Pengikut

Pengikut

Advertisement

Akai PKI

Partai Komunis Indonesia lahir pada Mei 1914 diasas oleh Henk Snevvliet. Riwayat PKI di kemudian hari terus melesak, puncaknya pada tahun 1960 tercatat bahwa anggota PKI sudah berjumlah 3 juta jiwa. (Soe Hok Gie: 1964)

Ruth McVey dalam karyanya Kemunculan Komunisme di Indonesia menjelaskan bahwa gerakan PKI muncul tak serta merta dan tiba-tiba. Ia muncul akibat keresahan dan kegelisahan intelektual pribumi dimasa itu yang tak sepakat lagi dengan pecahnya SI putih dan SI merah. Eksistensi PKI didukung Soekarno, bargaining dengan pemerintah menjadi kuat.

Romantisme PKI dan Soekarno menimbulkan ketikdaksukaan  pihak lain, tokoh tokoh semisal DN Aidit, Semaun kemudian dihukum mati. Cerita siapa  sebenarnya pelaku pembunuhan jenderal, ini saja masih abu-abu dan sarat dengan nuansa politik, walaupun pelakunya dialamatkan kepada PKI. (Jhon Roosa; 2008)


Dalam perjalanannya PKI tak pernah menyingung tentang beragama, apalagi aliran sesat. Dalam kacamata PKI, ia hanya sebatas partai politik dimana para tokohnya terkesan tak ingin ambil pusing dari masa sebenarnya gaung komunisme itu sendiri.

Tokoh Muso yang telah belajar belasan tahun di Rusia adalah ideologi komunis sejati melihat dia begitu ambisi dalam membangun poros Indonesia-Soviet. Sedangkan kelompok lain hanya memanfatkan PKI sebagai jalur politiknya.

Hal ini menjadi absurd jika kita lihat hakikat sejarah lahirnya komunisme itu sendiri. Usaha Soekarno mempertemukan agama dan komunis kewat slogan Nasakom juga adalah sebuah karancuan, manakala ajaran komunis asli itu sendiri tidak pernah mengakui eksistensi agama, ini terbersit dari lagu internatile, lagunya komunis internasional.

Belajar kembali dari PKI berarti belajar untuk memahami apa makna sebuah ajaran dengan benar, apakah ajaran itu muara atau asal usulnya benar atau salah. Padahal inti ajaran komunis ini sendiri  berasal dari Karl Marx yang kafir. Walaupun tokoh Karl Marx (1888-1883) digaungkan  berjuang untuk kebebasan rakyat.

Membaca dakwan Thaib Adamy, saya semakin yakin bahwa orang Aceh saat itu benar-benar tak memahami apa itu komunis sejati. PKI datang ke Aceh hanya untuk membela rakyat dari kapitalis, sehingga Thaib dengan lantang berteriak, aku adalah komunis! Maksudnya aku adalah pembela hak rakyat.

Beberapa hari lalu saya bertanya pada orang-orang tua di kampung, bahwa banyak yang tak tau apa itu PKI, ada yang mengatakan jika PKI itu akronim dari Partai Kejayaan Islam. Tak heran ketika Thaib Adamy disidang, lima ribuan orang Aceh mengikutinya jalannya persidangan. (Thaib Adamy; 1964)

Saya sampai pada kesimpulan bahwa Konflik PKI di Aceh itu adalah karena kepentingan politik antara dua kubu. PKI menjadi musuh yang sangat jelas bagi militer dan kelas masyarakat apa yang diistilahkan PKI sebagai kapitalis.

Sebaliknya para kapitalis menuduh PKI penghancur rakyat, dan berbagai klaim yang menandakan bahwa PKI itu adalah partai bangsat. Dua kubu ini terus memainkan siasatnya merebut hati rakyat.
Pada sisi lain PKI tersudutkan sampai PKI tak lagi mendapat ruang untuk berkiprah atas nama rakyat. Pameo dari tokoh-tokoh tua menyebut bagaimana busuknya akal PKI. Nepotisme itu sendiri berasal dari PKI, para orang tua  menyebut lagee akai PKI. Bahkan sambil berseloroh, penulis pernah mendengar salah seorang orang tua di sebuah kampong di Pidie mengatakan meu PKI that cara seumayang.

Kesimpulannya perilaku mencambuk orang-orang kecil, mengabaikan kesalahan elit adalah prilaku kapitalis menurut PKI, bagi kaum yang dituduh PKI, ini adalah prilaku bangsat PKI.
Perilaku ketika seorang abdi negara ingin punya jabatan lebih tinggi dengan mendatangi pejabat yang notebene adalah keluarganya ini adalah prilaku PKI yang masih ada di Aceh atau prilaku kapitalis menurut PKI, yang sampai sekarang perilaku itu semakin merajalela di Aceh tercinta.

Perilaku mengancam, meneror ini adalah akai PKI dan akai kapitalis dalam kacamata PKI. Memang Dua kubu ini sama-sama berteriak atas nama rakyat.  Sehingga kita perlu bertanya kepada diri sendiri, dengan keadaan Aceh hari ini berikut nuansanya politiknya, jangan-jangan kita tak lebih baik dari PKI itu sendiri?


Posting Komentar

0 Komentar