Pengikut

Pengikut

Advertisement

Maksiat Di Jalan Raya

Para pengguna jalan raya yang terhormat, perkenankanlah saya menulis beberapa poin penting menyangkut tingkah laku kita akhir-akhir ini di jalan raya. Saya melihat banyak sekali perilaku semena-mena di jalan raya, ugal ugalan, mengambil jalur lain terutama di seputar jalan Banda Aceh-Medan.

Terakhir terjadi kecelakaan di dekat pasar Grong-Grong, tragedi ini menyebabkan dua remaja meninggal dunia, Sebelumnya terjadi lagi kecelakaan beberapa kilometer dari pusat kota Beureunuen, yang menyebabkan seorang ibu hamil meninggal dunia. Kedua musibah yang menelan korban ini sama-sama mengenderai sepeda motor.

Selaku pengguna jalan raya saya melihat banyak sekali perilaku semena-mena yang dipertotonkan tersebut. Tentu saja pihak yang mengendarai roda empat lebih beruntung dari roda dua, bahkan mobil-mobil pribadi sendiri luar bisa dalam hal melakukan tindakan kesewenang-wenangan di jalan raya.

Itu poin kemaksiatan yang pertama, selanjutnya adalah prilaku para pengendara yang bermesran di jalan raya, kebanyakan yang saya lihat itu para muda-mudi, masing-masing punya kereta sendiri, mereka terlibat percakapan yang entah apa, tentu saja ini menganggu pengguna jalan karena badan jalan sudah diambil sama mereka, juga ini perilaku maksiat yang sangat memalukan, suami istri saja dilarang untuk bemesraan di tempat umum apatah lagi pasangan-pasanngan haram, wahai perempuan mana iffahmu?

Masalah yang tak kalah besar adalah ketika para peternak sapi atau kambing melepas binatang ternaknya di jalan raya, ini sangat keterlaluan sekali. Berapa banyak pengendara yang sudah meninggal karena hewan ternak menyalip di jalan raya.

Tapi inilah fenomena yang terjadi jikalau menjadi pengguna jalan di bumi Aceh tercinta. Data yang kita baca menyebutkan bahwa angka kecelakan di jalan raya sangat tinggi.

Ada hadis shahih menyebut bahwa serendah-rendah iman adalah memidahkan Penyakit (adza) di jalan raya. Penyakit disini beragam macam maksiat yang saya sebutkan tadi. Malu rasanya seorang teungku seumeubeut juga melakukan kemaksiatan di jalan raya dengan ngebut. Malu rasanya seorang pejabat bermaksiat di jalan raya, ada baliho besar besaran tentang “jalan damai” tetapi bagaimana itu terjadi manakala kita tak bisa berdamai sebentar saja dengan jalan raya.

Islam menyuruh kita untuk berihsan. Hatta di jalan raya nilai-nilai ihsan itu harus ada. Cukup sudah perilaku maksiat ini kita lakukan. Mari berkendaraan dengan santun, berdisiplin dan beihsan, ini semua akan menjadi berkah dalam kehidupan kita insya Allah.




Posting Komentar

0 Komentar