Pengikut

Pengikut

Advertisement

Pidie dan Rekontruksi Pendidikan Postmodern



Literatur sejarah menyebutkan bahwa tanah Pedir atau Pidie adalah sebuah kerajaan yang berdiri sendiri dulunya. Dimana status Pidie  terbebas dari pengaruh kerajaan Aceh. Namun sejarah berlanjut manakala sultan Ibrahim dengan segala ketangguhan kerajaan Aceh-nya  mampu menundukkan Pedir dibawah kuasa Aceh. Hal ini disebabkan oleh lemahnya Pidie serta adanya konflik-konflik internal antara penguasa.

Riwayat Pidie dibawah kuasa Aceh terus melambung terutama dalam pendidikannya yang kental mengusung semangat Islam. Melalui sejarah tutur terkenallah zawiyah-zawiyah (lembaga dayah) yang berdiri tegap nan gagah. Dari sanalah generasi-generasi ilmu Pidie terus lahir. Mereka adalah salah satu dari aneuk-aneuk nanggroe  yang turut serta menyumbang pikiran dan tenaga demi kelangsungan kerajaan Aceh.

Ketika Belanda datang, Pidie-pun turut serta berjuang melalui putra-putranya yang tangguh. Menariknya para pejuang itu sendiri adalah para ulama sebagai hamba-hamba yang menempatkan ilmu di tempat mulia. Perjuangan mereka adalah sebagai bentuk ibadah menegakkan agama Allah yang kemudian disebut sebagai perang sabil.

Tgk Chik di Tiro adalah salah satu dari pejuang asal Pedir itu. Beliau adalah sosok penuh semangat dalam menuntut ilmu. Kegigihan beliau dalam menimba ilmu dibuktikannya ketika berhijrah sementara ke tanah Arab (Ibrahim Alfian, 1987) Kharisma beliau  dengan keilmuwannya menjadi cahaya penerang tanah Tiro.

Namun  peristiwa Cumbok yang terjadi di Pidie pasca minggatnya Jepang menjadi catatan sejarah kelam. Yakni disaat putra-putra Pidie tak punya banyak kesempatan  untuk terus meningkatkan keilmuwannya. Nyaris Pidie  berada pada keterpurukan yang serba tak menentu. Namun kita bersyukur dibawah situasi yang tak menentu itu ada satu dua putra Pidie yang terus berjuang menimba ilmu hatta ke luar negeri sekalipun.

Riwayat kelam tanah Pedir dan Aceh umumnya terus berlanjut dengan adanya pergolakan-pergolakan akibat ketidakadilan dan tujuan mempertahankan harga diri. Menariknya lagi pergolakan-pergolakan itu digerakkan oleh putra tanoh Pidie sendiri seperti sosok Abu Beureueh, seorang ulama kharismatik Aceh. Dikemudian hari kelak anak muridnya Tgk Hasan Tiro melanjutkan perjuangan itu.

Perjuangan Tgk Hasan Tiro bahkan tergolong lebih keras dari gurunya dengan mengusung semangat pembebasan. Rasa ketidakadilan dan diskriminasi yang dilakukan pemerintah pusat menjadi salah satu faktor utama dalam pergolakan itu selain alasan historis sendiri (Munawar A. Djalil, 2009).

Akhir dari pergolakan itu adalah lahirnya MoU Helsinki yang terwujud beberapa bulan pasca tsunami menghentak Aceh. MoU Helsinki memberi angin baru bagi Aceh untuk bisa menghirup damai pasca perang berkepanjangan.Pastinya akan  ada harapan-harapan besar untuk membangun kembali dunia pendidikan di Aceh khususnya Pidie sebagai sentral konflik.

Rekontruksi Ke Arah yang Lebih Baik
Seyogyanya hamba-hamba ilmu Pidie bisa memanfaatkan harapan-harapan besar pasca damai untuk merekontruksi pendidikannya. Namun sayangnya Pidie hari ini masih saja terkesan berdiam diri. 10 tahun lebih pasca damai, pendidikan di Pidie belum menunjukkan bayangnya.

Pengangguran masih saja berlanjut saban tahun.  Mental generasi Pidie sendiri masih saja terpuruk dimana kemalasan dalam aktivitas keilmuwan  meningkat tajam. Kenyataanya generasi muda Pidie terus saja lalai dengan  perbuatan-perbuatan yang tak mendatangkan manfaat. Lebih miris lagi manakala peran  orang tua dan masyarakat sekitar turut mendukung laku ini.

Penulis juga melihat sebuah kenyataan bahwa semakin banyak balee-balee di kampung akan semakin bertambah orang-orang bermental pemalas. Ini dikarenakan balee menjadi tempat perkumpulan para pengangguran muda untuk bersenda gurau menghabiskan waktu atau dalam istilah Aceh sering disebut dengan cang panah.

Untuk itu Pidie harus segera berbenah kembali, mengobati penyakit-penyakit sosial ini sebagai langkah awal rekontruksi pendidikan. Doktrinisasi keagamaan sangat urgen  dilakukan kepada mereka generasi muda Pidie. Karena secara lahiriah mereka adalah orang-orang yang masih bersih jiwanya (gleh hatee), umur seusia mereka masih  mau mendengarkan dan mematuhi apa yang menjadi tugasnya sebagai generasi muda.

Maka salah satu upaya untuk menciptakan kembali generasi ilmu yang berakhlak luhur  adalah melalui Islamisasi pendidikan sebagaimana yang disebut oleh Teuku Zulkhairi dalam tulisannya Pendidikan Islami di Aceh, Apa Kabar? (HA, 1 April 2011).

Yakni dengan menjadikan semua mata pelajaran di sekolah berbau Islam. Pelajaran Fisika atau Kimia misalnya lebih baik kalau penjelasannya  turut menyertakan nilai-nilai Islam. Hal ini bertujuan menciptakan para generasi ilmu Pidie sebagai generasi religius yang menguasai tekhnologi.

Selanjutnya adalah memasukkan kewajiban menghafal Alquran sebagai kebijakan baru. Kegiatan ini rincinya bisa dimulai dari ayat-ayat pendek dahulu. Program one day one ayat bisa menjadi awal untuk menggerakkan laku mulia ini. Bersebab ini bukanlah hal yang baru karena pendidikan di Mesir sebagai lumbung ilmu pengetahuan Islam telah mempraktekkannya. Di Universitas Al-Azhar sendiri, jurusan kedokteran turut mewajibkan hafalan Alquran bagi mahasiswanya. Sebagai wujud untuk melahirkan para penuntut ilmu (thalabul ilmi) hakiki  yang religius.

Setidaknya semangat Imam Syafi’i telah tumbuh kembali walaupun pelajar postmodern sama sekali tidak bisa menandingi kehebatan dan kegigihan para ulama shalafus shalih sekaliber Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu. Dimana beliau sanggup menghafal Alquran masa kecilnya sebelum beranjak jauh menggeluti berbagai disiplin ilmu.

Selain itu menumbuhkan mental membaca adalah satu hal mutlak yang harus dilakukan.  Pemerintah  perlu memperbanyak pustaka-pustaka di Pidie mengingat wilayah ini yang lumayan luas.  Tak kalah pentingnya lagi adalah optimalisasi semua intitusi pendidikan di Pidie. Dalam hal ini peran Universitas Jabal Ghafur sebagai kampus kebanggan masyarakat Pidie perlu ditingkatkan kembali.
Apabila kampus ini benar-benar berbenah dengan tenaga pengajar berkualitas maka bukan tidak mungkin Pidie ke depan akan memiliki kampus setara dengan universitas-universitas Malaysia. Apalagi tempatnya yang srategis dengan kesejukakan alamnya  turut menambah  nilai Jabal Gafur, sehingga suasana seperti ini kelak akan menjadi penyemangat generasi muda Pidie bergelut dalam dunia ilmu.
Sekali lagi Pidie perlu segera merekontruksi pendidikannya dengan berbagai upaya yang penulis maksud. Lagi-lagi peran orang tua dan masyarakat adalah satu kewajiban utama untuk mengarahkan anaknya. Tentu saja kebijakan pemerintah sangat kita tunggu dengan mendirikan sebanyak-banyaknya pustaka di Pidie.

Upaya Islamisasi dalam hal ini  tak boleh dipandang sebelah mata, karena pendidikan dengan pendekatan kepada agama sudah terbukti berhasil memanusiakan generasi ilmu. Yakni terbebas dari melakukan pelanggaran norma agama, sekaligus menciptakan generasi-generasi ilmu di Pidie yang shaleh dan cerdas.

Kita sangat ingin Pidie postmodern dihuni oleh para generasi yang  akrab dengan berbagai literatur ilmu. Sehingga pada suatu masa kita akan melihat para generasi Pidie benar-benar disibukkan dengan kegiatan intelektualnya. Kita akan menyaksikan sekian banyak produktivitas ilmu  lahir dari tangan generasi Pidie. Saat itu adalah masa dimana aktivitas membaca dan menghafal ada di setiap sudut jalan ataupun di halte labi-labi. Betapa bangganya Pidie.

Juga menjadi fakta bahwa banyak sekali generasi Pidie yang justru mengabdi di luar dengan beragam faktor. Pemerintah setempat sepertinya harus turun tangan memanggil sumber daya manusia Pidie yang handal apalagi dalam ilmu agama untuk mengajak bersama-sama membangun Pidie.

Ketiadaan penghargaan baik dari pemerintah maupun khalayak luas agaknya menjadi salah satu faktor para generasi ilmu Pidie enggan untuk mengabdi ilmunya di tanah kelahiran. Namun disisi lain harus diakui bahwa tanah Pidie seperti menyimpan banyak tantangan.  Bukan Pidie namanya kalau tidak ada tantangan sama sekali. Pidie mau tak mau harus ditakhlukkan oleh generasi ilmu dari Pidie sendiri. Untuk menjadi Pidie yang bercahaya dengan segala kebaikan dan keilmuwan Insya Allah.


Posting Komentar

0 Komentar