Pengikut

Pengikut

Advertisement

Gosip Politik

Pembicaraan politik tetap akan dipandang menantang dalam masa kapanpun. Dimana politik ikut mewarnai dan mempengaruhi kehidupan masyarakat. Bahkan politik diposisikan sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri (J Barents, 1965). Pembicaraan politik secara sederhana kita istilahkan sebagai gosip politik, istilah ini menunjukkan bahwa sebuah pembicaraan politik masih dalam lingkup menduga-duga sebagai arti gosip yang sebenarnya. Eksistensi gosip politik  akan selalu hadir walaupun ritmenya kadang turun naik.

Menggosipkan politik di Aceh pada kenyataannya telah menjadi satu budaya dengan segala macam kelezatan. Posisi politik ibarat kue yang tiap pagi dikosumsi oleh masyarakat di warung-warung kopi. Tak salah jika kita katakan bahwa warung kopi Aceh sendiri telah lama menjadi markas besar gosip politik.

Ritme gosip politik di Aceh akan naik ketika ritual-ritual politik mencapai klimaksnya, dan ia akan turun sendirinya ketika tak ada isu-isu politik yang menantang. Gosip politik yang sangat menantang adalah ketika isu harga diri Aceh coba diketengahkan. 

Secara spontanitas gosip politik akan terus berputar dan bermain dalam ranah ini.  Harga diri yang berarti sebuah marwah telah lama menjadi suatu hal seksi bagi masyarakat Aceh, yakni disaat masyarakat kembali sadar siapa  diri dan tanah airnya. Gosip politik sendiri belum menampakkan eksistensinya dalam beberapa dekade lalu, yakni ketika masyarakat masih dilanda bingung tentang arti nasionalisme.

Selama ini gosip politik yang menyentuh ranah Indonesia secara keseluruhan  tak lagi dipandang menarik bagi masyarakat. Isu calon Presiden misalnya yang kerap muncul dalam berbagai media, atau keterlibatan tokoh-tokoh nasional dalam tindak korupsi  atau gosip tentang kebijakan kepala negara dalam skala nasional, dimana hal itu semua tak lagi menjadi pembicaraan nomor wahid.

Aceh telah benar-benar memfokuskan diri untuk bicara segala lini keacehan. Karenanya ritme gosip politik  dimasa-masa mendatang akan menukik dan semakin seru untuk diikuti. Gosip politik Aceh secara lebih terperinci adalah menyangkut tentang bagaimana  pemegang kendali Aceh sekarang ini berkuasa. Apalagi wilayah legislatif dan eksekutif sudah sempurna dikuasai oleh para elit-elit pembebasan Aceh masa lalu.

Gosip politik Aceh akan menyentuh masalah-masalah krusial bagaimana wajah Aceh ketika MoU Helsinki yang dijabarkan dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) benar-benar terimplementasi. Gosip politik Aceh akan semakin seksi ketika membicarakan hal-hal krusial mewakili nasinalisme keacehan seperti lagu dan bendera Aceh.

Namun sayangnya para ahli gosip sepertinya lupa untuk menggosipkan hal-hal krusial lain seperti penegakan keadilan dalam wujud Komisi Kebenaran dan Rekonsiliaasi (KKR). Bahwa ada indikasi tentang gosip politik Aceh yang tak lagi seimbang, ia bergerak miring tanpa mempedulikan garis-garis yang semestinya dilalui.

Sebaliknya ada satu ketakutan tersendiri pada masyarakat untuk menggosipkan hal yang pada dasarnya seksi secara nyata. Penembakan misterius beberapa hari lalu yang menewaskan Syukri bin Abdullah  alias Pangkuk, sekretaris Partai Aceh kota Lhokseumawe dan teman bisnisnya Cut Yetti ( SI, 15/5/2012), Juga rentetan kasus sebelumnya tentang  penembakan misterius Saiful Cagee, pembantaian di Geureudong Pasee, serta pemberondongan para buruh Jawa malam hari raya. Gosip kearah itu dilakukan dengan cara hati-hati sekali dan tak berlangsung lama.

Pada segmen lain, gosip politik belum juga diimbangi dengan analisis-analisis kuat dan kritis terhadap pemberitaan media. Masyarakat cenderung menelan mentah-mentah apa yang telah media beritakan. Figur ulama sebagai pemangku agama yang seharusnya berdiri pada posisi tengah juga telah ikut-ikutan menggosipkan politik secata tak tak teratur dan seimbang.

Mungkin ceritanya akan lain jika ulama benar-benar memposisikan diri tidak sebagai peserta gosip, artinya ia tidak berada dalam lingkaran menggosipkan politik secara tidak sehat. Tentu saja, ada ruang para ulama untuk membetulkan sikab masyarakat, yakni dengan mengharmonisasi segala kasus politik (Muhammad Amin MS, 2009).

Negara Mesir pasca revolusi juga belum  mampu membendung gosip politik tidak sehat. Tempat bergosip seperti warung kopi, dan mobil  angkutan memberi kesempatan liar bagi khalayak untuk bergosip.  Ini berbeda dengan apa yang terjadi pada negara-negara maju, gosip politik cenderung seimbang dengan pembangunan. Yakni gosip politik yang berorientasi kepada kemakmuran negara.

Saat ini dikampung-kampung Aceh, kita menyaksikan bahwa gosip politik semakin berjalan tidak sehat. Bahwa ada praduga-praduga sesat yang tak lagi beorientasi kepada spirit Islam. Gosip politik ‘sibak rukok treuk’ misalnya masih saja berkembang pada masyarakat. Istilah sibak rukok treuk adalah contoh gosip gila paling menyesatkan. Artinya selama gosip politik tidak terkontrol dengan baik, maka kita telah membiarkan masyarakat berijiminasi liar  yang berujung kepada ketidaknormalan jiwa. 

Gosip politik akan terus bergerak pada tiap ruas jalan Aceh, kita berharap semoga Aceh tahu dan cerdas bagaimana bergosip secara baik dan sehat. Yakni gosip tentang upaya kita membangun Aceh yang lebih baik menuju kemakmuran. Gosip yang membangkitkan semangat bekerja, membawa pada kepercayaan diri bahwa kita semua bisa berbuat untuk Aceh secara ikhlas, tanpa kepentingan apapun. Azmi Abubakar, Aktivis Kajian Zaiyah KMA Mesir. http://acehinstitute.org/pojok-publik/politik/item/136-gosip-politik.html

Posting Komentar

0 Komentar