Pengikut

Pengikut

Advertisement

Singgah Sebentar di Darussalam


Selamat datang di negeri Darussalam, dalam diam aku memekik sore itu. Hujan deras baru saja berhenti di Kopelma. Meninggalkan gerimis kecil membasahi tubuh-tubuh para pencari ilmu di dua kampus jantong hate rakyat Aceh. Sudah 6 bulan aku berstatus mahasiswa. Sebuah status yang sangat ma’ruf  lagi istimewa, begitu pak Thalib menjelaskannya di mesjid Fathun Qarib.

Negeri Darussalam memang telah basah disiram hujan awal tahun. Tapi aku tak begitu peduli, ku ambil baju jaket pemberian abua Him. Malam ini aku harus menuju jalan Inong Bale, warnet di simpang jalan  telah menjadi langgananku saban hari. Karena ada  Ada tulisan yang harus kukirim ke media.  

Sudah 5 menit aku menghidupkan kereta bututku, tapi tak kunjung berhasil. Itu adalah kereta peninggalan almarhum orang tuaku yang meninggal 6 tahun lalu, tepatnya ketika tsunami mengobrak-abrik kawasan pantai Lueng Putu, kampung tercinta. Kedai bakso ayah hancur bagai dimamah mangsa, begitu juga rumah kami, lenyap begitu saja. Beruntung disaat tsunami menghantam aku lagi berada di lampoh Keumala membawa  serta kereta butut. Akhirnya diriku harus  tegar, walau perih dan sedih sudah pasti  mambayang di muka.  

Semenjak itu aku tinggal bersama abua Him di kampung Lameulo, sebuah kampung tempat berkecamuknya perang Cumbok, juga tempat almarhum wali singgah 2 tahun lalu. Dengan sepeda butut ini, aku juga sempat mengikuti rombongan wali ke Blang Keumot, pedalaman Lameulo. Sama seperti meraka, aku adalah salah seorang pengagum Doktor hukum internasional itu.  Makanya bagiku kereta ini sangat berharga.

Uhhh… kereta ini sepertinya tak mau bekerja sama malam ini. Mungkin sedikit bermasalah dengan mesin, maklum saja karena uangku pas-pasan, Jarang sekali aku membawanya untuk  diservis. Tak seperti temanku si Rais yang tinggal di komplek Ulee Kareng,  tiap bulan ia selalu ke bengkel menservis kereta.

Aku memutuskan untuk berjalan kaki, tak seberapa jauh. Sering pula aku bertanya pada diri, kenapa para mahasiswa yang tinggal di Darussalam tetap memilih bersepeda motor menuju kampus. Hanya mereka yang tak punya kereta saja memilih berjalan kaki, itupun karena tidak ada pilihan lain. Sudah jelas kalau berjalan kaki sangat baik untuk kesehatan, apalagi disaat pagi menyambut. Sayang mereka hanya pandai berteori tapi lupa dengan praktek. Padahal ini adalah pelajaran  SD kelas 3. 

Sebagai mahasiswa, patutkah mereka merasa malu? Malu karena kurangnya aplikasi ilmu, malu telah membuat polusi udara. Kalau begitu aku juga termasuk dalam golongan itu, dan tak pantas pula aku disebut mahasiswa, uh…!
Aku terus berjalan menyusuri lorong-lorong Darussalam, melewati gedung pasca yang berwarna di siang hari. Sesekali menghindari percikan air dari mobil mewah yang lewat. Tak tahu pasti milik siapa mobil itu, milik dosenkah atau milik para pejabat. Suatu hari pernah seorang tua yang kebetulan lewat berujar “nyan ban nye ka jeuet keu eureueng rayek, that embong, ek sampe hate ie pupo ie keu tanyoe papa…”
Betapa kejamnya hidup disini, aku tak bisa membayangkan kalau negeri syariat saja sudah seperti ini, bagaimana dengan kota metropolitan Jakarta atau Bandung. Satu pelajaran berharga waktu SD dulu juga telah ditinggalkan oleh mereka yang mengakunya para pakar, ahli ini, ahli itu. Masih ingatkah mereka akan pelajaran SD dulu, tentang kepedulian kepada sesama, tentang tenggang rasa?
Baru saja aku menyeberang jalan dekat Unsyiah, ketika dua orang laki-laki mencurigakan tengah mondar-mandir di belakangku. Aku jadi bertanya-tanya, gila kah ia? Atau tengah frustasi akibat diputusi oleh pacarnya, atau tengah kelaparan karena seminggu tidak makan. “Hai mahasiswa, jangan berburuk sangka kamu, mungkin orang itu tengah memutarkan otaknya mencari ide untuk menulis, dan mengirimnya ke media, sama seperti kamu malam ini...” Hatiku berbisik.
Tepat didepanku ada lawan jenis lagi berjalan dengan mesra. “Duhai,  aku malu pada diri ini tuhan, mana tanggung jawabku sebagai mahasiswa syari’ah. Aku tahu di depanku adalah dosa..” hatiku berbisik lagi “Hai mahasiswa jangan berburuk sangka kamu, mungkin itu adalah pasangan pasutri…” tapi hatiku lain membantahnya. Merekapun lewat begitu saja, aku kalah...
Langkah kakiku semakin cepat, gerimis sudah berhenti. Hanya suara-suara kodok yang berbunyi. Seorang bapak terlihat mengayuh sepedanya pelan, Melirik diriku, mukanya menampakkan ramah, aku tersenyum padanya. Sepintas kulihat uban di kepalanya yang menunjukkan masa tua. Raut muka menampakkan kalau beliau  masih tegar menempuh hidup. Beliau adalah orang yang merasakan pahitnya hidup kukira. Kalau ada waktu aku akan mewanwancarainya, siapa tahu dari pengalamannya bisa menjadi sebuah tulisan. Aku nyengir.
Sedikit berbelok, akhirnya aku sampai juga, tepatnya di depan warnet dekat warung kopi. Banyak mahasiswa di warung itu menonton pertandingan bola, Liga champion baru saja dimulai. Masing-masing mempunyai klub favoritnya sendiri. Ada yang bertaruh ada juga yang sekedar menimati saja, katanya biar tak kehilangan kawan bergaul .
“Plam… a….a….a….” listrik di Darussalam tiba-tiba mati total. Teriakan warga, mahasiswa, pedagang, mungkin gelandangan, pengemis dan orang-orang gila  bergemuruh menjadi satu. Listrik memang sering mati disini. Aku memejamkan mata, kembali merasakan kerasnya Darussalam. Tak menangis, tapi menggigit gigi. Tak ada jaminan kapan listrik akan hidup, Huh… Aku gagal mengirim tulisan malam ini. Semoga Tuhan masih memberiku malam, untuk menulis hidup di negeri syari’at.
Cairo, 22 Juni 2011

Posting Komentar

0 Komentar