Pengikut

Pengikut

Advertisement

Golongan Manusia di Lampu Merah

Lampu lalu lintas atau kita sebut saja dengan lampu merah tidak boleh dipandang remeh, kita mesti berterimakasih kepada perancang ini. Sejatinya Agama punya banyak dalil tentang larangan menerobos lampu lalu lintas secara sembarangan. Ini adalah peraturan manusia yang dibuat untuk kemaslahatan manusia. Di lampu lalu lintas, manusia terbagi menjadi dua. Pertama manusia yang tertib, bersabar, ketika muncul kode lampu hijau ia akan kembali meneruskan perjalanannya. Tipe manusia yang tertib ini biasanya mempunyai habit yang baik pula di tempat lain, umumnya ia orang yang mampu mengatur waktu dan disiplin. Hal ini juga akan berimbas kepada pola beribadah. 

Orang yang suka menerobos jika ditanyakan, akan kita temui banyak alasan. Sejatinya habit tidak memerlukan alasan. Kebiasaan menerobos ini menjadi sebuah penyakit. Orang yang sering menerobos jalan raya adalah orang yang sama. Mempunyai habit yang kurang baik di segmen kehidupannya yang lain. Ini peraturan untuk kemaslahatan manusia yang terang-terangan, bagaimana pula dengan aturan lain yang perlu kajian untuk melihat tingkat kemaslahatannya. 

Darussalam, kota pelajar juga punya lampu lalu lintas, tapi banyak juga para pengguna jalan yang terus meluncur, padahal lampu hijau lagi menyala, tentunya kita telah belajar banyak hal di kota pelajar. Saya teringat dengan  ayat faiza faraghta fansab. Jika sebuah pekerjaan sudah dikerjakan maka kerjakanlah pekerjaan lainnya. Filosofi ini kita jumpai pada lampu hijau, untuk meneruskan perjalanan, sementara lampu merah alarm untuk berhenti. Manusia punya masa istirahat, kehidupan dunia ini adalah tempat penuh ujian, para guru banyak memberi nasihat, rahah fil jannah, istirahat di syurga. Manusia juga mesti memiliki lampu kuning, sebagai peringatan untuk berhati-hati. Ini tentang muhasabah, sejauh mana sudah perjalanan kehidupan di dunia, apakah lebih conding kepada kebaikan atau keburukan? 

Lampu lalu lintas telah mengingatkan kita bahwa manusia sering membalikkan hukum dan hidup tidak dilakoni secara serius. Lampu merah justru digunakan untuk menerobos, sementara pekerjaan yang teramat penting, kewajiban salat misalnya,  ketika azan berkumandang, ini ibarat lampu merah, orang beriman akan menghentikan segala aktifitas untuk melaksanakan salat, bukan asyik masyuk berdagang, mengurus masalah dunia, apalagi berleha leha di warung kopi. 

Berada di Masjid Cina, Melaka, Malaysia

Posting Komentar

0 Komentar