Pengikut

Pengikut

Advertisement

Perang Materialisme



Jika merunut sejarah Aceh tahun 1600 Masehi, akan ditemukan dalil dalil penting bahwa materialisme telah menjalar cukup jauh dalam istana Sultan. Perebutan kekuasan, rasa curiga kepada pihak istana sampai mengebiri pengawal istana (Otto Syamsuddin Ishak; 2011) Ini sebenarnya menjadi petunjuk bahwa Aceh dalam kurun lama telah bersentuhan dengan materialisme kekuasaan.
Aceh tak bisa lari dari nilai ini ketika  pada tahun 1800 Masehi disaat kedatangan imperalis Belanda merongrong kedaulatan kesultanan. Saat itu politik “peng griek” yang didengungkan Belanda telah membuat Aceh terlena, lagi-lagi Aceh harus bersentuhan dengan materialisme harta.

Narasi ini kemudian membawa penulis untuk meneliti lebih dalam bagaimana keberlanjutan paham ini dalam masyarakat Acehpostmo, ada banyak sekali contoh keadaan dimana masyarakat Aceh tidak bisa lari dari cara pandang materialis yang sangat bertolak belakang dengan nilai Islam. Tentu saja penulis tidak menafikan sebagian strata yang masih kokoh memegang nilai luhur sufisme.

Seolah materialisme telah menjadi “agama” baru di Aceh. Mengutip pendapat Marx ketika mendeskripsikan materialisme sebagai kondisi materil yang bertentangan dengan idealisme. Menurut Marx, materialisme yang sudah mengakar urat di masyarakat akan menghasilkan satu bentuk pengabaian kepada norma yang membentuk idealisme ( M. Habibul Anami; 2005) 

Kasus para murtadin pasca tsunami dan alirat sesat di Aceh juga akibat dari paham materialisme yang menjalar pada pemuda Aceh sehingga mengabaikan sebuah idealisme;Islam. Apalagi ilmu agama yang ada belum cukup mapan untuk membentuknya menjadi pribadi yang kaya ruh spritualitas.

Marx sangat gelisah ketika mengetahui pengaruh kelas sosial yang selanjutnya membentuk cara pandang yang berbeda terhadap materi. Kelas bawah, menengah dan kelas atas telah menimbulkan ketegangan konflik yang luar biasa. Persinggungan antara kelas itu telah melahirkan tuan dan budak. Konflik di Aceh pasca damai harus dipahami betapa  benturan antar kelas ini sangat keras terjadi. Ada kelompok masyarakat yang telah bergelimang harta dan sebaliknya.

Bahkan Pemikir Islam Islam dari Mesir, DR. Muhammad Imarah berkomentar tentang  bahaya materialisme ini yang akan mengantarkan individu menuju ateisme. Islam tambah Imarah  sama sekali tidak mengenal dengan istilah materialisme, istilah ini kemudian dipaksakan muncul dalam kamus peradaban Islam era modern sebagai akibat dari pengaruh filsafat Barat, sehingga dinamakanlah dengan almaddiyah  (Muhammad Imarah; 1998)

Konfilk yang berkaitan dengan materipun  berada pada tataran agama, sehingga fikih yang menjadi produk hukum Islam diabaikan begitu saja, perebutan harta faraidh misalnya telah menjadi konflik perebutan harta dalam keluarga. Kasus-kasus perceraian di Aceh juga tak bisa dilepaskan dari pengaruh unsur materialisme tadi. Kaidah, “hana peng, hana inong” menunjukkan bagaimana materialistisnya sebagian kaum di Aceh.

Cara pandang materialistik tak hanya berlaku pada ranah itu, dalam bidang pendidikan pun materialisme mendapat ruang dihati masyarakat Aceh, lihatlah bagaimana perbedaan kontras antara “urueng sikula” dan “urueng jak beut”. Antara orang beijazah dan orang tak beijazah, cara pandang kebendaan itu sehingga melahirkan sebuah pertanyaan, pajan leuh sikula?  Sebenarnya jika ditafsirkan  maksud penanya adalah pajan leuh ijazah? Karena pada hakikatnya “jak sikula” tidak akan pernah selesai mengikut hadis Rasululah; uthulubul ilma minal mahdi ilal lahdi.

Beruntung bagi yang “jak beut”, tidak pernah ditanya “pajan leuh beut”, tapi “pajan neu seumeubeut?” Ini menjadi sisi lain dan nilai plus sendiri dari orang Aceh postmo bahwa ada bentuk ketakziman yang luar biasa kepada komunitas “jak beut”.

Materialisme yang terjadi pada masyarakat selanjutnya adalah persaingan kasta dan kehormatan, sehingga pesan fastabiqul khairat tidak lagi mengena, masyarakat berlomba untuk mendapatkan nama dan pamor, mendapat ruang serta disanjung- sanjung. Standar kesuksesan dinilai lewat bagaimana individu  mampu menaikkan kehormatannya. Salah satunya adalah kehormatan menjadi Pegawai Negeri.

Semua perilaku ini kemudian telah menjerumus kepada pengabaian idealime sebagaimana yang disebut Marx. Muncullah perilaku sogok, suap dan korupsi. Sudah jelas bahwa perilaku ini sangat bertentangan dengan norma negara dan agama.

Penulis kira Aceh harus kembali disadarkan tentang bagaimana hakikat kehidupan ini, sesuai dengan pesan alquran wa ma hadzihil hayatud dunya illa lahwon wa laibon (Al-Ankabut; 64). Generasi muda harus diajarkan bahwa uang bukan segalanya, uang menjadi sarana kita untuk beribadah bukan menjadikan uang sebagai tuhan. Kekayaan yang sudah kita perolah tentu digunakan untuk jalan kebaikan.

Lembaga pendidikan agama di Aceh serta para tokoh agama dan para da’i punya tugas berat untuk memadamkan api materiaslame ini pada anak muda Aceh lewat pendidikan agama yang mumpuni. Mengajarkan nilai-nilai sufistik sehingga lahir bentuk kecintaan yang mendalam kepada akhirat. Namun harus digaris bawahi bahwa laku ini akan semakin berat jika para tokoh agama sendiri  sudah terjeremus dalam kubangan materialisme.

Ritual harus dibarengi dengan  spritual, ibadah yang dilakukan dengan ruh akan terus membekas sehingga menjadi tanha anil fahsya wal munkar. Kaya belum tentu bahagia, dan miskin belum tentu sengsara, ada tolak ukur yang istimewa ketika mendefenisikan bahagia dalam agama. Seyogyanya kita bisa kembali belajar mendalami hakikat kehidupan dengan arif dengan menjadi pribadi yang lebih tawakkal dan qanaah.  Kita mengajak seluruh elemen masyarakat Aceh untuk sama-sama memerangi penyakit materialisme.

Tulisan ini sudah pernah dimuat di Buletin el-Asyi KMA Mesir 







Posting Komentar

0 Komentar