Pengikut

Pengikut

Advertisement

Masyarakat Aceh Pasca Ramadan

Narasi kehidupan masyarakat Aceh telah kembali dimulai pasca Ramadan, aktifitas mencari nafkah, berkantor kembali aktif dan masing masing tenggelam dalam kesibukan. Sejauh mana kita memposisikan aktifitas pasca Ramadan dalam hidup ini? Hal seperti ini penting kita tanyakan kembali agar ruh dan bekas ibadah Ramadan mempunyai makna yang berarti bagi masyarakat Aceh. Ibadah Ramadan diikuti dengan perayaan Idul Fitri haruslah dilihat sebagai upaya kita meningkatkan kualitas diri. Kita bermuhasabah tentang kualitas hablum minallah  dan hablum minan nas.

Hablum minallah bermakna hubungan dengan Allah, bagaimana kabar ibadah shalat dan puasa kita selama ini. Rasulullah Saw dalam hal ini bersabda shallu kama raitumuni ushallli. Kita benar-benar terkesima dengan ibadahnya Rasulullah, ada pengajaran luhur tentang upaya untuk  tak sekedar melakukan ibadah ragawi penuh hambar. Rasulullah mengajarkan tentang ubudiyah, dimana dengan berubudiyah bermakna  kita telah beribadah  dengan penuh keikhlasan dan kelezatan.

Bayangkanlah ketika kita shalat, itu adalah shalat terakhir sebagaimana yang dikupas oleh syekh Shalih Jakfari Al Azhari, pendiri thariqah Jakfariah di Mesir, juga kita bayangkan kalau dibawah kita ada shiratal mustaqim, di depan kita adalah Kakbah, dibelakang ada Malaikat Maut, dikanan ada Syurga dan di kiri ada Neraka. Bayangkan juga kalau kita shalat bersama Rasulullah Saw. 

Budaya Baca Alquran.
Nas-nas agama yang menceritakan tentang keutamaan membaca Alquran sudah sering kita jumpai. Budaya membaca Alquran di kampung-kampung secara umum mengalami degradasi nilai yang lumayan parah. Kita belum mampu merespon arus globalisasi yang menerjang pelosok Aceh. Justru kita hanyut dalam pusaran itu, televisi yang menjajakan tontonan visual tak ramah terus saja mengisi ruang hati para ibu. Anak-anak dibelikan gadged sehingga usia yang matang itu seharusnya dimanfaatkan untuk mencecap ilmu agama dan belajar membaca  Alquran kandas begitu saja.
Di Mesir walaupun  arus gobalisasi itu sangat terasa, namun budaya baca Alquran sudah tertanam dengan baik, sehingga dengan mudah kita akan menemukan penumpang kereta api bawah tanah, penjaga mall dan supermarket membaca Alquran. Kita ingin kondisi ini ada dalam lingkungan Aceh yang islami.

Di Mesir Alquran juga di baca di Masjid-Masjid oleh para pemuda, yakni ketika beberapa menit shalat lima waktu plus ketika waktu Jumat tiba. Di Aceh fenomena yang terjadi selama ini adalah pembacaan Alquran lewat kaset-kaset, bahkan ada Masjid ketika Jumat tiba kaset yang diputar sudah lebih sepuluh tahun. Sebenarnya ada peluang besar untuk meng-upgrade semangat anak dan pemuda Aceh lewat budaya baca Quran di Masjid-Masjid mengantikan kaset. Sudah saatnya kita mengiring anak-anak untuk semangat dalam membaca Alquran.

Mambina Masyarakat Madani.
Sebagaimana dijelaskan Sayyidina Jakfar bin Abu Thalib dihadapan Raja Najasyi ketika berhijrah ke negeri Ethiopia. Rasulullah seorang yang selalu membina dan menjaga hubungan keluarga dan kekerabatan, menyantuni anak yatim. Rasulullah sebagaimana dipaparkan dengan sangat gamblang oleh Abu Sufyan dihadapan raja Romawi, beliau seorang insan yang tak pernah berbohong, selalu melemparkan nilai –nilai kebaikan disetiap relung hati kaum muslimin. Rasulullah adalah manusia yang selalu berkasih sayang.

Lihatlah bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah ketika terjadinya Fathul Mekkah dimana semua penduduk Mekkah yang tersisa seperti Abu Sufyan mendapat amnesti dari Rasul, dan Rasulullah memberikan penghargaan mulia kepada Abu Sufyan. Lihatlah bagaimana Rasulullah bertindak bukan sebagai insan yang pendendam. Padahal ketika terjadinya perang Uhud yang paling bersemangat memerangi Rasulullah adalah Abu Sufyan.
Ketika ada jenazah kafir lewat, Rasulullah memberi teladan yang sangat mulia sebagai bentuk penghormatan mulia sesama manusia. Sampai-smpai seorang sahabat menanyakan sikab Rasulullah Saw tersebut.  Lihatlah bagaimana Rasulullah Saw mengajarkan kita cara bermuamalah sesama manusia.

Lantas kenapa masih kita temui fenomena mengkafirkan sudara seagama. Orang yang melaksanakan shalat jamaah dan melaksanakan sunat-sunat Rawatib kita hina. Orang yang selalu melaksanakan shalat Dhuha kita fitnah. Orang yang menghafalkan ayat-ayat Allah kepada generasi muda Aceh kita katakan telah mengajarkan aliran sesat.

Aktifitas pasca Ramadan tahun ini dan seterusnya harus dibangun kembali dengan pola yang berkualitas. Sudah saatnya rekonsialiasi lintas personal masyarakat Aceh baik di tingkat kampung dan seterusnya. Termasuk didalammnya meningkatkan hubungan harmni antara keluarga, suami, istri dan anak. 

Bangun kembali nuansa keilmuwan di Aceh agar generasi muda bertambah semangat dalam mengeluti keilmuwan. Kita berharap, pasca Ramadan tidak lagi kita membuang-buang energi melakukan hal-hal yang tidak produktif. Belajar kepada kisah Rasulullah dan sahabat dalam jangaka waktu yang singkat mampu membangun peradan Islam yang dasyat dan santun. Semoga!


Posting Komentar

0 Komentar