Pengikut

Pengikut

Advertisement

Pengajian Ayah Sop

Tadi malam kami berada dalam majlis pengajian ayah Sop Jeunieb, Senin malam, 2 April 2019 di masjid Blang Paseh Sigli. Lemparan lemparan analogi ayah Sop tentang konsep kehidupan begitu memikat dan mudah dicerna. Kami terkesima. Nama ayah Sop sudah berada di kepala kami ketika pertama kali menemukan tulisan dakwah beliau di harian Serambi, ketika kami masih berada, menuntut ilmu di Al Azhar, Kairo Mesir. Selanjutnya ketika pulang ke Aceh, Allah beri kesempatan kami untuk menghadiri beberapa pengajian beliau. Kami berharap kedepannya bisa bersilaturrahmi ke tempat beliau yang mulia, mengambil ilmu dan keberkahan.

Malam kemarin ayah Sop membahas tentang pentingnya menghadiri majlis ilmu. Hidup di dunia ini butuh kepada ilmu. Hidupnya hati itu dengan ilmu. Keindahan dan ruang kesadaran akan terbuka dengan menghadiri majlis ilmu. Ayah Sop juga menjelaskan filosofi kematian menuju kehidupan alam barzakh. Bahwa panca Indra kita terbatas mendekteksi alam mulki. Sementara alam malakut tak bisa terdeteksi. Hidup dunia ini harus terus menjaga keseimbangan, mencari rezeki harta harus menjadi alat untuk menuju akhirat.

 Ayah Sop menambahkan bahwa sebenarnya setiap hari kita lagi melakukan perjalanan menuju surga atau neraka, fisik boleh saja berada di tempat ini, tapi sebenarnya kita tengah melakukan perjalanan ruhani untuk semakin dekat kepada Allah. Ada banyak waktu terkadang kita habiskan untuk mengumpat atau sebaliknya dengan ilmu kita bisa menjaga lisan (adabul lisan). Selain nafsu dan syaitan, lingkungan juga mempengaruhi perilaku. Maka semuanya harus disikapi dengan metodelogi ilmu. Ilmu mengontrol nafsu, syaitan dan lingkungan.

Begitu juga dalam rumah tangga, ada rumus ilmu, jangan munculkan perasaan dan ego masing masing pasangan. Sikapi konflik rumah tangga dengan neraca ilmu. Berjuang melawan nafsu itu ibarat mandi pada cuaca yang dingin, selesai mandi badan akan terasa segar. Kita perlu melawan arah, nafsu menghendaki ke kiri kita harus menuju ke kanan. Makan sampai kenyang, setelah kenyang lalu kita katakan tidak enak, inilah tipu daya nafsu. Ayah Sop kembali mengingatkan bahwa beramal harus sesuai ilmu. Ilmu sejatinya bukan untuk memamerkan kecerdasan. Mempunyai Ilmu akhlak belum tentu ia berakhlak, untuk itu perlu latihan dan pengamalan. Ibarat seseorang punya banyak obat, tapi obat tersebut tak pernah diminum, padahal tubuhnya sudah dibanjiri beragam penyakit. kekuatan dan persatuan umat itu modalnya adalah akhlak. Hukama menyebutkan bahwa ada tiga yang sulit disembuhkan: berkumpulnya malas dan miskin, tua dan sakit, dengki dan permusuhan. Maka jika ada dengki dan permusuhan ini pada jiwa kaum muslim maka selamanya kaum muslim itu tak pernah bisa bersatu. Hafidhahullah Ayah Sop Jeunib.

Posting Komentar

0 Komentar