Pengikut

Pengikut

Advertisement

Upaya Melanggengkan Pernikahan

Pernikahan merupakan hubungan sakral yang menyatukan dua insan yang berbeda latar belakang bahkan budaya. Akan tetapi dalam membina hubungan sakral tersebut sering terjadi konflik rumah tangga  berupa syiqaq yang pada akhirnya berakhir dengan perceraian. Data perceraian dari Mahkamah Syariah menunjukkan angka yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Data dari Januari hingga Juni 2020 ada 3.220 perkara gugatan perceraian yang diterima MS kabupaten/kota di seluruh Aceh. Sebanyak 2.445 kasus di antaranya berakhir dengan perceraian, faktor yang paling dominan adalah terjadinya perselisihan dan pertengkaran secara terus menerus (Serambi Indonesia, 28 Juli 2020).  Begitu juga kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).  Fakta ini  tentu sangat mengkhawatirkan mengingat tujuan pernikahan  untuk menjadikan bumi semakin makmur dan tersebarnya kebaikan.

Fakta ini seolah mengulang kembali sejarah pra Islam dimana tidak adanya penghargaan kepada pasangan. Secara historis, praktik pernikahan pra Islam sangat merugikan dan menghina derajat perempuan. perempuan pra Islam tidak mendapatkan kedudukan semestinya,  jika dalam suatu keluarga lahir seorang anak perempuan yang seharusnya merupakan keberuntungan, namun bagi  hal tersebut menjadi bencana. Kaum Arab pra Islam merasa malu dengan kelahiran tersebut karena dianggap sebagai sebuah aib. Untuk menghilangkan aib itu, maka mereka menguburkan anak perempuannya hidup-hidup. Islam kemudian datang membawa nilai kemaslahatan yang terdapat dalam pernikahan, memuliakan perempuan dengan adanya pemberian mahar. Dari sini Islam telah menjadikan tatanan kehidupan kembali mulia dengan adanya ikatan yang kuat antara suami dan istri.




Dalam Alquran sendiri banyak sekali contoh bagaimana pernikahan menjadi langgeng dipraktikkan, seperti halnya keluarga Imran, seorang yang bukan Nabi tapi disebutkan namanya karena keberhasilan dalam membina pernikahan, melahirkan keluarga yang mulia, yaitu Sayyidah Maryam. ada keluarga Nabiyullah Ibrahim, kelanggengan perkawinan ini ditunjukkan dengan ketaatan bersama kepada Allah yang luar biasa. Dari keluarga Ibrahim berlanjut kepada keturunan beliau yang mulia, yaitu keluarga Rasulullah, dimana rumah tangga Nabi adalah madrasah keluarga terbaik sepanjang kehidupan. Bahwa rumah tangga Rasul juga memiliki persoalan seperti yang menimpa kepada Sayyidah Aisyah berkaitan dengan haditsul ifki. Di sini kita dapat belajar bagaimana Rasulullah menjadi teladan dalam mengelola konflik rumah tangga secara baik dan indah.

Alquran mengisyaratkan agar pernikahan dibina secara langgeng melalui ayat: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Al- Rum: 21).  Dari sini didapati tujuan perkawinan, Di antara tujuan pendukung dari ikatan pernikahan itu  adalah tercapainya ketenangan antar pasangan atau diistilahkan dalam bahasa Alquran ; li taskunu.

Menurut Imam al-Tabari, litaskunu mempunyai empat makna yaitu: Litasta‘iffu biha, dimaksudkan agar kalian mampu menjaga kesucian diri dalam kehidupan. Lita‘tafu Ma‘aha artinya supaya mampu membangun ikatan batin yang dalam dengan pasangan, Litamilu ilaiha, artinya supaya senantiasa cenderung dalam hati dan akal kepadanya dan Litaṭhmainnu biha, supaya kalian merasa tenteram dengannya.  Ibn ‘Asyur menjelaskan kata taskunu terambil dari kata sakana yaitu diam, tenang setelah sebelumnya goncang dan sibuk. Dari sini rumah dinamai sakān karena dia tempat memperoleh ketenangan batin. Kesempurnaan eksistensi makhluk hanya tercapai dengan bersatunya masing-masing pasangan. Seorang akan merasa gelisah dan jiwanya bergejolak jika penggabungan kebersamaan dengan pasangan tidak terpenuhi. Maka Allah mensyariatkan perkawinan bagi manusia agar bisa memperoleh ketenangan.

Kriteria ketidaklanggengan  dalam sebuah pernikahan antara lain disebabkan suami tidak mampu bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, suami dan istri melakukan perselingkuhan, perbedaan prinsip dalam mengarungi  rumah tangga,  kondisi biologis seperti sakit, impoten  dan juga poligami. (Maryanti; 2007). Adapun bentuk kelanggengan sebuah perkawinan ditandai dari terpenuhinya kebutuhan keluarga, adanya kafaah yaitu selaras, serasi dan seimbang, termasuk tingkat  intelektual, emosional, moral  maupun status sosial.  Selanjutnya adanya kesadaran akan hak dan kewajiban. Dari sini perkawinan diibaratkan bagaikan pohon kelapa semakin tua, minyaknya semakin berkualitas. Sebuah perkawinan yang langgeng tidak meniru filosofi tebu, yakni habis manis sepahnya dibuang.

Seorang suami  haruslah memberikan penghargaan  kepada istrinya,  karena telah berkorban memelihara anak dan keturunannya dengan baik. Prioritas selanjutnya bagi pasangan suami istri adalah menjaga.memelihara dan merawat serta memberikan pendidikan yang layak kepada anak-anak,  terutama sekali pendidikan ruhiyah. Keluarga adalah pusat pendidikan pertama bagi suami, istri dan anak. Selanjutnya adalah membina hubungan baik antara keluarga besar suami maupun pihak istri dan masyarakat. Karena perkawinan bukan hanya hubungan antara  suami istri semata. Dengan langgengnya sebuah perkawinan, maka keimanan semakin bertambah, di mana kewajiban suami adalah mendidik keluarganya meningkatkan taqwa kepada Allah.

Kelanggengan pernikahan harus  selalu dijaga  dengan mengenal karakter pasangan (ta’ aruf) agar mampu berkomunikasi dengan baik, saling memahami (tafahum) dan saling tangung jawab (takaful). Kita mesti  belajar kembali  kepada keluarga Sayyidah Fatimah dan Sayyidina Ali, dimana tantangan ekonomi yang melanda keluarga Ali tidak menghalangi kesetiaan dan kelanggengan antara dua insan mulia ini. Pada akhirnya harus disadari bahwa pasangan baik laki-laki maupun perempuan merupakan amanah yang Allah titipkan kepada kita, kelanggengan pernikahan akan menjadi penentu peradaban sebuah keluarga dan anak cucuk kelak, apakah peradaban itu menjadi baik atau sebaliknya. Di tengah kondisi pandemi, mari terus menjaga agar pernikahan yang kita bangun menjadi langgeng, penuh ketundukan dan ketaatan kepada Allah Swt.



Posting Komentar

0 Komentar