Pengikut

Pengikut

Advertisement

Berpikir Negatif Itu Candu


Dalam khawatir, syekh Muhammad Mutawalli al-Syakrawi mengatakan; pikiran adalah alat ukur yang digunakan manusia untuk memilih sesuatu yang dinilai lebih baik dan lebih menjamin masa depan diri dan keluarganya. Dengan berpikir, kata James Allan, seorang bisa menentukan pilihannya. Berpikir menjadi perbedaan antara manusia dan hewan, antara positif dan negatif, namun jika setiap hari pikiran kita selalu dilandasi dengan  negatif, maka hasil yang kita peroleh selalu mengeluh akan ketidaksempurnaan diri, lingkungan dan orang lain. Semuanya salah dihadapan kita. Kebiasan mengeluh inilah yang dimaksud oleh Kamaruddin Hidayat sebagai penjara kehidupan.

Berpikir negatif adalah candu, ia adalah penyakit yang sangat berbahaya, bahwa kecanduan itu sendiri adalah dampak dari jiwa yang labil dan negatif. Hal ini  memberi peluang adanya penyakit jiwa atau penyakit lainnya. Ibrahium el Ifki mengulas dalam bukunya quwwatul fikr bahwa pikiran negatif menguatkan ego rendah dan menjauhkan diri  dari Allah.  Hasil penelitan menegaskan bahwa lebih dari 90 persen penyebab munculnya penyakit bersumber dari akal.

Rasulullah mengajarkan dan mengelola pikiran positif di tengah situasi yang tidak nyaman, Syekh Ramadan Buti dalam sebuah majlis ilmu,  menceritakan tentang keadaan Rasulullah melihat sahabat begitu kelelahan dan kelaparan di perang Khandaq, Rasulullah sendiri juga merasakan kelaparan yang sangat dasyat. Sebagian sahabat meminta izin kepada Rasulullah untuk pulang, untuk makan walau sedikit. Rasulullah terus menggali parit,  dan beliau ikat perutnya  yang  dengan batu karena menahan lapar. Sayyidina Jabir melihat keadaan ini, Lalu Jabir membawa Rasululah secara diam diam ke rumahnya,  dan mengajak dua atau tiga sahabat yang lainnya, Rasulullah melihat kaum Ansar dan Muhajirin, Rasul-pun membawa mereka menuju ke rumah sayyidina Jabir. 

Di rumah sahabat Jabir, Beliau tidak makan dulu, melainkan membantu menyiapkan makanan kepada para sahabat, sementara perut Rasul menahan lapar. Rasululah mengambil tepung dan daging lalu berkata, berikanlah kepada para sahabat. Rasulullah begitu gembira karena sahabat bisa makan. Syekh Ramadan Buti bertanya, kenapa Rasulullah berbuat demikian? Beliau merasa risau jika para sahabat lapar,dan beliau biarkan dirinya dalam keadaan lapar. Saat itu tidak ada satupun makanan untuk Rasulullah, tidak ada rasa mengeluh dari manusia paling mulia, kekasih Allah ini.

Disini, Rasul mengajarkan untuk  perbanyak syukur akan nikmat Allah dan tidak mengeluh, yang dapat melahirkan pikiran negarif, jangan mengukur sesuatu dengan ukuran dunia. Para sahabat itu memuliakan Rasul lebih daripada seorang pelayan memuliakan tuannya. Diriwayatkan dari ‘Aisyah menyebut bahwa hewan yang sering keluar masuk rumah kami, kecuali ketika Rasul ada di dalam rumah, sebagai penghormatan kepada Rasul. Ada sahabat yang mengeluh  tentang untanya yang selalu mengamuk. Sahabat tersebut datang kepada Rasul, mengadu perihal untanya. 

Datanglah Rasul menemui unta yang mengamuk, seketika untuk itu berhenti mengamuk dan menundukkan kepala menghormati sang Rasul.  Kenapa kau marah wahai unta. Unta itu mengadu kepada Rasul bahwa ia dipaksa berkerja diatas kemampuannya dan tidak diberi makan yang cukup. Hewan saja nyaman dengan Nabi, manusia yang akhlaknya adalah Alquran, apa yang beliau tularkan adalah nilai positif.

Manusia yang berpikir negatif bahkan akan melahirkan rasa dendam, iri hati dan dengki. Kehidupannya tak dipenuhi oleh aura kebaikan. Ia menjadi hakim kepada pekerjaan orang lain yang selalu salah. Negatif dalam keluarga sendiri, keluarga orang lain, dan dalam hidup bermasyarakat. Belajar dari kehidupan Rasulullah yang dicintai langit dan bumi, mengindikasikan bahwa orang yang selalu memenuhi jiwanya dengan pikiran positif, ia akan dicintai oleh siapa saja, bahkan hewan sekalipun, Berpikir negatif adalah candu yang mematikan dan menjauhkan diri dari Allah.



Posting Komentar

0 Komentar