Pengikut

Pengikut

Advertisement

Membumikan Wirid al-Haddad, Pesan Penting dari Haul sang Wali Qutub


Beberapa minggu lalu, komunitas Muhibbin berinisiatif melaksanakan Haul Imam al-Haddad di Lampoh Saka, Pidie. Aceh. Tradisi melaksanakan Haul tidak asing lagi di Asia Tenggara,  dalam Haul ini dibaca  ratib al-Hadad. Turut hadir di sini Abi Zahrul Mubarak dari MUDI Samalanga. Dalam nasihatnya Abi Zahrul mengingatkan kita betapa Imam al-Haddad bagaikan sosok salaf yang hidup bersama generasi sesudahnya, Imam al-Haddad  diibaratkan bagaikan baju yang dilipat lalu disimpan. Abi Zahrul juga mengupas hukum Haul yang pada prinsipnya adalah usaha dalam rangka menyebarkan kebaikan, maka subtansinya adalah kebaikan, dari sini manfaat akhirat akan menyebar. Kita diingatkan kembali kepada kematian, juga kesiapan menghadapi masa depan yang lebih baik sebagaimana teladan orang yang kita peringati Haulnya.

Al-Imam Al-’Allamah Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, di lahirkan di Syubair di salah satu ujung Kota Tarim di provinsi Hadhramaut-Yaman pada tanggal 5 Safar tahun 1044 H. Beliau di besarkan di Kota Tarim. Imam al-Haddad diriwayatkan mengalami kebutaan semenjak kecil karena penyakit cacar, namun kekurangan dhahir tidak menghalangi aktivitas  ibadah dan ilmu. Ini menjadi motivasi kepada yang hidup hari ini untuk giat dalam beribadah.

Kemauan Imam al-Haddad dalam beribadah  sangatlah besar di masa kecilnya, al-Habib Abdullah mengerjakan shalat sunnah seratus rakaat setiap harinya setelah pulang dari rumah gurunya di waktu Dhuha. Al-Habib Abdullah menuturkannya sebagai berikut: “Di masa kecilku, aku sangat gemar dan bersungguh-sungguh dalam ibadah dan mujahadah, sampai nenekku seorang wanita shalihah yang bernama asy-Syarifah Salma binti al-Habib Umar bin Ahmad al-Manfar Ba’alawi berkata: ‘Wahai anak kasihanilah dirimu.’ Ia mengucapkan kalimat itu, karena merasa kasihan kepadaku ketika melihat kesungguhanku dalam ibadah dan bermujahadah. Dalam perjalanan spritualnya, Imam al-Haddad adalah waliyullah yang paling lama menempati posisi sebagai wali kutub, Kedudukan Wali al-Qutub beliau sandang hingga beliau wafat (1132 H). Al-hasil beliau menjadi Wali al-Quthub lebih dari 60 Tahun.

Kita punya tangung jawab untuk membumikan wirid Imam al-Haddad, betapa wirid ini  masih sedikit yang mengetahuinya. Besar sekali peluang kepada kaum alawiyin, termasuk peran dalam mendirikan dayah, di mana keuntungannya dua kali lipat. Terakhir, Abi mengingatkan orang yang tidak menemukan mursyid yang sesungguhnya, maka  cukuplah mengamalkan wirid ratib al- Haddad. Para ulama memiliki sir, ada sir melalui karangan seperti Imam al-Nawawi ada sir melalui murid, seperti Imam al- Syazili. Ada sir melalui keturunan seperti syekh Abubakar ibn Salim, sementara Imam al-Haddad memiliki semua sir. Agar mendapatkan manisnya iman, jangan mendahulukan selain Allah dan Rasul. Mahabbah salih hanya  diberikan kepada orang yang shalih, bermula dari kebaikan hati akan muncul selaksa kebaikan lain. Habib Zain, salah seorang murid Imam al-Haddad  menulis kitab Manhaj al- Sawi, di sini beliau mengingatkan  bahwa tidak akan baik persoalan umat kecuali mengikuti cara hidup kaum salaf.

Makam Imam al-Haddad di Zambal, Tarim


Posting Komentar

0 Komentar