Pengikut

Pengikut

Advertisement

Sejarah Bengkel Tulis Jeumala


Sebelumnya kami memohon maaf karena telah lancang melangkahi senior-senor kami sendiri. Kami merasa kalau merekalah yang lebih berhak sebenarnya menulis tentang ini. Tapi di suatu hari, penghujung tahun 2010 sebuah pesan singkat masuk. Adik kami sekaligus guru kami, Adhia Rizki Ananda meminta sebuah tulisan tentang sejarah lahirnya bengkel tulis. 

Pada posisi ini kami bukanlah siapa-siapa, tetapi setelah melihat semangat luar biasa dari adik-adik kami dalam menulis, kami merasa terpicu dan tergerak untuk segera menyelesaikan tulisan tersebut. Walaupun sedikit terlambat, karena persiapan ujian musim dingin di Al-Azhar yang harus kami ikuti. 

Tak lupa pada kesempatan ini, kami memohon do’a dari para ustaz, abang-abang dan juga kepada adik-adik semua, semoga tahun ini bisa memperoleh nilai yang lebih bagus dari tahun kemarin dan semoga Allah mempermudah disetiap urusan kita, amin.

Bengkel Tulis Jeumala menurut hemat kami merupakan bagian terpenting dari unit pengembangan bakat yang ada di Jeumala. Penanggung jawab waktu itu adalah ustaz kita Mahmud Eko. Kami rasa sebelum terbentuknya bengkel tulis Jeumala, kegiatan menulis telah lama dimainkan oleh para pendahulu kami, baik lewat penulisan cerpen maupun artikel. Hanya saja masa itu belum ada sebuah komunitas seformal bengkel tulis. 

Ala kulli hal, kami menyambut gembira dengan lahirnya bengkel tulis tersebut. Betapa tidak, dengan adanya bengkel tulis kita memudahkan kita bersharing ide dengan pembimbing maupun dengan sesama komunitas bengkel. Begitu juga kita bisa berhubungan lebih akrab dengan komunitas penulis senior yang diwakili oleh FLP dan LAPENA.

Pertemuan Pertama
Bangunan itu terlihat anggun dipandang, dengan berselimut rumbia, membuatnya selalu nyaman disiang hari. Letaknya yang strategis menjadikan setiap penghuni bisa betah berlama-lama. Sedang disampingnya ada pohon kelapa melambai-lambai kepada setiap tetamu dayah Jeumala Amal. 

Seperti nama yang dilaqabkan kepadanya, ‘meusaneuet” bale ini memang benar-benar meusaneuet.  Disinilah para personil kepunulisan dayah Jeumala Amal tempatnya bengkel tulis berkumpul untuk kali pertama. Sebuah komunitas yang didirikan atas ide  para ustaz dan juga ustazah Oly Novedi Santi, guru sekaligus karyawan pada kantor keuangan dayah Jeu ala Amal masa itu.

Dengan penuh semangat beliau membimbing generasi pertama, tepatnya pada tahun 2006 sebelum pelantikan OSMID berlangsung. Hemat kami setiap malam Sabtu adalah jadwal berkumpul rutin. Waktu itu para anggota terus saja bertambah disetiap pekan, sebagian besar didominasi oleh kalangan perempuan. Manariknya laki-laki  cuma berjumlah 3 orang saja. 

Kami sempat membuat rapat mengenai kinerja masing-masing bagian, tentunya dalam lingkup kecil sesama komunitas bengkel. Satu program besar yang berhasil kami jalankan waktu itu adalah perlombaan baca puisi dan cerpen, pesertanya seluruh murid dayah Jeumala Amal. Keberhasilan acara tersebut tak terlepas dari kerja sama masing-masing partner dan peran besar dari ustazah Oly sebagai pembimbing, sekaligus dewan juri.

Kegiatan rutin lainnya yang kami lakukan adalah melakukan bedah cerpen dan puisi bersama-sama. Dimana setiap anggota wajib membuat sebuah karya, entah itu cerpen atau puisi. Dalam hal ini peran besar ustaz Eko dan ustaz Hanafiah juga tak boleh dinafikan. Ditengah berjalannya kegiatan komunitas bengkel, kami mendapat kabar kalau ustazah Oly akan segera meninggalkan dayah, disebabkan oleh satu dan lain hal. 

Terus terang kami sangat merasa kehilangan.  Banyak pengalaman, kesan dan pelajaran baru yang kami dapatkan dari ustazah Oly dalam mewarnai kiprah bengkel tulis Jeumala. Bersama ustazah pula, kami juga sempat mengikuti latihan kepenulisan yang dilaksanakan oleh FLP cabang Sigli. 

Setelah kepergian ustazah Oly, perjuangan bengkel tulis berada dibawah kendali ustaz Eko dan ustaz Hanafiah, kegiatan masih seperti biasa waktu itu. Hingga datang ustazah Ela dari Jakarta, yang dulunya pernah kuliah di Mesir. Kedatangan beliau menambah semarak komunitas bengkel tulis ini. waktu itu anggota tak lagi dari murid kelas VI, tapi telah menjalar pada murid kelas V sampai kelas VI.

Malah mereka  lebih aktif dari pada kami. Secara perlahan kami  meninggalkan arena bengkel, disebabkan kondisi yang menuntut kami untuk berkosentrasi pada UAN yang semakin dekat menghitung hari. Mereka para adik-adik setelah kami terus melanjutkan perjuangan itu, hingga bertambah ramai dan semakin berkembang, sampai kami meninggalkan Jeumala pertengahan 2007.

Ala kulli hal, kami bangga kepada adik-adik kami yang dengan penuh semangat melanjutkan perjuangan tersebut. Mereka telah berhasil mengembangkannya lebih maju dari kami dahulu. Anggotapun semakin banyak dengan berbagai macam agenda kepenulisan didalamnya. 

Ucapan terima kasih kami yang sebesar-besarnya kepada ustazah Oly, kepada ustaz Eko, ustaz Hanafiah juga kepada semua ustaz dan ustazah beserta kawan-kawan seperjuangan juga adik-adik semua yang turut serta membimbing kami, menyemangati kami, menjadikan kami untuk bisa menulis. Alfu syukrin wa jazakumullah. Tanpa mereka mungkin  kami bukanlah siapa-siapa dan tanpa mereka juga tulisan ini takkan pernah jadi. Semoga tuhan selalu melindungi guru-guru kami. 

Akhirnya bengkel tulis Jeumala adalah aset terbesar yang dimiliki oleh murid Jeumala untuk selamanya. Kami berharap agar adik-adik kami di dayah bisa terus melejitkan  karya-karyanya. Sehingga akan lahir penulis-penulis handal dari lumbung bengkel tulis Jeumala, yang mampu menjadikan tulisannya sebagai dakwah bil kalam dan ikut serta   mewarnai tanah Aceh nantinya. 

Kami yakin akan hal itu, kami yakin adik-adik kami nantinya akan bisa melahirkan tulisan dalam wujud novel seperti guru kami Adhia Rizki Ananda. Bisa melahirkan banyak artikel, juga puisi-puisi yang siap menghiasi lembar media di Aceh maupun tingkat nasional, sehingga kami yang bodoh ini bisa belajar kembali dari mereka adik-adik kami para penulis. Keep Writing…!

Posting Komentar

2 Komentar

Unknown mengatakan…
Mantap!
Sukses selalu bg..
Unknown mengatakan…
bagus ustad... sedikit saran.. mungkin bisa di pasang post comment facebook di blognya ustad, agar mudah untuk menanggapi atau bertanya.. syukran ustad..