Pengikut

Pengikut

Advertisement

Menimbang Pengaruh Covid 19 terhadap Perkawinan


Beberapa isu fikih terkait Covid19 terus bergulir dalam diskusi-diskusi media sosial, diantara yang penulis catat adalah terkait hukum akad nikah melalui  media video call, bagaimana mewujudkan ketahanan keluarga di tengah covid 19,  jumlah mahar yang semakin menukik, bahkan ada fakta adanya kasus perceraian akibat covid 19 ini. Tulisan sederhana ini bukan hendak mengulas hukum fikih dari masalah diatas melainkan ingin melihat celah apa saja yang memungkinkan terganggunya keseimbangan keluarga baik berupa hukum mapun psikologis akibat covid 19.  Dalam kajian hukum keluarga, perkawinan dan pembagian harta warisan menjadi dua hal utama. Lebih lanjut,  hukum keluarga dapat diartikan sebagai keseluruhan ketentuan atau aturan-aturan yang mengenai hubungan hukum yang bersangkutan dengan kekeluargaan sedarah dan kekeluargaan karena perkawinan.
Realitasnya dari virus Corona telah menyebabkan manusia menjaga jarak, melakukan lock down, pembatasan berkumpulnya massa dalam jumlah besar, hal ini sedikit banyak telah  mempengaruhi ranah perkawinan berikut permasalahannya. Dalam kajian hukum keluarga, ta’aruf menjadi persoalan awal bagi berlangsungnya pernikahan. Sejauh eksplorasi penulis banyak  adat perkawinan di Aceh sangat selaras termasuk dalam menyahuti semangat ta’aruf ini, adanya pertemuan dua keluarga, perbincangan mengenai mahar sampai bagian me tanda menjadi indikasi bahwa masyarakat Aceh telah memparaktikkan bagian awal menuju gerbang pernikahan.
Setelah terjadinya kesepakatan kedua keluarga, diadakan  akad nikah, kembali kepada fikih, akad nikah paling utama adalah di masjid. Walimah dalam fikih sangat dianjurkan, berangkat dari hadith nabi, aulim walau bi syah. Di Aceh bahkan ada tradisi intat linto dan tueng dara baroe. Dalam kajiannya, wacana intat linto dan dara baroe menjadi diskursus tersendiri dilihat dari aspek filosofisnya. Adanya tradisi walimah intat linto dan tueng dara baroe dimaksud juga ikut terhambat karena larangan mengumpulkan massa.
Harus diakui bahwa kebijakan akibat Virus Corona ini ikut menghambat langkah menuju gerbang pernikahan ini.  Dirjen Bima Islam Kamaruddin Amin menyebut bahwa  bahwa layanan pencatatan nikah di Kantor Urusan Agama dihentikan sejak 1 April. Proses pendaftaran kemudian dilakukan secara online melalui simkah.kemenag.go.id, namun, bukan berarti layanan pencatatan dan akad nikah berhenti. Layanan pencatatan dan akad terus berjalan untuk calon pengantin yang sudah mendaftar sebelum 1 April. Jumlahnya, menurut Plt Dirjen Pendidikan Islam ini, bahkan mencapai puluhan ribu.
Penting untuk disimak pernyataan Bimas, “Terkait penerapan protokol kesehatan tersebut, lanjut Kamaruddin, pelayanan akad dan pencatatan nikah saat ini hanya dilakukan di KUA, tidak di luar KUA. Aturan ini berlaku sampai dengan tertanganinya wabah Covid-19 karena kebijakan tersebut menjadi bagian upaya pencegahan penyebaran. Kamaruddin menambahkan, catin yang telah mendaftar setelah 1 April juga sangat besar. Data simkah.kemenag.go.id mencatat, sampai sekarang sudah hampir 30 ribu calon pengantin yang mendaftar secara online.
Dalam hal ini Kemenag telah mengeluarkan kebijakan tidak melangsungkan akad nikah dalam ruangan tertutup, dan untuk sementara akses pelayanan nikah per tanggal 1 April ditutup, keadaan ini menjadi dilema dan menyebabkan penurunan angka pernikahan dalam tahun ini.  Apakah kemudian pembatasan pernikahan  ini bertentangan dengan maqasid al syari’ah, sekilas jika melihat kepada hakikat pernikahan itu sendiri untuk memakmurkan bumi jelas  adanya indikasi kearah itu, tetapi kita mesti melihat lagi kepada kaidah; Darul mafasid muqaddamon ‘ala jalbil masalih, menolak mafsadah lebih utama daripada mengambil maslahah. Dalam ranah maqasid, diharuskannya menimbang antara mashlahah dan mafsadah, Imam al-Gazzali menyebutkan maslahah adalah memelihara maksud al-Syari’ yaitu al-usul al-khamsah, pengabaian kelima dasar itu adalah bentuk mafsadat, untuk memudahkan tercapainya  maslahat, para ulama menerapkan metode sad al-dhari’ah, inilah metode preventif; mencegah sebelum terjadi sesuatu yang tidak diingini, Imam al-Furath menyebutkan  sad al-dhari’ah berhubungan dengan efek dari suatu perbuatan (i’tibar al ma’alat).
Terakhir, kita mendapat kabar adanya perceraian akibat  virus corona. Penulis melihat keadaan ini terjadi karena tidak adanya  tiga inti dari  perkawinan antara lain; takaful;saling bertanggung jawab, tafahum; saling memahami dan ta’aruf;saling memahami pribadi yang terus kontinyu sepanjang hidup, ketiadaan salah satu dari  tiga unsur ini telah menyebabkan perceraian dengan berbagai anasir dan alibi dibelakangnya, salah satunya seorang suami diusir oleh istrinya karena suami pulang dari rantau, mesti melakukan isolasi mandiri, tetapi suami yang yang lama dirantau belum memahami filosofi ini  menjadi tersinggung dan kemudian menceraikan istrinya.
Pada prinsipnya, wabah Corona tidak boleh menghalangi sebuah keluarga menjalankan amanah hak dan kewajiban. Dalam maqasid disebutkan antara lain,  bentuk perlindungan istri untuk memperoleh tempat tingal dalam hal pemeliharaan keturunan,(hifd al-nasab) sementara hifd al-aqal, suami berkewajiban untuk memberikan pendidikan agama kepada istrinya.


Kebijakan wabah Corona memastikan tertundanya pencatatan resmi pernikahan demi mendapatkan maslahat yang lebih besar berupa penjagaan terhadap jiwa manusia. Kita mesti menimbang resiko bahwa masyarakat perlu dipahamkan bahwa tidak boleh adanya nikah siri tanpa pencatatan nikah merupakan bagian daripada ketaaatan kepada ulama dan umara. Seluruh perangkat mesti memantau dan mengingatkan agar  kemungkinan adanya pernikahan siri tidak dilaksanakan.

Disisi lain, Covid 19 mesti menjadi pelajaran kepada kita, perangkat pemerintah tentang bagaimana mengambil jalan tengah untuk menyahuti prinsip Islam yang salih li kulli zaman wa makan, juga dalam merespon permasalahan pernikahan agar unsur maqasid al-Syari’ah berjalan selaras. Perlu dipikirkan  agar pencatatan nikah tetap berjalan, keluarga samara dapat terwujud, mahar menjadi hal yang dipermudah. Mungkinkah? Semoga!


Posting Komentar

0 Komentar