Pengikut

Pengikut

Advertisement

Menemukan Spirit Hari Santri

Hari santri  pertama sekali diperingati tahun 2015,  lahirnya hari santri ini didasarkan kepada keputusan Presiden dengan merujuk sejarah tanggal 22 Oktober sebagai spirit perjuangan para santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.  Puncaknya kemudian adalah peringatan hari pahlawan, jadi di sini hari santri identik dengan perjuangan mempertahankan diri dan merebut kemerdekaan. Hal ini mengingatkan kita bahwa spirit mulia ini sudah ada pada masa Turki Usmani, sebagai daulah militer mempertahankan marwah Islam di dunia, tetapi sebagai catatan pula spirit mempertahankan diri ini  baru ada setelah  adanya ruang manakala umat Islam menjadi para pencinta ilmu,  tumbuhnya spirit keilmuwan  pada pertengahan Abbasiyah. Sehingga hal ini juga harus menjadi spirit bagi para santri untuk mengukur diri tentang pencapaian yang sudah didapatkan dari segi ilmu, penguasaan turath, selalu inovatif dan penyeleksian terhadap sesuatu yang baru, tidak bersikab seperti kaum khawarij, mempunyai sentuhan akhlak Rasulullah.  Santri harus disadarkan tentang  penguasaan bahasa Arab dan bahasa asing lainnya sebagai modal dan batu loncatan dalam mengembangkan ilmu, juga peningkatan  kepenulisan para santri, sebagai pengejewatahan dari apa yang dipelajari melalui kegiatan menulis.  Hal ini mesti menjadi evaluasi apalagi selama pandemi  ada tantangan bagaimana keberhasilan pesantren membina akhlak para santri untuk menjadi teladan bagi masyarakat.

Sehingga jika spirit  dari hari santri tidak coba kembali ditumbuhkan  maka peringatan hari santri menjadi hambar. Lebih lanjut seremonial memperingati hari santri substansinya bukan terletak pada lomba lari, makan minum dan sebagainya.  Lewat kegiatan yang kreatif, santri harus disadarkan sebagai generasi emas Islam, punya tanggung jawab seperti alfatih  muda ketika menakhlukkan Konstatinopel atau Salahuddin al-Ayyubi sebagai pahlawan muda dalam perang Salib. Dalam setiap 100 tahun akan ada seorang penggerak dalam dunia Islam ini, maka mesti kita tumbuhkan dalam pribadi santri bahwa sayalah orangnya yang akan membuat perubahan, memicu semangat keilmuwan bagi kemajuan Islam dan masyarakat, jadi bukan hanya soal lomba lari dan makan-makan saja. 



Posting Komentar

0 Komentar