Pengikut

Pengikut

Advertisement

Puisi Untuk Imam Syafi’i Seusai Ziarah



Tak pernah berhenti pena para penulis mencatat kisah hidup orang mulia, yang hidupnya selalu dihiasi dengan prestasi, apalagi prestasinya tak main-main, seorang ilmuwan, menguasai berbagai disiplin ilmu, seorang yang sangat jenius, Imam mazhab. Beliau Imam syafi’i, nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris al-Syaffi al-Muththalibi al-Qurasyi. Imam Asy-Syafi'i.  Lahir di Gaza, Palestina, 150 H/767 M  dan wafat di kota Fusthat, Mesir, 204 H/819 M. Beliau termasuk dalam Bani Muththalib, yaitu keturunan dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Rasulullah, sebab itu beliau merupakan ahlu bait Rasulullah.

Saat usia 13 tahun, Imam Syafi'i dikirim ibunya untuk pergi ke Madinah untuk berguru kepada ulama besar saat itu, Imam Malik. Dua tahun kemudian, beliau pergi ke Irak, untuk berguru pada murid-murid Imam Hanafi.  Imam Ahmad bin Hambal, salah seorang murid Imam Syafi’i berkomentar, sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah menakdirkan Imam al-Syafi`i.

Imam al-Syafi’i contoh mursyid paling baik kepada muridnya, Imam Rabi’, seorang murid imam al-Syafi’i  merasa sukar dalam menghafal. Pada pertemuan majlis ilmu ke empat puluh, beliau mengadu, dan meminta izin kepada tuan guru untuk keluar dari majlis ilmu. Mendengar itu, imam al-Syafi’i berucap, kalau senadainya ilmu itu seperti makanan, maka aku aku suapi satu persatu ke mulut engkau, begitu kasih sayang imam al-Syafi’i kepada muridnya.

Selama di Kairo, kesempatan berziarah tak boleh disia-siakan , apalagi ziarah sosok yang mulia ini, bertepatan jatuhnya musim dingin di kota Kairo, saya berziarah bersama kawan lainnya. Tidak menempuh waktu lama, berangkat dari masjid al-Azhar seusai jumat, lalu naik bus menuju makam Imam al- Syafi’i. Di gerbang utama masjid, kita sudah berjumpa dengan makam  Syaikhul Islam, Imam Zakaria al-Anshari, penerus imam al-Syafi’i,  pengarang berbagai kitab, salah satu kitab yang kami baca adalah syarah Burdah Imam Busiri, yang mensyarah dengan  pendekatan nahwu. Di makam imam  al-Syafi’i para penziarah larut berdoa dan membaca al-Quran, di dinding terpampang manaqib mulia sang Imam, di samping makam sang imam, ada makam keluarga dari Sultan Salahuddin al-Ayyubi. Tak jauh dari Masjid Imam Syafi’i ada makam guru beliau, Imam Waqi’ dan Imam Laits.  Seusai berziarah, saya tulis sebuah puisi, ini puisi saya yang telah dimuat di harian Serambi Indonesia. Berikut puisinya:


Terharu di Makam Syafi’i
Aku terharu di makammu
Mengenang perjuangan dan semangat keilmuwan
Engkau imam mazhab itu
Menyusuri negeri-negeri ilmu
Dari  Baghdad sampai ke negeri Musa

Aku terharu di makammu
Para muarrikh ramai membincang
Menyusuri lorong-lorong perjuanganmu
Tak pernah jemu menulis khidmah mulia

Aku terharu di makammu
Sekaligus malu, malu…
Semangatmu tak sanggup kami ambil
Sedikit saja
Kami telah tumbang dalam kemalasan
Cairo, 24 September 2012


Tabik

Azmi Abubakar


 
Saat berada di Depan Maqam Imam al-Syafi'i Rahimahullah, Kairo, Mesir

Posting Komentar

0 Komentar