Pengikut

Pengikut

Advertisement

Merawat Manuskrip dan Pustaka kuno Sebagai Cagar Budaya Indonesia di Aceh


Sebagai kawasan awal datangnya Islam ke Nusantara, Aceh menempati tempat yang paling banyak  memiliki manuskrip kuno. Hal ini dtandai dengan banyaknya peneliti lokal dan asing yang datang berziarah ke Aceh. Manuskrip tersebut berasal dari abad 15-18 Masehi. Keberadaan manuskrip ini menandai bahwa masyarakat masa lalu sudha melalui fase kegemilangan ilmu pengetahuan dengan adanya berjilid-jilid manuskrip. Sebagian besar manuskrip itu membicarakan tentang fikih dan tasawuf.
Keberadaan manuskrip juga tak bisa dilepaskan dnegan adanya pustaka kuno. Bahwa bila hendak mengkaji sejarah kegemilangan pustaka Islam, maka keberadaan  Bait Al-Hikmah tak boleh dinafikan begitu saja. Bait Al-Hikmah sebagai pusat penerjemahan dan pustaka Islam telah memainkan peran yang sangat besar dalam payung keilmuwan Daulah Abbasiyah. Sejarah mencatat bahwa  kegiatan keilmuwan berupa penerjemahan literatur-literatur klasik berjalan dengan sangat apik kala itu. Aceh sebagai tempat pertama kedatangan Islam di rantau Melayu mempunyai andil  membangun kembali spirit Bait Al-Hikmah; pustaka Islam. Adalah  pustaka Tanoh Abee yang pada gilirannya menjadi format pustaka Islam sederhana yang mampu menjaga kearifan lokal  (local wisdom).
Namun realitasnya, masih banyak manuskrip manuskrip kuno yang yang belum terselamatkan, sebagiannya ada pada masyarakat yang sewaktu-waktu bisa diperjualbelikan kepada peneliti asing. Hal ini pernah diutarakan oleh DR. Sangidu, mantat atase pendidikan Kairo dan akademisi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Manuskrip Aceh secara perlahan banyak dibawa lari ke luar negeri. Hal ini tak boleh dibirkan begitu saja, mengingat manuskrip merupakan asset dan khazanah merajut hubungan sejarah keimuwan generasi masa lalu dengan generasi sekarang.
Sebagian manuskrip Aceh berada di pustaka tanoh abe. Bahwa Pustaka Tanoh Abee dipandang sebagai aset dan modal paling berharga dalam hal membangun pustaka Islam Aceh kedepan. Pustaka Tanoh Abee sebagai corak pustaka Islam tertua Asia Tenggara memiliki koleksi naskah- (manuscript) para ulama Aceh mulai dari abad 16 hingga 19 Masehi (Oman Fatturahman dkk, 2010). Kemunculan buku katalog naskah-naskah Tanoh Abee yang melibatkan para sarjana kebahasaan dan para pakar manuskrip adalah buah karya yang patut kita apresiasi dan syukuri, artinya kepedulian terhadap pustaka Tanoh Abee sebagai aset keilmuwan sangatlah besar.
Barangkat dari realitas tersebut, usaha renovasi pustaka dan perhatian kepada manuskrip menjadi sebuah keharusan. Gairah pustaka Islam di Malaysia dan Brunei perlu kita ambil kembali, usaha ini adalah wujud mengembalikan kegemilangan Aceh sebagai  entitas Islam masa lalu yang pernah menjadi basis pendidikan Asia Tenggara. Yakni lewat kemunculan maha karya para ulama semisal Shiratul Mustaqim, Bustanus Salatin, Kifayatul Muhtajin sampai kepada kitab Nuzhatul Ikhwan, Dawaul Qulub dan Tajul Muluk. Pembaharuan (tajdid) pustaka perlu dibina dalam formatnya yang paling kecil, yakni dengan membangun pustaka mulai dari rumah dan meunasah. Kita sangat mengapreasiasi dengan lahirnya pustaka-pustaka mini di sebagian meunasah.
Aktifitas pengajian ditambah keberadaan washilah keilmuwan berupa pustaka akan turut mempertegas kembali romantisme masa lalu (M. Adli Abdullah, 2011). Mengingat besarnya jumlah Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA)  yang diplotkan untuk pustaka, maka ini menjadi peluang pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk segera meningkatkan kualitas pustaka Islam dan perawatan manuskrip di Aceh. Maka itu, untuk menubuhkan kembali kesadaran akan pentingnya merawat, menjaga dan mencintai pustaka dan manuskrip perku diadakannya seminar-seminar tentang kepustakaan  dan manuskrip. Seminar dimaksud perlu mengundang para ahli kepustakaan. Keberadaan literatur Islam berbahasa Arab dalam pustaka Islam adalah sebuah keniscayaan. Hal ini  sekaligus menjadi upaya improvisasi penguasaan  bahasa Arab, sebagai bahasa ilmu dan agama (Ahmad Al-Hasyimi, 1932). Adapun nilai-nilai keacehan harus dipertajam dan diarahkan lewat penulisan karya fiksi dan non fiksi dalam bahasa Aceh. kemunculan pustaka Islam yang sarat dengan nilai-nilai keacehan akan turut mengisi khasanah keilmuwan. Tradisi keilmuwan dalam pustaka Islam  menguatkan  kearifan lokal Aceh masa lalu. Lebih dari itu pembaharuan (tajdid) pustaka Islam  dengan mengambil spirit Baitul Hikmah  menjadi satu langkah penting dalam  hal mendukung dan menjaga spirit keilmuwan di Aceh khususnya dan Indonesia umumnya.




Posting Komentar

0 Komentar