Pengikut

Pengikut

Advertisement

Belajar di Negeri Para Nabi

Suasana pendidikan di Mesir secara umum juga tidak jauh berbeda dengan  negara timur tengah lainnya, ada pendidikan sistem lama (turats) yang tetap di pertahankan walaupun sistem ini akhir-akhir ini telah melemah, kemudian sistem yang mengikut  pembelajaran di negara-negara modern. Universitas Al-Azhar menjadi salah satu universitas tertua di dunia yang sampai sekarang masih eksis mendidik para mahasiswa lewat percampuran kedua sistem lama dan modern.

Sistem lama sebagai upaya mempertahankan kekuatan literatur klasik Islam. Penyampaian ilmu dengan bersemuka (talaqqi) antara guru, kemudian ada sistem pembelajaran modern mengadopsi sistem perkuliahan di barat. Sejauh yang saya ketahui Universitas seperti Universitas Kairo dan American Open sudah menerapkan secara penuh sistem barat.

Ada hal menarik yang jarang kita temukan di media  bahwa ada semacam gengsi kelimuwan antar masing-masing Universitas.  Saya mengamati misalnya Fakultas Sastra di Universitas Kairo ada pameo  “jika benar-benar ingin  belajar sastra Arab ,maka Universitas Kairo tempatnya”, hal-hal seperti ini disebabkan karena pengajaran sastra yang ada di Universitas Kairo lebih mengedepankan sastra modern, puisi-puisi yang sering diulas adalah puisi Arab modern. Sedangkan Al-Azhar mengajarkannya secara seimbang, antara  sastra Arab lama dan modern, sehingga  kehidupan sastra di Al-Azhar dinilai tak begitu mencuat.

Saya merasakan bahwa antara universitas di Mesir ini selalu mempuyai hubungan timbal balik sebagai simbol romantisme keilmuwan. Banyak Doktor Al-Azhar yang mengajar di  Universitas Zamalik, Universitas Kairo atau di Institute Liga Arab.

Sebagaimana diketahui bahwa Universitas Al Azhar juga mempunyai jurusan umum seperti kedokteran, menariknya jurusan umum ini juga mewajibkan hafalan quran,  jadi Al-azhar melahirkan para dokter yang hafiz quran. Langkah ini saya rasa perlu kita ambil sebagai bagian dari proses pendidikan islami bagi anak-anak Aceh.

Bagi para penuntut ilmu disini, Mesir benar-benar tempat yang berkah, penyaluran beasiswa, bantuan kepada para pelajar dan kesahajaan serta keihklasan para guru membuat para penuntut ilmu jatuh cinta dengan Mesir. Walaupun sebenarnya Mesir ini secara kasat adalah negeri berdebu dan kotor, banyak sampah-sampah yang dibiarkan begitu saja. Kesadaran akan nilai-nilai kebersihan masyarakat Mesir masih sangat kurang. Ajaibnya hal-hal ini tak mengurangi animo para hamba ilmu untuk merenguk ilmu disini.

Kampus Universitas Al-Azhar putra yang terletak di Hussein adalah kampus tua, saya ketika pertama kali tiba di Mesir sempat kecewa dengan suasana seperti ini. Ini karena kita hanya memandang secara kasat dan mengabaikan ruh dari lembaga pendidikan ini.  Sudah menjadi adat di sini bahwa  pengurusan-pengurusan yang berkaitan dengan akademik mahasiswa tidaklah bagus. Kita harus rela antri berlama-lama dan terkadang setelah antri, para penjaga tak lagi melayani. Nilai posisitifnya adalah Mesir benar-benar mengajarkan kita kesabaran dan ketahanan mental yang kuat.

Ada satu pelajaran yang saya ambil di negeri para Nabi ini, bahwa sebenarnya Mesir itu sendiri yang  menjadi kampus kehidupan (university of life) berharga. Terlepas dari ikatan formal, betapa Mesir mengajarkan para penuntut ilmu tentang nilai-nilai luhur kesabaran dan keikhlasan. Kita benar-benar akan merasakan bahwa tanah Mesir telah banyak menempa para hamba ilmu untuk menjadi pribadi-pribadi yang luhur.

Posting Komentar

0 Komentar