Pengikut

Pengikut

Advertisement

Nikah Ala Generasi Milenial


Syariat Islam yang turun kepada manusia sarat dengan berbagai hikmah. Hal ini dimaksudkan agar manusia mendapatkan kelapangan dalam kehidupan di dunia. Salah satu tujuan syariat adalah melestarikan kehidupan manusia melalui pernikahan. Dengan adanya pernikahan maka bertambahlah keturunan. Adanya pemeliharaan keturunan menjadikan bumi semakin makmur, sehingga penciptaannya tak sia-sia. Dengan formulasi yang diatur Islam, narasi pernikahan itu sudah seharusnya membawa kelanggengan dan kebahagiaan.
Ada beberapa hadis yang mengisyaratkan untuk bersegera menikah bagi yang sudah terpenuhi syarat syaratnya. Diantaranya Hai pemuda-pemuda, barangsiapa diantara kamu yang mampu serta berkeinginan hendak menikah, hendaklah ia menikah. Kerana sesungguhya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata terhadap orang yang tidak halal dilihatnya, dan akan memeliharanya dari godaan syahwat. Dan barang siapa yang tidak mampu menikah, hendaklah ia puasa, karena dengan puasa hawa nafsunya terhadap perempuan akan berkurang” (Riwayat Bukhari Muslim) .
Fakta yang terjadi kemudian sebaliknya, begitu banyak terjadi ketidakseimbangan dalam rumah tangga, tidak terpenuhinya hak dan kewajiban, konflik yang berakhir pada penceraian. Hal hal seperti ini sudah tak sesuai lagi dengan apa yang diinginkan syariat. Padahal Islam mempunyai metode dalam hal membangun rumah tangga, mulai dari interaksi dengan lawan jenis, bagaimana itu ta'aruf sampai pada jenjang akad nikah.
William Strauss adalah pencetus penamaan milenial untuk generasi  yang lahir tahun 1982-2004 dengan karakteristik tertentu. Merujuk kepada Wikipedia, kaum milenial lahir ketika dunia modern dan teknologi canggih diperkenalkan publik, sayangnya generasi milenial disatu sisi masih dikonotasilan sebagai generasi pemalas. Hal ini yang kemudian membawa pengaruh besar ketika generasi milinial mulai menapaki jenjang pernikahan, dimana angka perceraian banyak menimpa generasi ini, membunuh istri sampai memotong alat vital pasangan juga pelakunya adalah sebagian dari para generasi milenial.
Terjadinya perselingkuhan, perzinaan dan khalwat sampai LGBT sebagian pelaku utamanya juga adalah para generasi milenial. Jika pernikahan masa dulu dinarasikan dengan sangat sakral, bahkan foto pernikahan saja hanya orang tertentu saja yang bisa mengakses, berbeda dengan generasi milenial, akses ruang suami istri dengan mudahnya menjadi konsumsi publik lewat media. Fakta bahwa anak kelas SD-SMA dengan mudahnya dapat mengakses media sosial. Kegiatan sosial media ini jika tak diawasi akan menjadi bom waktu bagi pengembangan karakter generasi muda, ia bahkan menjadi bom bunuh diri bagi keluarga. Alquran menyebut qu anfusikum wa ahlikum nara; jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
Maka atas dasar itu,  perlu menjadi perhatian bersama tentang pengawasan generasi muda milenial ini. Harus diakui bahwa  menikah dalam usia muda untuk zaman milenial ini memang sudah sewajarnya, melihat kepada pengaruh lingkungan yang sangat rentan dan  agar maqasid syariat yang Allah turunkan tetap terjaga.  Para orangtua harus menyadari dengan perkembangan teknologi masa sekarang yang kian pesat, anak-anak muda sering kali mengabaikan nilai-nilai moral dalam mengakses media sosial. Kisah pembunuhan pacar yang dikenal lewat media sosial dan lain sebagainya menjadi pelajaran penting betapa ganasnya pergaulan milenial.
Solusi ketika sang anak sudah mulai berpikir tentang lawan jenis sebaiknya anak tersebut dibina dan didukung untuk berumah tangga dengan membantu pembiayaan mahar (kolektif) demikian juga dengan orang tua yang memiliki anak perempuan. Dengan demikian diharapkan anak tersebut yang sudah berada pada usia menikah, memiliki tanggung jawab jawab dan pengalaman berkeluarga dan terus mengembangkan diri menjadi pribadi yang baik bagi pasangannya.
Jangan sampai menjadikan pernikahan itu sebagai jalan akhir karena tertangkap melakukan khalwat. Sebagaimana marak terjadi akhir-akhir ini di Aceh, lantas tak lagi menjadikan nilai pernikahan itu sakral penuh nilai kasih sayang dan tanggung jawab. Maka para generasi muda yang baru berada pada usia menikah itu perlu diingatkan selalu, diawasi oleh walinya agar kesakralan dan keberkahan pernikahan itu dapat terwujud.
Perlu kita ketahui bahwa pernikahan adalah perjanjian yang kuat antara pasangan. Maka dalam hal pernikahan tidak ada lagi yang namanya unsur main main. Narasi kehidupan yang dijalani adalah narasi perjuangan dan kesabaran. Perlu mempersiapkan segala kebutuhan yang bersifat abstrak seperi kemantapan jiwa dan ilmu menikah.  Tak bisa disangkal jika ta'aruf melalui media pada masa ini sudah bukan lagi sesuatu yang baru, banyak pasangan yang menikah karena interaksi sosial media. Banyak juga pasangan suami istri bercerai karena sosial media.
Menjaga generasi milenial ini termasuk memberi ilmu-ilmu pernikahan merupakan bagian daripada menjalankan syariat Islam.  Sudah seharusnya pemerintah membuat banyak pelatihan dan seminar, menghadirkan para pakar yang fokus pada permalasahan keluarga. Agar tujuan daripada pernikahan generasi milenial, yakni terbinanya keluarga muda yang sakinah , mawaddah wa rahmah dapat terwujud.


Posting Komentar

0 Komentar