Pengikut

Pengikut

Advertisement

Maidah Rahman, Pesan Persaudaraan dan Keikhlasan

Sudah menjadi adat yang mendarah daging di kota seribu menara, ketika bulan suci tiba maka para muhsinin di Mesir akan selalu menghidangkan makanan untuk kaum muslimin secara ikhlas dan sukarela. Hidangan makanan berbuka ini  dinamai dengan Maidah Rahman. Ketika waktu berbuka tinggal menuggu beberapa jam lagi, maka kami dan para pelajar dari nusantara, Malaysia dan pelajar rantau Melayu lainnya akan menuju ke Maidah Rahman, banyak Maidah Rahman yang bisa dipilih, ada Maidah Rahman di Masjid, juga tak sedikit yang menyajikan Maidah Rahman di tepi jalan dengan meletakkan meja dan kursi. 

Bahkan para muhsinin ini akan merayu para palajar untuk bisa berbuka di tempat mereka, penulis melihat  agaknya orang Mesir sangat memahami  tentang hadis Rasulullah tentang fadhilah mengkhidmah orang orang yang berpuasa.

Suasana ini sudah barang tentu berbanding terbalik dengan tanah indatu, Aceh. Di Jalanan kita akan melihat banyak sekali para penjual mencari rezeki menjajakan kudapan untuk berbuka. Penulis bisa membandingkan jejeran meja pedagang  di Aceh sama banyaknya dengan para muhsinin yang membuka Maidah Rahman dengan makanan berbuka puasa. Bedanya yang di Aceh harus membeli, di Mesir gratis.

Orang-orang kaya di Mesir jauh-jauh hari telah mempersiapkan harta bendanya untuk Maidah Rahman di bulan suci Ramadhan, pertanyaannya bagaimana dengan orang-orang kaya di Aceh sekarang? Sebenarnya Aceh sangat mampu menciptakan ruh itu, tidak mesti sama persis dengan Maidah Rahman, namun eksistensi dan ruh Meunasah di Aceh yang selalu menyajikan makanan berbuka harus bertahan dan bertambah, para orang kaya tanpa diminta harus responsif membagi lebih makanan berbuka. Bagaimana melalui ruh Maidah Rahman, semangat bersedekah dapat terawat  dan tumbuh dengan baik di bumi Aceh sebagaimana pesan  Alquran, Surah Albaqarah; 261, 245 dan juga Surah Alhadid; 11.

Melalui ruh Maidah Rahman yang ada di Mesir ini, kita berusaha mengikis sifat materialis yang agaknya telah menjadi penyakit dalam masayarakat Aceh postmo. Cara pandang akan untung rugi, kaidah kapitalisme “nyang penteng bek rugoe droe” harus dibuang jauh-jauh. Mari meringankan tangan dengan bersedekah, amalan yang insya Allah akan mengantarkan kita ke pintu syurgaNya. Maidah Rahman di Mesir telah berbuat, insya Allah akan banyak orang-orang kaya dan muhsinin di kampung Aceh akan terjangkiti semangat (memberi) ini. Semoga!

Posting Komentar

0 Komentar