Pengikut

Pengikut

Advertisement

Belajar Filosofi Poligami

Paska mendapat kabar tentang Arifin Ilham yang melangsungkan pernikahan ketiga mendadak publik bereaksi, ada yang memuji langkah beliau yang tetap istiqamah melakukan poligami dan tak sedikit juga yang.menghujat. Penghujatan kepada Arifin Ilham bukan tanpa alasan. Praktek poligami terus saja menjadi isu negatif di tengah masyarakat kita yang terbiasa dengan monogami.

Dalam bahasa Indonesia poligami diartikan sebagai; ikatan perkawinan yang salah satu pihak memiliki/mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yang bersamaan atau suatu adat seorang laki-laki beristri lebih dari seorang perempuan. Pun jika melihat beragam literatur Arab, banyak sudah yang menulis tentang permasalahan pologami, ini menunjukkan bahwa diskursus poligami tak bias disepelekan begitu saja. Perlu menghabiskan bergelas-gelas kopi untuk sekedar berbicara tentang poligami.

Jika melihat litaratur sejarah. Maka praktek poligami telah lama dilakukan masyarakat Arab. Praktek ini juga dilakukan para nabi nabi yang mulia seperti nabi Ibrahim alaihi salam. Lalu Islam lahir dengan tidak menghapus tradisi poligami tetapi menekan angka poligami dengan dibatasi menjadi empat saja. Dalilnya berdasarkan Alquran Surah Anisa, ayat 3. 

Melihat sisi Antropologi budaya masyarakat Arab kala itu memang wajar sekali ketika Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin menjaga tradisi tersebut. Riwayat poligami terus berlanjut sampai kemudian regulasi poligami ini tiba di Nusantara. Masyarakat Nusantara mencoba beradaptasi dengan tradisi poligami yang kemudian secara resmi diatur dalam KHI dan undang undang pernikahan tahun 1974.

Dimana dalam regulasi Indonesia sendiri penerapan konsep pologami agak ketat dengan adanya persetujuan istri pertama untuk bisa berpoligami. Bahkan ditambah pula apabila ada ditemukan kecacatan dari pihak istri.

Walaupun dalam regulasi literatur fikih sendiri sama sekali tak menyebut adanya izin dari istri. Hal ini wajar sekali karena kala itu wanita nya rela untuk dimadu karena kualitas iman yang dimiliki sedemikian kuat ditambah dengan laki lakinya sebagai suami yang shaleh.

Keadaan justru terbalik manakala praktek pernikahan akhir akhir ini tak lagi dimaknai menjadi sebuah akad mitsaqan ghaliza. Punya istri satu saja sudah bermasalah dengan merebaknya  perselingkuhan ditambah lagi isu kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini kemudian menyebabkan meningkatnya gugat cerai. Fakta bahwa kasus gugat cerai yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir sangat tinggi. Fakta ini kemudian menjadi tolak ukur bahwa kehidupan pernikahan di Indonesia telah berada pada titik nadir.

Pelajaran dari Poligami Arifin Ilham
Penulis mendapatkan sebuah pelajaran baru dari praktek poligami Arifin Ilham. Bahwa bahwa pernikahan itu tidaklah main main. Pernikahan merupakan akad yang mengikat martabat manusia. Pernikahan akan melahirkan sebuah keberkahan dalam rumah tangga. Arifin ingin mengingatkan publik bahwa perceraian tidak dianjurkan dalam Islam.

Falsafah poligami menunjukkan sebuah kematangan dalam keluarga. Seorang laki laki dituntut untuk adil. Tidak berlebihan jika mengatakan Arifin menjadi tolak ukur seorang pria sejati di Nusantara pada abad ini. Beliau begitu dicintai oleh keluarga  yakni istri istrinya begitu juga dengan masyarakat di Indonesia. Arifin dalam kesehariannya selalu menyemai kasih sayang dan menjauhkan permusuhan. Filosofi ini agaknya harus kita tanam dalam keluarga kita yakni menyebarkan cinta dan kasih sayang.

Disisi lain, praktek poligami telah jauh jauh hari juga coba dilakukan oleh para ulama kharismatik Aceh. Bahkan ada juga elit pejabat yang melakukannya.  Walaupun disisi lain ada praktek poligami yang tak berakhir sempurna.  Seorang wanita yang bisa menerima praktek poligami dengan tulis telah menjadikan dia setingkat leboih tinggi daripada perempuan biasa. Dimana para kaum hawa ini mampu untuk berbagi cinta dengan para madunya. Secara fitrah,  tak semua perempuan dan laki laki  sanggup untuk melakukan ini. 

Jika melihat kepada maqashid syariah, poligami akan mendapat ruang besar manakala jumlah wanita di dunia ini semakin banyak dibanding laki-laki, apalagi konflik yang melanda timur tengah telah membuat banyak wanita disana menjadi yatim dan kehilangan suaminya. Pernikahan ini dimaksudkan untuk menyelamatkan mereka apatah lagi jika mampu membawa perempuan timur tengah menjadi istri ke Aceh akan tercipta sebuah komunitas baru yang kaya khazanah. Lemparan-lemparan logika ini akan sangat disenangi oleh para laki-laki yang dalam hatinya masih berambisi berpoligami.

Bagaimanapun, poligami telah menjadi sebuah konsep cerdas yang dipertahankan dalam Islam. Manusia tak berhak dalam posisinya menerima atau menolak poligami karena sudah menjadi permasalahan final dalam agama. Tetapi manusia mendapatkan ruang untuk membenahi bagaimana sebuah konsep poligami ideal. Ada manusia yang terus menjalani hidupnya dengan monogami yang sakinah mawaddah wa rahmah, ada manusia yang menjalani poligami dengan sangat bahagia. Selebihnya ada manusia yang justru hidup liar tanpa aturan tuhan.


Tulisan ini bukanlah sebagai anjuran untuk mempraktekkan poligami. Sudah seharusnya kita belajar kembali tentang filosofi poligami bahwa pernikahan  itu adalah sebuah akad kuat antara laki laki dan perempuan dimana disana ada saling mengasihi, ada tanggung jawab dan unsur saling meringankan. Salah satu filosofi pernikahan adalah belajar sepanjang hayat. Bahwa selalu saja ada ilmu baru yang kita dapat dari kepribadian pasangan, apalagi jika memiliki lebih dari satu pasangan. Betapa poligami telah mengajarkan kita untuk terus bertaqwa kepada sang pemberi cinta.

Posting Komentar

0 Komentar