Pengikut

Pengikut

Advertisement

Ibukota dan Ilmu Pengetahuan

Melihat kepada sejarah Islam zaman klasik, kawasan ibukota  dan kota kota Islam turut mempengaruhi berkembangnya ilmu pengetahuan. Madinah kemudian menjadi inspirasi bagi filsuf sebagai Madinah al-Fadilah, sebuah contoh negara ideal masa Rasulullah dan khalifau al- Rasyidin.

Masa Bani Umayah ibukota dipindah ke Damaskus, Syiria. Disana eksistensi budaya Arab masih sangat kental. Pasca 90 tahun berkuasanya Bani Umayah, Abbasiyah kemudian mengambil alih kekuasaan dan menjadikan Baghdad sebagai Ibukota. Disini Baghdad memainkan peran penting, segala penerjemahan dari Yunani ke Arab atau sebaliknya.

Sumbangan pengetahuan Persia, Bizantium, Yunani dan India menambah gemerlapnya kota Baghdad. Selain itu ada kota Bukhara, Naisabur, dan Rai. Baghdad menjadi alful lail wa lailah. Semua silang budaya itu dibahasakan dalam bahasa Arab, sebagai bahasa utama dan menjadikan Alquran dan Hadith sebagai pijakan utama menyeleksi kreatifitas akal dimaksud. Kota Granada, Madrid, Kordova  dan Toledo merupakan basis kota ilmu Eropa.

Andalusia kemudian mewariskan keilmuwannya kepada pelajar Eropa. Di Kordova sendiri ada perpustakan terbesar se eropa. Pasca kota itu hancur, maka kegiatan ilmu berpindah ke Kairo, Iskandariyah, Damaskus, Halab, lintas Mesir dan Syam melalui daulah Fatimiyah dan Ayyubiyah  Pada abad ke 15 dan 16 Bandar Aceh sebagai ibukota Aceh Darussalam juga memainkan peran penting dalam ilmu pengetahuan. Bahasa Melayu menjadi bahasa ilmu di alam Melayu, ada kitab Turjam Al Mustafid, syekh Abdur Rauf al- Singkili, kitab Siratul Mustaqim, syekh Nuruddin Ar Raniry dan berbagai kitab lainnya.

Kemudian pasca era pertengahan, peran ibukota dan pengetahuan mengalami penurunan. Islam diserang dari timur dan barat, perang salib banyak menghabiskan energi, ditambah lagi konflik internal. Utsmani di Istanbul, memang waktunya lebih lama dibanding Abbasiyah. Tetapi  peran Ustmani dalam pengembangan ilmu tak secerah Baghdad. Kemajuan yang sangat kental adalah bidang kemiliteran, ada seorang ilmuwan Utsmani bernama Haji Khalifa, kitabnya Kasyfu al- Zunun, Taqwimu al-Tarikh dan lain lain. Diakui, bidang seni, syair dan arsitektur Utsmani telah banyak menyumbangkan prestasi.

Maka sekarang ini kota Kairo dengan Al Azharnya menyimpan seribu satu kenangan. Masjid Azhar menjadi saksi kehebatan peradaban Islam melalui beberapa zaman. Kairo, kota lama yang dibangun kembali oleh salahuddin Al Ayyubi masih bertahan dan memiliki lembaga tertua yang teruji sepanjang zaman, Jamiah Al Azhar, pusat keilmuwan dan juga tariqah. Kairo, tiga kali lebih besar dari Baghdad, mengalir sungai Nil, tempat lahir dan singgah para ulama besar dunia. Sesuai maknanya, Qahirah berarti pemenang; penakhluk. Percayalah, jika kita tak mampu dan tak ingin mengambil peran sebagai pemenang kita akan ditakhlukkan, terbuang ke dalam jurang kehinaan dan kemaksiatan. Banyak kota Islam dulunya sekarang sudah takhluk, alih alih menjadi pusat keilmuwan, maksiat terus bertambah, warung dimana-mana dengan kepulan asap dan pubg, ada lembaga ilmu, tapi  banyak  menghabiskan energi  berebut harta ganimah. Belajarlah kepada sejarah, Ibukota itu mesti diarahkan kembali untuk bergandengan mesra dengan ilmu pengetahuan. 


Posting Komentar

0 Komentar