampung menyelamatkannya. Sebagian dari kawan-kawannya percaya bahwa Fatma selamat karena tuahnya sendiri. Ia wanita shalehah.

Artinya perjuangan kaumku hanya modal semangat saja yang mereka wariskan dari nenek moyang. Hingga akhirnya kaumku terpaksa meminta perlindungan dari negara-negara tetangga. Dengan harapan mereka mau membantu, menghapus air mata lara anak-anak Rohingya. Perlindungan macam apa? Kaumku melarikan diri dari tanah airnya.

Kaki-kaki mereka penuh luka tercabik duri. Pedih sekali, itu cara terakhir yang bisa kaumku lakukan. Menyara hidup di tanah Bangla dan Malaya dengan segenap cemas dan getar yang membara. Di laut sana kaumku tak ubahnya seperti manusia perahu yang kemudian tersesat terapung-apung kelaparan.Tapi aku percaya bahwa ada kehendak Tuhan disana.

Akhir-akhir ini pula kaumku juga sering terdampar di tanah Aceh. Syukur karena mereka mau menerima kaumku di pengungsian, walaupun kemudian kaumku diserahkan balik kepada lembaga kemanusiaan. Mereka berteriak bahwa kaumku hanyalah pengungsi ekonomi, yang rata-rata berperut buncit kelaparan. Parahnya rezim Nyanmar menolak untuk bertanggung jawab apa-apa setelah menganiaya Rohingya. Mereka menganggap kaumku sebagai budak, tapi rezim buduk itu dimata kami memang bukan lagi manusia.

Aku tegaskan lagi bahwa tak ada urusan dan bukan hak kami untuk kecewa kepada tanah Aceh. Toh mereka juga tak punya banyak wewenang lebih menolong kami. Walaupun ada diantara mereka sebenarnya yang sangat kecewa karena telah gagal memuliakan tamu. Tapi itu urusan mereka sendiri, apalagi sekarang bangsa itu sedang kalut-kalutnya bertengkar sesama saudara. Kabarnya sejarah mereka pernah seperti itu juga, asyik bertengkar demi harta dan pangkat.

Sebenarnya aku banyak belajar dari negeri tempat kaumku terdampar itu. Ada semangat masa lalu yang ingin aku ambil dari sana. Tak ada salahnya sebagai bangsa bernasib sial mengambil pelajaran dari bangsa yang dulunya pernah bernasib baik. Walaupun dari lima negara besar Islam masa lalu hanya Aceh yang sekarang bernasib sial, aku tahu itu dari mereka juga. Tapi tetap saja bangsa Rohingya lebih sial lagi, jeritan kami hari demi hari tak ada yang mendengar!
.......
“Mujib... lekaslah bergegas, besok hari kita berangkat ke Malaya...” Paman menghampiriku dalam sepi. “Aku tak mau menjadi manusia perahu terombang-ambing, paman...” Biarkan saja aku disini, bukankah mati sebagai martir di tanah air sendiri lebih baik. Aku tak mau pergi paman...!” Aku setengah berteriak. Bayangan Fatma tiba-tiba saja muncul, serasa kekuatannya merasuki tubuhku untuk kuat bertahan di tanah ini. Paman menggeleng kepala, aku yakin beliau mafhum dengan kata-kataku. Namun ia juga tak bisa berkata banyak. Anak dan istrinya telah lebih dulu berada disana.

Aku sempatkan sekali lagi meluahkan isi hati pada paman. Kataku “yang perlu kita lakukan sekarang adalah menyerukan keberadaan kita kepada bangsa-bangsa luar. Dunia harus tahu keberadaan kita yang terzalimi, paman...” “Ah sudahlah... kamu harus ikut besok, sebelum junta berbuat semena-mena di kemudian hari...” Paman bersikukuh. Keesokannya paman tetap tak berhasil meluluhkan hatiku, aku juga tak kuasa menahan kepergian paman. Lebih dari itu aku tak kuasa membendung air mata alamat berpisah.

Namun satu-satunya yang menguatkanku adalah bayangan Fatma. Mengapa ia? Karena hidup Fatma teramat getir dibandingku. Disaat kaumnya memilih terbang ke negeri-negeri merdeka, ia tetap memilih berada disini dengan segenap keberanian dan keyakinan. Prinsipnya kokoh manakala kaumnya merayu, mengajaknya terbang ke tanah-tanah merdeka. Tapi Rohingya baginya adalah sebuah pilihan. Di kampung ini hanya ada beberapa wanita yang sepaham dengannya, bersama mereka ia membangun kekuatan saban hari. Rohingya tersentak, mengangkat dua belah tangan tanda takzim pada mereka.

Dulu sekali, ayah dan abangnya sempat bergabung dalam Arakan Rohingya Islamic Front (ARIF) salah satu gerakan pembebasan Rohingya. Hingga akhirnya maut menjemput mereka dalam sebuah pertempuran. Kala itu Fatma tegar, tak menjerit. Sekali lagi Ingin kukatakan bahwa Fatma memang seorang gadis sederhana dan shalihah. Fatma benar-benar menyimpan kekuatan luar biasa bagi tanah airnya.

Ia pernah mengingatkanku bahwa Rohingya perlu belajar banyak dari muslim Palestina, muslim di Turkistan Timur, Muslim Moro di Piliphina. Lihatlah betapa tiap hari mereka dizalimi, namun mereka tetap berjuang karena mereka tahu diri siapa mereka. Amboi, aku merasa terpikat padanya. Apa Fatma merasakan hal yang sama, entahlah. Yang jelas kemerdekaan tanahku lebih utama dari segala-galanya.

Hidupku masih tetap sepi di tanah Rohingya, sesepi cintaku pada Fatma yang tak pernah kuutarakan. Aku harus berani berjuang demi dan untuk tanah ini, seperti kata ayahku dulu, “dengan cara kita sendiri”. Aku mafhum, bahwa air bernama ketakutan harus habis kuminum segera, sehingga yang tertinggal hanyalah keberanian semata. Yakni keberanian untuk berteriak bahwa tanah kami telah dirampas oleh rezim biadab. Satu lagi, keberanian untuk mengutarakan cintaku kepada Fatma!
Buletin el-Asyi edisi 113

Posting Komentar

0 Komentar