Pengikut

Pengikut

Advertisement

Syekh Hasan al-Attar, Ulama Pembaharu dan Grand Syaikh Al-Azhar


Institusi Al-Azhar  mempunyai  manhaj wasatiyah yang sudah teruji lebih seribu tahun. Eksistensi khazanah turats telah melambungkan lembaga al-Azhar sehingga menghasilkan lulusan azhari yang wasatiyah (moderat). Wasatiyah itu dibuktikan dengan menerima adanya pembaharuan (tajdid).  Di antara ulama yang menapaki wilayah pembaharuan itu adalah syeikh Hasan al-Attar, salah seorang ulama yang juga belajar di al-Azhar dan pada akhirnya menjadi Grand Syeikh Al Azhar.
Syekh Hasan lahir di  kota Kairo  tahun 1180 H / 1766 M, dan wafat  tahun 1250 H / 1835 M. Ayahandanya bernama Ali Muhammad al-Attar, merupakan kelahiran Maroko yang menghabiskan hidupnya sebagai pedagang yang mencintai ilmu. Sejak kecil, Hasan al-Attar ikut membantu ayahnya berdagang. Suasana ini menjadikan Syekh Hasan terus hidup dalam keilmuwan. Sebagaimana telah disebutkan bahwa Syekh Hasan al-Attar  adalah satu tokoh pembaharu dalam kemajuan dan perkembangan keagamaan di Mesir. Di usianya yang ke 65, beliau diangkat menjadi Grand Syeikh al-Azhar, tepatnya tahun 1830 M / 1246 H. Selama hidupnya, Hasan al-Attar menghabiskan waktu untuk mengabdi pada al-Azhar hingga wafat.
Pada tahun 1798, ketika Napoleon Bonaparte dan pasukanya menjajah Mesir,  Syekh Hasan al-Attar yang kala itu berumur 32 tahun, bersama ulama-ulama lain mengasingkan diri  di sebuah tempat selama 18 bulan. Ketika keadaan menjadi aman, baru Syekh Hasan al-Attar mulai kembali meneruskan kegiatan ilmunya di al-Azhar, bahkan beliau tetap gigih menuntut ilmu ketika Mesir masih dalam keadaan tidak stabil di bawah kekuasaan Perancis. Tahun 1802 M, setahun selepas kekuatan Utsmaniyah dengan bantuan Inggris berhasil mengusir Perancis dari Mesir, Hassan al-Attar pergi ke Romawi, Hijaz, dan Turki untuk lebih mendalami ilmu yang beliau miliki.
Pada tahun 1810 M, Hasan al-Attar meneruskan perjalanannya ke negeri Syiria selama lima tahun. Beliau kembali ke Mesir pada tahun 1815 M untuk meneruskan kehidupan ilmiyahnya di al-Azhar. Saat itu, Mesir berada di bawah komando Muhammad Ali  yang memproklamirkan kemerdekaan Mesir di tahun 1805. Di masa inilah Mesir menjadi negara dengan ketenangan politik yang mulai terjamin.
Berbeda dengan kebanyakan ulama Islam di era paska kolonialisme. Ketika sebagian menikmati budaya skolastik di era pertengahan, Imam Hasan al-Attar telah membuka cakrawala intelektualnya menuju modernitas. Dalam keilmuwan, beliau tidak sekedar merujuk pada hasyiah ataupun syarh saja, melainkan juga kembali pada rujukan-rujukan utama yang ada. Tidak cukup dengan teks-teks Arab, Hasan al-Attar kadang kala mengkolaborasikan ilmu pengetahuan timur dan barat. Faktanya,  Imam Hasan al-Attar sendiri merupakan sosok yang memiliki hubungan baik dengan negara-negara di Eropa, khususnya Perancis.
Imam Hasan  al-Attar tercatat pernah mengutus salah satu muridnya, Syekh Rif’ah Tahtawi untuk lebih mendalami ilmunya di Perancis. Pada  akhirnya Syekh Rif’ah Tahtawi menulis sebuah buku berjudul  Talkhis al-Ibriz. Dalam buku tersebut, Syekh Rif’ah Tahtawi  memuji kondisi dan situasi di Perancis kala itu, seperti apa yang telah ia rasakan ketika menuntut ilmu di negara tersebut. Tentu, buku ini juga tidak lepas dari beberapa kritikan untuk masyarakat Perancis yang lebih memprioritaskan materi.
Syekh Hasan al-Attar memiliki banyak guru dengan spesialisasinya masing-masing dalam berbagai disiplin ilmu keislaman. Beliau pernah berguru pasa Syeikh Muhammad al-Amir, Muhammad al-Shaban, Ahmad bin Yunus, Ahmas ‘Arusyi, Abdullah Syarqawi, Muhammad al-Syanwani, Muhammad ‘irfah, dan lainya. Hasan al-Attar menulis berbagai buku dalam disiplin ilmu Qawa’id al-I’rab, Nahwu, Mantiq, Isti’arah, dan Adab al-Bahts. Baliau juga menuliskan Hasyiah ‘Ala Syarhi Isaghuji dalam ilmu Mantiq, Hasyiah Ala Jami’ al-Jawami dalam Ushul Fikih, Hasyiah ‘ala Maqalat Syeikh al-Suja’i, dan lain sebagainya.
Muarrikh, ‘Abdurrahman al-Rafi’i  pernah menyebutkan, “Syeikh Hasan al-Attar adalah seorang ulama Mesir yang tidak diragukan lagi ilmunya, mumtaz dalam ilmu adab dan funun, dan juga mendalami ilmu-ilmu modern, yang jarang dimiliki oleh  Masyayikh al-Azhar”. Terbukti, bahwa Syekh Hasan al-Attar merupakan salah satu ulama ensiklopedis dan menguasai kullu funun.
Langkah pembaharuan (tajdid) yang dilakukan Syekh Hasan al Attar  menyesuaikan dengan keadaan umat kala itu. Ini semua dapat dibuktikan dengan penelitian beliau yang sangat bernilai serta bermakna dalam perkembangan khazanah pemikiran Islam. Hasan al-Attar juga sangat bijak dalam sains dan dapat memahami tradisi pemikiran Islam untuk menentukan keutamaan-keutamaan ilmu. Rahimahullah Imam Hasan al-Attar.

Posting Komentar

0 Komentar