Pengikut

Pengikut

Advertisement

Wajah Antropologi Keluarga di Australia


Antropologi keluarga di satu negara dengan Negara lain sangat berbeda, hal itu ditandai dari bagaimana masyarakatnya berkenalan satu sama lain, proses meminang, besaran mahar, bagaimana pesta perkawinan dilangsungkan, sampai bagaimana hubungan antara satu keluarga dengan keluarga lainnya. Hal ini menunjukkan begitu beragamnya masyarakat di berbagai belahan dunia sebagai kasih sayang tuhan  kepada manusia di muka bumi ini.  
https://www.cheria-travel.com/2019/09/lomba-blog-cheria-holiday-9-2019.html
Keberagaman antropologi perkawinan tersebut dapat  dijumpai di sebuah benua sekaligus negara yang sangat unik dengan beragamnya masyarakat disana. Australia terkenal dengan penduduk bersuku Aborijin, penduduk ini merupakan pewaris tradisi kebudayaan tertua dunia yang masih langgeng. Literatur Australia menyebutkan bahwa mereka telah berdiam di Australia selama lebih dari 40.000 tahun dan mungkin hingga 60.000 tahun. Komponen Penduduk Australia lainnya adalah migran atau keturunan migran yang tiba di Australia dari sekitar 200 negara sejak Inggris mendirikan pemukiman Eropa yang pertama di Sydney Cove pada 1788. Tercatat pada 1945, penduduk Australia berjumlah sekitar 7 juta jiwa dan mayoritas Inggris-Celtic. Sejak saat itu, lebih dari 6,5 juta migran, termasuk 675.000 pengungsi, bermukim di Australia.

Saat ini penduduk Australia mencapai lebih dari 21 juta jiwa. Rinciannya,  lebih dari 43 persen penduduk Australia kelahiran luar negeri atau memiliki orang tua yang lahir di luar negeri. Penduduk asli Australia diperkirakan berjumlah 483.000, atau 2,3 persen. Penting untuk diketahui orang yang datang ke Australia sejak 1945 memiliki motivasi komitmen kepada keluarga, atau keinginan untuk melepaskan diri dari kemiskinan, perang atau penganiayaan. Pada fase berikutnya masyarakat datang dari kawasan Asia-Pasifik, Timur Tengah dan Afrika. Mereka, pada gilirannya, beradaptasi dengan masyarakat Australia yang toleran, informal dan secara garis besar egalitarian.
Dalam kerangka hukum Australia, seluruh penduduk Australia berhak untuk mengungkapkan kebudayaan dan kepercayaan dan untuk ambil bagian dengan bebas dalam kehidupan nasional Australia. Pada saat yang sama, setiap orang diharapkan untuk menjunjung prinsip-prinsip dan nilai-nilai bersama yang menyokong cara hidup Australia. Australia juga memiliki keyakinan teguh bahwa tak seorang pun boleh dirugikan hanya karena perbedaan negeri kelahiran, warisan budaya, bahasa, jender atau agama mereka. Masyarakat Australia bersifat egalitarian. Hal ini bermakna bahwa tidak ada perbedaan kelas yang formal atau mendarah daging pada masyarakat Australia.
Fakta bahwa  lebih dari 75 persen penduduk Australia menikmati gaya hidup kosmopolitan di pusat perkotaan, utamanya di kota-kota besar di sepanjang pesisir. Sebagian lain melihat penduduk Australia sebagai orang yang hidup di ‘negeri yang beruntung’ yang mencintai kegiatan waktu senggang mereka, khususnya olah raga, baik sebagai penonton maupun sebagai peserta. Faktanya, penduduk Australia termasuk di antara pekerja paling keras di dunia beberapa di antaranya mempunyai jam kerja terpanjang di negara-negara maju.  Ada yang berpandangan bahwa penduduk Australia itu informal, terbuka dan langsung dan mengatakan apa yang mereka maksudkan. Mereka juga dipandang sebagai orang yang percaya pada prinsip memberi orang lain kesempatan secara adil dan membela sahabat mereka, yakni mereka yang kurang beruntung dan lemah.
Pandangan popular seperti ini mengandung kebenaran dan kebanyakan penduduk Australia sesuai sekurangnya dengan sebagian dari persepsi tersebut. Namun penduduk Australia, seperti penduduk lain, tidak dapat dengan mudah di-stereotipe-kan. Terdapat “ciri khas” orang Australia di mana-mana. Namun mereka tidak semua sama. Secara umum Australia adalah negara Kristen, dengan sekitar 64 persen penduduk Australia mengaku sebagai penganut agama Kristen. Namun, agama-agama besar lainnya juga memiliki penganut, yang mencerminkan masyarakat Australia yang majemuk secara budaya.  
Warga Australia cenderung suka berkawan dan terbuka. Secara umum relatif informal dalam kehidupan sosialnya dan dalam hubungan mereka dengan kenalan dan rekan kerja mereka. Di tempat kerja dan di antara teman, warga Australia umumnya saling memanggil dengan nama pertama mereka. Namun informalitas ini tidak sampai pada hubungan fisik. Ketika bertemu orang pada pertama kalinya, biasanya saling berjabat tangan dengan tangan sebelah kanan. Orang yang tidak mengenal satu sama lain biasanya tidak mencium atau berpelukan ketika bertemu. Penduduk Australia antri ketika sedang menunggu untuk dilayani di toko, bank, kantor pemerintah, bioskop atau di mana pun juga ketika sejumlah orang mencari layanan pada saat yang sama.
Penduduk Asli Australia memiliki tradisi agama dan nilai-nilai rohani yang unik Australia tidak mempunyai agama negara yang resmi dan masyarakat bebas menganut segala agama yang mereka pilih, sepanjang mereka patuh pada hukum. Penduduk Australia juga bebas untuk tidak memeluk agama. Maka bisa disimpulkan bahwa antroplogi keluarga di Australia bersifat majemuk dan kosmopolitan mengingat beragamnya budaya bangsa yang ada disana dan perbedaan keyakinan yang ada. Tetapi bisa dipastiakan setiap pengaut gama akan berpegang teguh dengan keyakinan yang dimilikinya dan hidup berkeluarga sesuai dengan pijakan dari keyakinan tersebut.





Potret salah satu keluarga di Australia


Lomba Blog Cheria Holiday #9 2019

Posting Komentar

0 Komentar