Pengikut

Pengikut

Advertisement

Mutiara Ilmu itu Sudah Pergi, Abu Muslim Ibrahim


Kurun tahun 90-an masyarakat Aceh sangat akrab dengan rubrik Konsultasi Agama Islam di Serambi Indonesia, pengasuhnya adalah Prof. DR. Tgk. Muslim Ibrahim, MA. Seorang yang mulia akhlaknya, sangat rendah hatinya, sering bertergur sapa dengan khalayak seolah sudah lama berjumpa. Pertemuan saya dengan Abu Muslim saat berada di Mesir, tercatat ada dua tiga kali Abu Muslim pergi ke Mesir sepanjang kehidupan belajar kami disana. Beliau saat itu berada dalam pengurus Alumni Azhar, yang mengadakan pertemuan rutin di Kairo, saat itu ketuanya adalah Prof. Quraisy Shibab. Saya masih ingat, Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir  kala itu membuat jamuan silaturrahmi dengan beliau dan Prof. Azman Ismail. Sementara Prof. Quraisy Shihab bersilaturrahmi dengan mahasiswa Azhar di KPMJB Jawa Barat, di Bawabah Tsani, Hay Asyir.

Apa yang menarik bagi kami saat Abu memberi kata sambutan, ketika pulang ke Aceh, saya sudah lupa jalan disana. 15 tahun di Mesir saya menyesal kenapa tidak bisa menyelesaikan dua Doktor, ada kawan saya beliau menyelesaikan dua kali Doktor. Mendengar itu, saya geleng-geleng kepala, betapa intelektual kapasitas dunia ini masih menyebut rugi kenapa tidak bisa menyelesaikan dua doktor di Al-Azhar. Begini tingkat keilmuwan Abu Muslim, seorang fakih yang membawa kesejukan kepada masyarakat, neu kalen lom, kadang ata lon peugahnyan salah, komentar beliau suatu ketika dalam menjawab pertanyaan fikih, oh betapa rendah hatinya.

Tahun lalu, saya berdiskusi dengan Abiya Baidhawi di balai beton Mudi Mesra, pembicaraan kami tertuju kepada Abu Muslim, dengan keilmuwan yang luar biasa. Beliau sesungguhnya adalah mutiara terpendam, telah banyak memberi sumbangsih ide dan pemikiran penyesaian masalah umat di Aceh, walaupun pada akar rumput masyarakat, tak banyak yang tahu tentang seluk beluk beliau. Nuansa MPU sebagaimana disebut Lem Faisal dalam Mubes IKAT beberapa waktu lalu menjadi hidup karena ada sosok yang menyejukkan ini. Keakraban beliau saya buktikan ketika berjumpa di kantor akademik Pasca Sarjana UIN, beliau menyapa, peu teukhem-khem that. Bagaimana tidak tersenyum dan senang bersua dengan tokoh yang disenangi ini.

Abu Muslim punya kesempatan mengajar di Umm Qura walaupun beliau lebih memilih mengabdi di Aceh. Harus diakui selama ini Abu Muslim menjadi kebanggaan khususnya alumni Azhar Mesir di Aceh, beliau menjadi teladan kepada kita bagaimana seharusnya berkiprah dalam masyarakat, beliau adalah  spirit  bagi pelajar baru di Azhar. Tadi sore Allah telah memanggilnya, Abu telah meninggalkan dunia yang fana ini, Inna lillahi wa inna ilahi rajiun. Mutiara kelas dunia itu sudah pergi, meninggalkan semerbak harum keilmuwan dan akhlak. Selamat jalan Abu, Allahuma ighfirlahu.


Tabik

Azmi Abubakar


Allah yarham Abu Prof. DR. Muslim Ibrahim, MA (Sumber foto; aceh,tribunnews.com)


Posting Komentar

0 Komentar