Pengikut

Pengikut

Advertisement

Pengaruh Pemimpin Salih dan Para Waliyullah (Bagian Pertama)


Di depan Masjid Syekh Ibn Ataillah al-Sakandari, Muqattam Kairo

Pada abad-abad pertama  dalam Islam banyak lahir para ulama yang sudah mencapai makam waliyullah. Hal ini karena atmosfir ilmu dan ibadah kala itu sangat mendukung, terlebih para sultan juga adalah orang-orang yang alim, sehingga permalahan umat bisa diselesaikan sendiri oleh para sultan.

Hal ini menjadikan para ulama punya banyak waktu untuk keilmuwan dan ibadah kepada Allah, dan tidak perlu sama sekali mengurus istana. Di antara para waliyullah itu ada Ibn Ataillah As Sakandari, pengarang kitab al-Hikam yang kemudian banyak disyarah para ulama setelahnya.

Salah satu syarahan dan termasuk diantara yang paling awal mensyarah al-Hikam adalah Syarah  Ibn Abbad An Nafzi Ar -Rundi, ulama dari Andalusia, Spanyol Selatan tepatnya di kota Rundi, Malaga. Beliau men-syarah al-Hikam setelah tiga puluh  tahun Ibn Ataillah wafat.

Dalam tasawuf dikenal ada maqamat dan ahwal.  Secara terminologis, maqamat merupakan  jama’ atau bentuk plural dari kata maqam yang berarti stasiun (tahapan atau tingkatan), yakni tingkatan spiritual yang telah dicapai oleh seorang sufi.

Menurut Imam al-Ghazali, maqam merupakan hasil dari beragam mu’amalat (interaksi) dan mujahadah (perjuangan batin) yang dilakukan seorang hamba di sepanjang waktunya. Jika seorang hamba tersebut menjalankan salah satu dari maqam itu dengan sempurna maka itu menjadi maqamnya hingga ia berpindah menuju maqam yang lebih tinggi.

Sementara ahwal adalah bentuk  plural dari kata hal, yang berarti kondisi mental atau situasi kejiwaan yang diperoleh seorang sufi sebagai karunia Allah, bukan hasil dari usahanya. 

Contohnya ketika penyihir fir’aun  yang diancam untuk kembali kafir maka mereka tidak mau karena  sudah mendapatkan ahwal, dimana hati sudah sangat kuat kepada Allah (wusul ila Allah).

Ibn ‘Ataillah memulai hikmah yang pertama:  

مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ
Artinya: Sebagian dari tanda-tanda bersandar kepada amal  adalah berkurangnya   pengharapan  tatkala adanya kesalahan.

Seorang hamba tidak seharusnya berpegang kepada amal, karena sandaran seorang hamba itu ada pada karunia dan rahmat Allah.  Maka tanda orang yang sudah berpegang kepada amal adalah merasa tidak ada lagi harapan jika tidak beramal dan melakukan maksiat.  

Padahal rahmat Allah sangat luas, jadi masuknya seorang hamba ke syurga bukan karena amal melainkan rahmat dari pada Allah.

Amal yang banyak belum tentu mendatangkan rahmat dari Allah, namun di sisi lain amal juga menjadi penyebab adanya rahmat dari Allah. Karena pada dasarnya syariat menyuruh kita untuk beramal, sementara azab yang Allah berikan berdasarkan keadilan Allah.

Diantara faidah dars Syarah al-Hikam bersama guru yang mulia,  Abi Zahrul Fuadi Mubarak. Di Masjid Alfalah Kota Sigli. Pidie.

 


Posting Komentar

0 Komentar