Pengikut

Pengikut

Advertisement

Wanita Sebagai Pencari Nafkah

Islam telah memberikan tempat terhormat kepada wanita paska datangnya risalah kenabian Muhammad. Sebelumnya wanita bahkan tak mendapat ruang sama seperti laki-laki, wanita di belahan dunia dijadikan budak bahkan kaum jahiliyah di Barat lebih ekstrim lagi dalam memperlakukan wanita dibanding kaum jahiliyah di Mekkah.

Lalu risalah kenabian telah mengubah itu semua. Bahkan menariknya Alquran sendiri mempunyai sebuah surah yang dinisbahkan kepada wanita melalui surah An-Nisak.  Namun pada perkembangan sejarah Islam selanjutnya kaum wanita kembali tak mendapat tempat, dimana ruang yang diberikan kepada wanita ini sudah melenceng dari akarnya. Di lain pihak wanita sendiri sudah kebablasan dalam  merespon eksistensi dirinya. Perilaku kebablasan itu telah membuat wanita tak lagi terhormat secara fitrah dan iffah.

Keluarnya wanita untuk mencari nafkah sedikit banyak telah memberi warna lain dalam melihat kaum hawa. Isu emansipasi wanita yang digaung-gaungkan barat berhembus juga sampai ke timur. Kaum hawa tak punya banyak waktu untuk mendidik anak, menjadi Pegawai Negri Sipil, anaknya diserahkan kepada pembantu. Wal hasil kasih sayang kepada anak sudah mulai lentur. Padahal Islam secara umum melihat peran kaum hawa sejatinya sebagai ummul madrasah (Fathullah Gulen; 2015)
Bagi kalangan Dayah kesempatan wanita berkarir umumnya tak dibolehkan dan tak banyak ummi ummi yang berkiprah di luar.  Mereka secara konsisten merawat anak dan duduk di rumah.

Sedangkan bagi kalangan akademisi, para istri mereka umumnya diperkenankan untuk berperan aktif dengan beragam profesi dalam rangka mendidik keluarga yang lebih luas yakni masyarakat.
Pengalaman penulis selama di Mesir, istri para Masyayikh juga tak sedikit yang berkiprah di luar, ulama semisal Yusuf Qardhawi bahkan putrinya menjadi ahli nuklir, ini menunjukkan Pemahaman modern tentang bagaimana menempatkan posisi wanita dalam dunia kerja.

Ada filosofi yang cukup menarik, kenapa perempuan Aceh diberi laqab sebagai Po Ti atau Po Ni, maknanya perempuan yang dihormati. Ti atau Ni ini harus lah menjadi Teue, Teue adalah daun yang berbentuk seperti payung. Filosofi payung adalah mengayomi. Maknanya para kaum hawa haruslah berperan sebagai Ti yang menjadi Teue bagi keluarga.

Istilah Peureumoh dalam bahasa Aceh dimaknai sebagai pemilik rumah harus dipahami secara benar, jika peureumoh banyak menghabiskan waktu di luar berarti turut mengurangi kesakralan fungsi peureumoh itu sendiri. Kita begitu miris melihat ibu-ibu yang bekerja di luar misalnya menjadi PNS, fenomena yang terjadi adalah ketika waktu istirahat banyak para PNS perempuan duduk ngerumpi sehingga timbul nilai-nilai yang bertentangan dengan norma agama.

Disisi lain kaum Hawa sejatinya harus dilindungi bukan membiarkannya seperti ikon Yusniar atau Da Maneh yang begitu memalukan dan melabrak nilai-nilai agama dan pranata masyarakat Aceh. peureumoh atau Rabbatul Bait  adalah sosok yang luar biasa yang bersama suami berperan penuh menjaga dan mendidik keluarga sehingga tercipta sebuah tatanan masyarakat teladan yang agamis.
Institusi Islam terbesar semisal Al Azhar memandang peranan wanita secara moderat. Antara lain terdapat dalam penyataan Ali Jumah dalam bukunya Alkamin fi Hadharatil Islamiyah bahwa peran wanita dalam Islam sebagai pemimpin sudah terwujud semenjak dahulu sebagai wujud Islam yang bertamaddun, dimana barat tak pernah memberi ruang kepada wanita.
Peranan wanita dalam skala kecil lainnya adalah menjadi pedagang, kalau dilihat di pasar-pasar umumnya hampir sebagian besarnya adalah wanita. Hal ini juga berlaku di Mesir. Begitu juga halnya di sawah, kebanyakan mereka adalah para janda yang tak lagi memikirkan untuk menikah lagi, mereka hanya ingin mencukupi kebutuhan anak-anaknya.

Menarik ketika mengulas pendapat Syekh Yusuf Qardhawi beliau  memandang wanita yang berkeja di luar hukumnya diperbolehkan. Bahkan, bisa menjadi sunah atau wajib jika wanita tersebut membutuhkannya. Seperti dalam kondisi janda, sedangkan tidak ada anggota keluarganya yang mampu menanggung kebutuhan ekonomi.

Selain itu, dalam sebuah keluarga, kadang diperlukan seorang wanita membantu ekonomi suaminya yang masih kekurangan, menghidupi anak-anak atau ayahnya yang telah tua renta. Seperti dalam cerita yang termaktub dalam surah al-Qashash ayat 23. “...kedua wanita itu menjawab, ‘Kami tidak dapat memberi minum ternak kami sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan ternaknya, sedang bapak kami termasuk orang tua yang lanjut umurnya.”

Dalil yang mereka gunakan berdasarkan Alquran Surah Albaqarah ayat 71. Ada dua pondasi yang disandarkan kepada ayat ini, pertama adanya pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, kedua tentang anjuran untuk mengerjakan perbuatan baik dan buruk. Ada Hadis Aisyah yang turut menguatkan pendapat ini bahkan Aisyah sendiri pernah menjadi imam kepada budaknya (Hisyam Kamil; 2011).

Para ulama telah melakukan istinbath hukum secara arif dalam melihat permasalahan wanita sebagai pencari nafkah. Kita mewanti-wanti jika ada wanita di Aceh bekerja mencari nafkah justru membawanya kepada jurang kehinaan dan mengurangi kehormatannya ini harus segera dicegah. Faktor pendidikan keluarga  sangat menentukan, apakah kita memilih menjadi manusia mulia atau hina di mata Allah?

Posting Komentar

0 Komentar