Pengikut

Pengikut

Advertisement

Robokop Aceh

Seperti yang dikabarkan oleh netizen dalam beberapa media sosial bahwa bulan Desember selalu menjadi bulan penuh sejarah bagi Aceh.  Hal ini memang benar adanya, ketika mengingat bulan Desember apa yang terlintas dalam benak adalah Gempa dan Tsunami, deklarasi pembebasan Aceh, turun gunungnya Abu Beureu eh Dan beberapa narasi sejarah lainnya. 

Terakhir yang menarik adalah menyerahnya Din Minimi secera  elegan, sebagaimana yang diberriakan beberapa media  Penyerahan Din Minimi dijemput langsung  kepala BIN, Sutiyoso juga perwakilan dari Uni Eropa. Aceh kembali membuat sejarahnya. Pernah seorang kawan berkelakar,  Betapa Din Minimi ini hebat, ia membuat pusing Jakarta dan Aceh dalam hal mencarinya, padahal secara kuantitas mereka tak seberapa. 

Narasi ini kemudian mengantarkan tulisan ini kepada judul Robokop, merujuk kepada film Hollywood yang diluncurkan tahun 2014. Apa jadinya kalau Din Minimi dikepung lalu ditembaki, kalau mengambil narasi film Robkop tentu saja Din akan diambil pihak  keamanan untuk dijadikan manusia Robot guna membantu tugas –tugas mereka. Alih-alih membantu tugas mereka, justru Din Minimi dengan fasilitas robot yang dimiliki akan menyelidiki kasus pembunuhan dirinya yang pada akhirnya pihak keamananlah yang menjadi sasaran atau malah pihak pemerintah Aceh.

Tapi Narasi ini tak pernah diambil bang Din, Justru bang Din mengambil jalan cerita yang sangat agamis penuh elegan.  Lihatlah bagaimana sebuah keteladanan yang  luar biasa yang dipertotonkan bang Din,  pertama manakala ia menyerah ia langsung menuju rumah ibundanya, yang merawat dan membesarkannya. Sebuah hubungan ibu-anak yang luar biasa. Ini pelajaran bagi kita tentang seberapa sering kita mengunjungi orang tua dan mencium tangannya? Bang Din agaknya mengerti betul hadis Nabi ”Jagalah beliau, karena surga itu berada di bawah telapak kakinya” (Hadis Riwayat An Nasai,  Ahmad dan Ath Thabarani)  Hal ini jelas terjadi bagaimana berbaktinya Bang Din kepada sang Ibu ketika terjadi kontak telepon antara dirinya dan sang ibu yang difasilitasi oleh Din Maros beberapa bulan lalu. 

Film Robokop mengajarkan kita tentang membasmi kemunkaran, disaat manusia telah gagal, dan tak ada lagi sebuah kepercayaan (amanah) Manusia berpikir bahwa para Robotlah yang berkeja dengan mesin tak pernah bisa menipu. Sebuah Hadis Sahih menyatakan bahwa yang pertama kali di cabut dalam diri umat adalah sifat amanah, yang ada adalah sifat saling curiga mencurigai. Setelah tercabutnya amanah maka tercabut rasa malu lalu tercabutlah sifat-sifat terpuji lannya yang hanya berakhir dengan pembunuhan, fitnah dan dengki.

Menjadi Robokop Aceh
Tak hanya bang Din, tentu semua kita berhak menjadi Robokop bagi Aceh, jika makna Robokop adalah mengajak beramal makruf dan bernahi munkar, jika Robokop yang kita artikan adalah melaksanakan hablum min allah dan hablum min annas sebaik baiknya. Jika Robokop yang kita artikan adalah sama-sama memperdulikan anak yatim sebagaimana yang diperjuangkan oleh bang Din. Karena peduli anak yatim tak hanya berlaku pada bulan Maulid saja sebagaimana dekat dengan Allah tak hanya berlaku pada bulan Ramadhan saja. 

Manusia sebagaimana yang diungkapkan alquran adalah ahsanu taqwim (At Tin 4) sebaik-baik bentuk predikat ini akan hilang jika manusia tak cakap dalam menjaga amanah. Bahkan sebagaimana diungkapkan dalam Al-Quran manusia justru berada dibawah tingkatan binatang bal hum adhal (Al’Araf 179) Maka itu film Robokop seolah menyindir sejauh mana kita mempergunakan amanah sebagai manusia, sejauh mana kita menggunakan akal yang telah allah anugrahkan kepada kita karena dalam kaidah ilmu mantiq mengatakan al insan hayawanun natiq, manusia itu hewan yang berpikir.
Dalam film Robokop kita benar-benar dipermalukan oleh mesin-mesin yang tak ada artinya. Mesin bahkan terlalu jujur untuk mengungkapkan kedurjanaan manusia yang saling bunuh membunuh, benci membenci, saling memfitnah dan sebagainya. 

Bahkan binatang saja tak pernah membunuh sebangsanya. Para Iblis bekerja kuat dalam hal membawa manusia ke dalam  neraka agar menjadi kawannya kelak. Kita di dunia malah membantu misi Iblis. Maka itu perlu sekali “Robokop” hidup di Aceh “Robokop” yang tak terbuat dari mesin yang mudah  disetel sesuai selera tapi “Robokop”  penyemangat kehidupan beragama di Aceh, “Robokop” yang menjadi penyemangat pembangunan ruh dan fisik Aceh. “Robokop” yang Rabbani meminjam istilahnya Habib Ali Jufri salah seorang cucu Rasulullah, da’i dari Yaman.

Narasi Din Minimi selanjutnya menjadi narasi yang sangat menarik untuk diikuti, kita berharap Din Minimi mendapat hidayah Allah untuk menjadi “Robokop” yang penulis maksudkan itu. Semua kita juga harus menjadi “Robokop”, bukan “Robomop”, dimana dengan mengandalkan mop kita selalu menebar keburukan dan ketakutan. Tapi jadilah penyelamat bagi Aceh, penebar kebaikan, yang apabila ia nya seorang da’i ia menebarkan segala kesejukan bukan kata-kata kasar dan menjatuhkan orang lain. Yang apabila ianya ulil amri ia mampu bersikap amanah, tidak korupsi dan  menyenangi hati rakyatnya. Semoga!

Posting Komentar

0 Komentar