Pengikut

Pengikut

Advertisement

Rumah Tangga Indonesia dan Poligami


Jika diibaratkan sebuah keluarga, maka Indonesia  adalah sebuah keluarga yang terdiri dari empat Istri (poligami) Dalam perjalanan rumahtangganya, sering kali terjadi keributan atau dalam istilah fikih disebut dengan syiqaq. Perselisihan demi perselihan terus terjadi. Memang benar dalam sebuah rumah tangga rumus perselihan kecil harus ada sebagai bumbu keromantisan, perselihan bisa menjadikan pelajaran antar pasangan untuk belajar mendewasakan diri dan memahami perilaku pasangan dan yang terpenting bagaimana cara menyelasaikan kasus dan pendekatan apa yang dipakai.

Pernah rumah tangganya Indonesia , suaminya bernama Jakarta melakukan kekerasan fisik kepada Istri-istrinya, bahkan juga kepada ibu kandungnya sendiri. Padahal istri dan keluarganya bersusah payah memberikan sumbangan yang besar demi karir sang suami. Sampai kemudian, ketika ibu kandungnya merasa kedurhakaan yang luar biasa dari sang anak, maka sang ibu meminta untuk tidak lagi tinggal dalam rumah besar bernama Indonesia. Apa yang terjadi? Permintaan ini menjadikan sang anak menjadi berang dan berlaku semena-mena, ia menampar wajah sang ibu, mencabik-cabiknya sampai terluka.

Tapi ada saatnya sang anak menyesal, lalu bersimpuh memohon maaf atas masa lalu itu, tidak ada ibu yang tidak menaruh belas kasihan, akhirnya redalah konflik ibu dan anak. Tetapi sang suami bernama Jakarta ini terus mendapatkan serangan dari istri-istrinya yang tinggal berjauhan, ia menuntut keadilan, tetapi keadilan itu tak kunjung datang, rumah suami dan istri terlalu berjauhan, sampai sang suami bernama Jakarta tak mengenal karakter istrinya secara sempurna. Satu istri dan lainnya berbeda karakternya. Bahkan perselihan mencapai puncaknya, karena saling mengejek antara istri satu dengan lainnya. Kemudian suami mulai menenangkan istrinya. Suami takut kalau sampai kasus-kasus keluarganya dibongkar ke mahkamah agung atau mahkamah syariah.

Sudah berpuluh tahun hidup bersama tetapi sesnsifitas dan sentimen tak pernah berhasil direndam, sedangkan rumah tangga sebelah yang hanya memiliki satu istri agak-agaknya sangat sakinah mawaddah wa rahmah. Ah, mungkin saja sang suami tak mau terpengaruh dengan pameo rumput tetangga lebih hijau. Rumah tangga Indonesia juga memiliki permasalahan lain, ia memiliki banyak anak yang tak mampu dinafkahi, padahal menafkahi anak dan istri adalah sebuah kewajiban bagi suami, jika ini tak dilakukan maka ia akan berdosa, sesuai dengan perundang-undangan, sang anak mempunyai hak untuk menuntut ayahnya di pengadilan.

Hasilnya sang anak terlalu baik dan bersabar, ia pergi ke rumah tetangga untuk mencuci piring, berkerja apa yang bisa dikerjakan, bahkan menjadi babu sekalipun, sang anak kerap disiksa dan dilecehkan, datang lagi sang ayah untuk membelanya. Setahun sekali, suami secara kontinyu memperingati ulang tahun pernikahannya, meyakinkan kepada sang istri dan anak-anaknya bahwa keluarga kita akan menjadi keluarga sakinah ma waddah wa rahmah. Ah, bulshit, teriak  salah satu istrinya. Ayah bohong, celutuk beberapa anak. Demikianlah, keluarga ini akan terus belajar dan menjadi pembelajar, mempertahankan keluarganya, meredam gejolak amarah para istri dan menjaga rumah tangganya agar tidak bubar.



Posting Komentar

0 Komentar