Pengikut

Pengikut

Advertisement

Membincang Poros Pendidikan Aceh


Tesis yang dipegang umat manusia menyebut bahwa pendidikan adalah kebutuhan dasar. Pendidikan mampu mengubah manusia menjadi apa yang diistilahkan sebagai insan kamil.
Melangkah ke ruang yang lebih sempit lagi kita menyadari dan mengakui jika Aceh pernah menjalankan sekaligus membuktikan tesis ini lewat eksistensinya sebagai pusat pendidikan di rantau Melayu.

Namun kenyataannya sekarang Aceh telah mengalami degradasi total akan nilai-nilai pendidikan, sejumlah survey menempatkan pendidikan Aceh berada pada posisi bawah.
Kampus jantong hate  terbukti belum mampu mewujudkan eksistensi pendidikan yang ideal. Betapa setiap hari kita dipertontonkan akan laku generasi Darussalam yang semakin parah.
Belajar hanya dipahami sebagai tujuan untuk memperoleh kesenangan duniawi semata berupa penghasilan ekonomi yang menjanjikan.

Bahwa belajar bukan lagi tujuan untuk mengubah diri menjadi makhluk santun beradab. Akhirnya lembaga pendidikan hanya menghasilkan generasi-generasi gila harta dan pangkat. Yang notabene kembali mendidik generasi setelahnya dengan doktrin yang sama.

Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) belum mampu menjawab tantangan generasi muda yang terus hanyut dalam kehidupannya. Sementara  IAIN Ar-Raniry yang telah merubah nama menjadi UIN Ar-Raniry  sebagai basis memperdalami agama, ternyata juga belum maksimal melaksanakan  tugasnya mentransformasikan nilai-nilai religi pada mahasiswa.

Alhasil tujuan pendidikan yang semula untuk memperbaiki akhlak tak tercapai. Apalagi ketika laku kebinatangan poros Darussalam semakin merajalela dengan terjadinya banyak kasus pelanggaran hukum tuhan.

Melirik Samalanga
Ditengah tidak menentunya kesehatan pendidikan  kampus jantong hatee, maka poros Samalanga manjadi satu solusi. Dimana lembaga pendidikan Dayah MUDI Mesra  diyakini mampu untuk mewakili poros baru pendidikan Aceh. Poros Samalanga dinilai masih sangat bersih dibanding dengan Darussalam yang telah lama terkontaminasi. 

Samalanga diyakini mampu meracik obat –obat penyakit yang sesuai untuk pasien. Apalagi obat-obat tersebut telah terkenal akan keampuhannya. Lewat pengajian literatur klasik Islam plus modern, Samalanga akan memberi peluang generasi muda mempelajari langsung berbagai disiplin ilmu agama dari sumber asli.

Pada fase ini akhlak yang menjadi acuan utama pendidikan bisa terjaga dengan baik. Hal ini senada dengan tesis Al-Attas bahwa jihad intelektual harus didengungkan kembali dengan  konsep takdib kepada unsur-unsur pendidikan itu sendiri. Sehingga keseimbangan moral dan religi dapat direalisasikan.

Kita mengapresiasi dan terus melihat bagaimana perkembangan yang signifikan lembaga pendidikan dimaksud. STAI Al-Azizyah yang  telah merubah status menjadi Institute hatta Universitas terus mematangkan diri. Para kaum sufisik meyakini bahwa keberhasilan ini merupakan berkah dari pada para ulama Aceh.

Pendidikan agama mempunyai corak khusus dengan menekankan nilai-nilai daripada material. Kita ingat Alfaruqi dalam tesisnya pernah menyebut tentang sistem pendidikan ketimuran yang kian hari kian membebek ke barat.

UIN Ar-Raniry dan Unsyiah merupakan aset pendidikan Aceh yang harus dijaga, Spirit nama ulama yang melekat pada dua instansi pendidikan tersebut harus diambil kembali.
Poros Darusslam harus bekerja sama dengan Samalanga dengan rute pendidikan Samalanga-Darussalam, ini akan lebih bijaksana untuk menghasikan sumber daya manusia Aceh yang  religius dan kaya  akhlak plus disiplin ilmu yang dimilikinya. Wallahu ‘Alam.





Posting Komentar

0 Komentar