Pengikut

Pengikut

Advertisement

Syawal, Domino dan Revolusi Mental

Sebuah fase yang sangat menentukan perjalanan kehidupan manusia sudah kita jalani, fase yang diistilahkan para pakar agama sebagai madrasah ruhani seyogyanya  telah mengembleng kita untuk menjadi pribadi yang La’alakum Tattaqun. Bahwa  Syawal yang dalam literatur agama mempunyai banyak kelebihan harus dimaknai kembali sebagai bulan kemenangan, dimana kita merendahkan hati pada sesama.

Kejadian-kejadian di dunia mutakhir telah banyak mengindahkan norma dan nilai-nilai agama. Wal hasil generasi   nihil agama  terus saja bermunculan. Etika yang menjadi vitaminnya para generasi agama tak lagi diindahkan. Ada kelompok manusia yang menyerang kehidupan kelompok manusia lain. Wanita dan anak-anak selalu menjadi korban dari perilaku asusila ini.

Kehidupan tak lagi berjalan dengan seimbang manakala kita tak lagi memaknai dan mendefinisikan diri sebagai Al-Insan. Kita belajar kembali pada kisah Qabil dan Habil. Ada pelajaran luhur tentang sikap rendah hati, sikab untuk mengubur egoisme. Bagaimana kemudian kisah  Qabil-Habil telah memberi khasanah bagi agama tentang kebesaran jiwa yang gagal diwujudkan.

Revolusi mental yang kerap terdengar dalam genderang politik Indonesia baru-baru ini mejadi menarik terlepas darimana sebenarnya istilah dimaksud. Mental-mental manusia yang dibentuk lewat interaksi masyarakat telah jauh berlari dari garis sebenarnya, sehingga mental-mental menjadi sakit yang akhirnya manusia mengabaikan nilai-nilai ketuhanan.

Tuhan berseru; Ya Ayyaatuhan Nafsul Muthmainnah (Al-Fajr;27). Wahai Jiwa-jiwa yang tenang, Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam kitabnya telah mengupas secara bernas bagaimana yang dimaksud dengan Nafsul Muthmainnah ini sebagai jiwa yang selalu dekat kepada spritualitas. Jiwa-jiwa yang tenang terdapat pada hamba yang selalu  melukis nama Tuhannya di hati.

Dimensi perang Badar  menjadi bukti nyata bagaimana kemenangan dapat diraih karena berlandaskan pada pribadi yang Muthmainnah. Media Massa yang menjadi corong komunikasi manusia justru cenderung mendukung hal-hal yang membuat nafsu hewaniyah tambah merajalela. Media dinilai belum mampu menjadi wasilah untuk menggerakkan mental massa untuk menuju tuhannya. Media Massa kerap menyuguhkan acara mengumbar aurat, mengumpat dan mencaci maki anak manusia.

Para Pencari Tuhan selanjutnya menjadi tokoh yang harus dikasihi dan dididik. Kita tentu mengenal tokoh Domino. Tokoh yang digembleng dengan elegan  harus melawan berbagai arus pemikiran batin. Beruntung Domino mempunyai seorang guru yang akan mengubahnya menjadi Dinamo yakni sebagai cahaya melebih cahaya bulan, juga sebagai  kekuatan seorang hamba untuk mencari kebenaran hakiki.

Domino  kerap dimunculkan mewakili tingkah laku manusia yang haus akan kebenaran. Pada fitrahnya,  manusia cenderung untuk selalu mencari hakikat kebenaran melalui berbagai bentuk perenungan dan logika berpikir seperti apa yang dikisahkan Ibnu Sina dalam magnum opusnya Hay bin Yaqdhan.

Ketokohan Domino adalah bentuk interpretasi bahwa  Media Massa tak lagi mampu mengarahkan manusia pada bentuk kebenaran. Manusia diliputi kebingungan untuk membedakan mana yang hitam dan mana yang putih. Dalam tataran lokal  keacehan, Media di Aceh mempunyai amanah besar untuk terus mendukung pelaksanaan Syariat Islam. Media di Aceh seyogyanya harus menjadi kekuatan lain dalam rangka mengerakkan ruh –ruh kebaikan.

Selain itu, dunia entertaiment  yang menjadi bagian dari Media Massa menjadi konsumsi publik yang sangat digemari. Kita tak sadar bahwa justru laku-laku ini telah membawa kemudharatan yang lebih besar. Padahal dalam kaidah hukum selalu ditekankan bahwa Adhdararu Yuzalu; kemudharatan harus dihilangkan.

Laku salah kaprah ini terus berlanjut sehingga sampai pada mengidolakan para tokoh entertaiment, sehingga mental-mental anak manusia menjadi semakin akut. Kita menyadari betul bahwa pendidikan dalam  keluarga pada akhirnya menjadi tonggak pertama dalam revolusi mental.

Produk Media Massa semakin lihai dalam hal mengurangi nilai-nilai kebaikan. Pada segmen lain, Para “Ustaz” telah menjadi produk Media Massa yang terus bermunculan. Hal ini dikemudian hari telah melabrak kearifan lokal (Serambi Indonesia, 22 Meret 2014 )

Momentum Syawal haruslah menjadi ruh perdamaian, dalam dimensi keindonesiaan plus keacehan, ini menjadi suatu hal yang sangat baik, karena momentum  peringatan kemerdekaan dan perdamaian Helsinki berada pada bulan Syawal. Syawal harus menjadi dinamo menguatkan kembali perdamaian dan rekonsiliasi antar tokoh bangsa.

Syawal harus dimanfaatkan menjadi multi momentum, revolusi mental yang berkelanjutan, perdamaian dan rekonsiliasi politik. Domino yang mewakili tingkah laku mazmumah harus disingkirkan dan diubah menjadi Dinamo yang bercahaya penuh kasih sayang. Akhirnya Pada bulan penuh kemenangan ini, mari membesarkan jiwa dan saling memaafkan. Idul Fitri Mubarak, Kullu Sanah wa Antum Thayyibun.




Posting Komentar

0 Komentar