Pengikut

Pengikut

Advertisement

Melihat Buku Aceh di Pustaka Alexandria

 Dua hari yang lalu,  saya melakukan ziarah ke bebarapa situs di kota Alexandria. Ini adalah perjalanan ke tiga saya ke kota pelabuhan terbesar di Mesir. Setelah sebelumnya lawatan ke Alexandria saya lakukan bersama rombongan penulis nasional, Pipit Senja. Ziarah ke Iskandariah  kali ini saya lakukan bersama guru kami  syekh Ayyub dari Al-Jazair serta rombongan penuntut ilmu dari Aceh. 

Destinasi kami pertama sekali adalah ke makam Imam Busairi, beliau adalah pengarang Burdah Imam Busairi, dimana burdah ini selalu dibaca dan dihayati terutama sekali ketika hari maulid Rasulullah tiba. Kami juga berkesempatan berziarah ke makam gurunya Imam Busairi, Abul Abbas Al-Mursi. Sudah makruf dalam silsilah keilmuwan Islam, antara ulama memiliki ikatan antara guru- murid. Syekh Hasan Syazili yang mendirikan tharikat Syaziliyah adalah gurunya Abul Abbas Mursi, sedangkan Ibnu Ataillah As-Sakandari yang mengarang kitab hikmah Alhikam adalah murid daripada Abul Abbas Mursi.

Disamping makam Imam Busairi, ada sebuah makam yang juga murid dari Abul Abbas Mursi, namanya Syekh Yakutul Ursyi. Ada cerita menarik tentang syekh Yakutul Ursyi ini. Ketika seorang saudagar dari negeri Habsyah melakukan pelayaran menuju Iskandariah, saudagar ini membawa seorang budak bernama Yakutul Ursyi. Di tengah perjalanan, kapal saudagar diterjang badai, hatta beliau bernazar jika selamat maka sang saudagar akan menghadiahi budaknya kepada Syekh Abul Abbas Mursi.

Akhirnya sang saudagar tiba di Iskandariah dengan selamat, namun beliau merasa malu menyerahkan Yakutul Ursyi kepada Syekh karena  keadaannya yang sangat kotor. Beliau kemudian membeli budak lain, lalu Abul Abbas Mursi menolaknya. Beliau menginginkan Yakutul Ursyi. Sang budak kemudian diserahkan kepada Syekh dan menjadi murid beliau.

Saya dan rombongan juga menyempatkan ziarah ke makam Syekh Danil Asy Syafii, orang-orang Mesir telanjur melaqabkan Syekh ini sebagai Nabi Danil, Padahal makam Nabi Danil berada di tempat lain di kota yang sama Iskandariah. Tak jauh dari makam  Syekh Danil  ada sebuah lubang yang dimaksudkan untuk melakukan khalwat dalam dunia sufi.   

Destinasi kami selanjutnya adalah salah satu pustaka terbesar di didunia , Pustaka Iskandariah atau sering disebut Bibliotheca Alexandria. Pustaka ini awalnya dibangun pada awal abad ke tiga SM. Kemudian riwayat pustaka ini lenyap lalu dibangun kembali dan dibuka pada bulan Oktober 2002. Pustaka Alexandria menurut Wikipedia  memiliki kapasitas delapan juta buku. Melalui pustaka ini saya melihat bagaimana semangat membaca dari masyarakat Mesir yang sangat tinggi.
Saya dan beberapa kawan dari Aceh iseng melakukan pencarian katalog buku, kami mengetik Atjeh, Acheh, lalu keluarlah beberapa buku buku penting tentang Aceh seperti The Atjehers karya DR. Cristian  Snouck Hurgronje, Atjeh-Oorlog karya J.P Schomaker, Atjeh; De verbeelding van een Koloniale Oorlog karya Lies Beth Dolk, Land en volk van Atjeh karya Vroeger en nu dan J. Jongejans.

Ini merupakan gezah bahwa narasi hubungan Aceh- Mesir telah terbangun lewat sentuhan keilmuwan. Sayangnya karya-karya ini berasal dari penulis luar, ada harapan kedepan buku buku tentang Aceh yang ditulis oleh orang Aceh sendiri sudah berada di salah satu pustaka terbesar di dunia ini, sebut saja  buku-buku yang diterbitkan Bandar Publishing saat ini seperti buku Hasan Tiro, Jalan panjang Menuju Damai Aceh karya Murizal Hamzah.

Sebelumnya kita menemukan bahwa hubungan Aceh-Mesir tetap akan dan harus terjalin lagi secara keilmuwan seperti apa yang telah dibangun oleh ulama Aceh sendiri Syekh Ismail Al-Asyi di kota Kairo lewat sumbangan mahakaryanya di Maktabah Halabi. Dan seperti apa yang telah dibangun para penuntut ilmu dari Aceh masa Nur el-Ibrahimi, dan para pelajar Aceh sekarang, lewat silaturrahmi dan menghadiri majlis ilmu di ruwaq Al-Azhar.  Laku ini kemudian  akan menumbuhkan semangat silaturrahmi yang menjadi pesan dan nilai luhur  Islam sebagaimana firman Allah Swt dalam QS An-Nisa ayat 1;  Dan bertakwalah kepada Allah dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain. Dan (peliharalah) hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah selalu mengawasi dan menjaga dan mengawasi kamu.

Posting Komentar

1 Komentar

Agam Sidroe mengatakan…
Luar biasa, gure kamoe, H. Azmi. sangat menginspirasi..
neupiyoh-piyoh bak jambo brok kamo gure: http://tanwerulqulub.blogspot.com/