Pengikut

Pengikut

Advertisement

KDRT dan Formula 3T Dalam Pernikahan



Berita penusukan suami kepada istri  beberapa waktu lalu (Serambi Indonesia, 18 April 2020) tidak lagi mengejutkan, ini adalah kasus klasik yang kemudian mengakibatkan  banyak perceraian. Tercatat banyak sekali varian kekerasan dalam rumah tangga dengan berbagai faktor dibelakangnya, baik itu dilakukan oleh suami maupun istri, dari memberi racun akibat terjadinya cinta segitiga sampai istri rela bunuh suami karena cinta lama bersemi kembali. Keadaan ini tentu sangat riskan, betapa tidak mengertinya pasangan suami istri akan hakikat pernikahan, betapa ilmu pernikahan tidak dipelajari secara sungguh-sungguh, selama ini pernikahan hanya dijadikan sebagai alat menyalurkan kebebasan biologis semata. Belum lagi jika kita mengeksplorasi sedemikian banyak fakta KDRT melalui verbal, bahkan komunikasi buruk atara suami istri kerap dipertontonkan dalam ranah publik.

Faktanya, suami sebagai pengayom bagi istri telah gagal  mengambil peranan dalam  membawa arah perahu rumah tangga ini. Suami mestinya memiliki sifat rajulah, jika tidak mampu menasihati atas sikap istri, bukan dengan membacok, memukul dan berkata kasar yang merendahkan derajat pasangan.  Islam memberikan jalan keluar atas setiap permasalahan keluarga, disini ada nasihat untuk kaum muda yang ingin melangsungkan pernikahan, tingkatkan kualitas dirimu, belajar agama dan mendekatinya. Jadikan pasangan anda terhormat, kalau tidak mampu, belajar kembali, jangan sakiti melalui verbal dan tangan, kalau sudah tidak mampu maka keluar dari hidup pasangan anda  demi sebuah kemuliaan.

Di Provinsi Aceh sendiri, berdasarkan data Sistem Informasi Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) Kementerian PPPA, pada 2015, kasus  KDRT semula berjumlah 108, angka ini meningkat signifikan menjadi 453 pada 2016. Kemudian mengalami sedikit penurunan menjadi 437 pada 2017 dan naik lagi menjadi 436 kasus pada 2018. (Serambi Indonesia, 20 April 2019).  Disisi lain banyak  kasus KDRT yang tak terungkap ke permukaan. Parahnya, masyarakat memahami bahwa tidakan kekerasan yang dialami adalah sesuatu yang lumrah terjadi, bahkan dianggap sebagai proses pendidikan  yang dilakukan suami terhadap istri, atau orangtua terhadap anak. Dari sini, pendekatan kejiwaan (psikologi) dalaam mengarungi rumah tangga penting diterapkan. Karena itu,  dalam beberapa tulisan,  saya memberikan idea melalui adanya  renovasi kembali  dalam proses bimbingan nikah di KUA. Pengajian bertemakan pernikahan mesti gencar dilakukan, kajian keagamaan harus kaffah dan seimbang ,melingkupi aspek ibadah, ahwal syahsiyah dan muamalah.

Dalam beberapa  literatur yang penulis dapatkan, kekerasan dalam rumah tangga meliputi (a) kekerasan fisik, yaitu setiap perbuatan yang menyebabkan kematian, (b) kekerasan psikologis, yaitu setiap perbuatan dan ucapan yang mengakibatkan ketakutan, kehilangan rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak dan rasa tidak berdaya pada perempuan, (c) kekerasan seksual, yaitu stiap perbuatan yang mencakup pelecehan seksual sampai kepada memaksa seseorang untuk melakukan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau disaat korban tidak menghendaki; dan atau melakukan hubungan seksual dengan cara-cara yang tidak wajar atau tidak disukai korban; dan atau menjauhkannya (mengisolasi) dari kebutuhan seksualnya, (d) kekerasan ekonomi, yaitu setiap perbuatan yang membatasi  orang  (perempuan) untuk bekerja di dalam atau di luar rumah yang menghasilkan uang dan atau barang; atau membiarkan korban bekerja untuk dieksploitasi; atau menelantarkan anggota keluarga

Disini saya ingin mengungkapkan apa yang disebut Psikolog,  Karim Santoso,  yaitu pentingnya menerapkan formula Tiga T dalam membina tatanan keluarga dan mengurangi angka KDRT. Pertama adalah ta’aruf, dimana pasangan mesti mengenal baik karakter pasangannya. Pada prinsipnya, taaruf akan terus berjalan sepanjang hayat, karena ada saja hal baru yang akan kita temukan dari pasangan kita. Taaruf sebelum pernikahan bukan berarti pacaran, tapi ingin memastikan lintas pasangan ini dalam aspek kafaah (kesetaraan) agar kemungkinan konflik besar tidak terjadi. Kafaah nantinya berhubungan dengan tingat ekonomi, pendidikan dan status sosial.

T yang kedua adalah tafahum, saling memahami. Setelah saling mengenal, maka diperlukan untuk memahami segala bentuk kelebihan dan kekurangan, konflik yang sering terjadi pada pasangan muda adalah ketidakmampuan menerima kekurangan pasangan, sehingga muncul protes disana sini, hal ini kerap menimbulkan konfilik rumah tangga. Tafahum juga erat kaitannya dengan mengetahui apa hak dan kewajiban masing-masing pasangan, menjadi aneh jika hanya menuntut hak tapi melupakan kewajiban.

T yang ketiga adalah  takaful, artinya bertanggungjawab, pasangan mesti mengetahui apa yang menjadi tanggungjawabnya, ada hak dan kewajiban. Dalam literatur fikih.  istri tidak ada kewajiban untuk mencari nafkah, nafkah menjadi tanggung jawab suami, namun dalam perjalanannya atas dasar cinta, memberi secara tulus, istri kemudian membantu suami dalam mencari nafkah demi meringankan tugas suami.  Sehingga dalam  kajian hukum keluarga dikenal adanya harta bersama (Kompilasi Hukum Islam (KHI)  dimana istri yang menjadi ibu rumah tanga dianggap berkerja.

Dalam realitasnya,  laki laki punya ruang yang sangat besar untuk mengontrol jalannya rumah tangga, artinya nuansa rumah tangga bahagia atau tidak tergantung bagaimana suami mengelola kemudi tersebut. Pasangan harus giat membuat pasangannnya untuk  terus jatuh cinta kepadanya. Istri memahami karekter suami, begitu sebaliknya. Istri punya peran untuk menghiburkan suami dengan cara yang dibenarkan dalam agama. Kita ingat kisah Sayyidah Khadijah ketika usai Rasulullah beruzlah dari Gua Hira, pulang keruma dalam keadaan ketakutan, lantas Sayyidah Khadijah tidak menanyakan sesuatu, tidak panik, beliau ambil air minum lalu menyelimuti Rasulullah, ini salah satu bentunk pengajaran psikologi dari sirah Rasulullah.

Setiap KDRT baik kekerasan fisik maupun verbal akan menyisakan luka batin yang mendalam, invetasi yang tidak baik ini mesti dihancurkan dengan meminta maaf dan mengubah habit yang tidak baik. Pada akhirnya kehadiran agama dimaksudkan agar tercapainya kebaikan bersama (maslahat al-‘ammah). Dalam firman Allah: “Dan aku tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” Ayat ini merupakan landasan teologis bagi umat manusia untuk menebar kebaikan di muka bumi melalui ajaran agama, termasuk mewujudkan salah satu fungsi keluarga secara legal dan bertanggung jawab secara sosial maupun moral.

Dalam terminologi ushul fiqh, perlindungan hukum mesti selaras dengan tujuan hukum, yakni terhadap lima aspek (al-kulliyat al-khams atau ad-daruriyah al-khams). Lima aspek perlindungan itu mencakup agama (hifz ad-din), jiwa (hifz an-nafs), akal (hifz al-aql), keturunan (hifz an-nasl), harta (hifz al-mal). Ini menegaskan bahwa hukum Islam datang ke dunia membawa misi perlindungan yang sangat mulia, yaitu sebagai rahmat bagi seluruh manusia di muka bumi. Imam al-Syathibi dalam maqashid al-syari’ah menjelaskan bahwa tujuan akhir hukum Islam adalah satu, yaitu kemaslahatan atau kebaikan dan kesejahteraan umat manusia. Disini eksistensi perlindungan hukum dalam institusi keluarga menjadi sangat penting, karena keluarga dihadirkan dengan prinsip mu’asyarah bi al-ma’ruf.  Sebuah hadith Rasulullah seyogyanya menjadi ingatan permanen dan teladan kepada kita; “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik sikapnya terhadap keluarga. Dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. Ibnu Majah).


 
Berziarah ke Makam Syekh Syamsuddin al-Sumatrani, negeri Malaka, Malaysia.



Posting Komentar

1 Komentar