Pengikut

Pengikut

Advertisement

Sifat Dua Puluh Pasca Debat Muktazilah dan Atheis


Kalimat la ila ha illallah  terdiri dari dua rukun yaitu silk dan nafi,  sebagian ulama menambahkan rukun ke tiga yaitu tartib. Inilah kalimat yang sangat kuat (urwah al-wusqa), Alquran menyebut faman yakfur biththaaghuuti wayukmin bilaahi faqadi istamsaka bil'urwati wutsqaa laa infishaama lahaa walaahu samii'un 'aliim, artinya: Tidak ada paksaan dalam menganut Agama Islam. Sesungguhnya telah jelas perbedaan antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barangsiapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang teguh kepada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (al-Baqarah, 256). Istilah urwah al-Wusqa juga terdapat dalam surah Luqman ayat 22, artinya; dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah lah  kesudahan segala urusan ” (QS Surat: Luqman (22). Dan juga hadih Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (3813) dan Imam Muslim  (2484).
            Kalimat agung ini juga dimasukkan dalam baqiyah al-salihah. Sultan al-Ulama Izz al Din al-Salam menegaskan pentingnya mengetahui  kalimat baqiyatuhal-salihah yaitu Subhanallah,  Alhamdulillah,  La ila ha ilallah dan Allahu Akbar.  Syekh Yasir menambahkan bahwa disetiap zaman  kaum atheis dan radikal akan terus eksis.  Sejarah mencatat pada masa Abbasiyah dibawah pemeritahan khalifah al-Makmun,  kaum atheis  getol mempertanyakan eksistensi tuhan.  Menyikapi masalah ini, al-Makmun merekomendasi kaum Muktazilah untuk mendebat kaum atheis terkait ketuhanan.  Muktazilah mendapat kemenangan dari perdebatan ilmiyah ini dengan memberi dalil enam sifat awal dari sifat dua puluh.  Sejarah berlanjut ketika Muktazilah dan Sunni dipanggil al-Makmun ke istana. Di sini  terjadi perdebatan alot,  Muktazilah yang mengedepankan rasio ini menolak penambahan tujuh sifat dari kaum Sunni, unikmya Muktazilah  bersepakat bersama Sunni adanya tujuh sifat terakhir dari sifat dua puluh. Dari sini kemudian  sifat dua puluh menjadi masyhur, disamping banyak sifat Allah lain, termasuk asmaul husna. Seorang mukmin tidak boleh mengingkari sifat dua puluh ini.
Syekh Yasir melanjutkan, hati ini dibaratkan seperti wadah. Di mana hati, jiwa dan akal harus dibersihkan dari najis, maka pembesihan itu mesti diawali  dengan kalimat baqiyat al-salihah. Ulama tasawuf mempopulerkan istilah Takhalli qabla tahalli,  di mana pasca proses pembersihan, baru kemudian hati ini diisi dengan mutiara kebaikan. Selanjutnya ada hikmah penyebutan Allahu akbar setelah La ila ha ilallah, karena pada akhirnya Allah maha besar dari kalimat sebelumnya, tasbih, tahmid dan tahlil. Sudah semenjak dulu kelompok radikal mempertanyakan  makna laisa ka mislihi syaion  dan mempertentangkannya dengan ayat-ayat lain. Syekh Yasir menjelaskan bahwa di sinilah fungsi nahwu yang mereka abaikan.  Kaum ini tidak memahami secara komprehensif makna syaon dalam tata bahasa Arab. Setiap nash mesti dibaca secara istiqra dan syumul melalui mata rantai keilmuwan para ulama.  Al hasil, Islam adalah agama ilmu dan akhlak, melawan pemikiran radikal semestinya dilakukan dengan ilmu dan juga dengan menjaga Sunah Rasulullah, berupa akhlak dan adab.

Syekh Yasir Sedang Memberikan Daurah di Dayah Thalibul Huda, Bayu, Aceh Besar. Foto: Tgk. Sulaiman


Salam Takzim, 
Menulis kembali penggalan singkat Daurah kitab Kifayatul Awam bersama Syekh Yasir dari Tarim. Komplek Dayah Bayu, 18 Juni 2020.

Posting Komentar

0 Komentar