Pengikut

Pengikut

Advertisement

Peminangan Dalam Islam (bagian Satu)


      Sebelum berada pada fase pernikahan, seorang pria biasanya meminang atau berkhitbah kepada wanita yang akan menjadi istri. Jika kedua belah pihak sepakat untuk menikah, maka peminangan dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung (tersirat). Praktik masyarakat saat ini menunjukkan bahwa peminangan adalah tahap awal yang hampir pasti akan dilakukan dari berbagai tahapan pernikahan, dengan proses sesuai dengan kebiasaan masing-masing daerah karena ada pesan moral untuk memulai rencana membangun sebuah rumah tangga. 

Khitbah dan al-khatab berasal dari bahasa Arab  yang berarti “pembicaraan”. Jika dikaitkan dengan perempuan, maka makna yang pertama kali ditangkap adalah percakapan yang terkait dengan masalah pernikahannya. Dari sini khitbah bermakna percakapan yang berkaitan dengan lamaran untuk menikah.

Peminangan biasanya dilakukan oleh pria kepada wanita, diizinkan bagi wali wanita untuk menawarkan pernikahan mereka kepada seorang pria. Seorang wanita dapat mengekspresikan keinginannya sendiri untuk menikahi pria dan meminta untuk menikah tetapi harus tetap berpegang pada nilai yang berlaku di tengah masyarakat.

Kisah Nabi Saw disebutkan bahwa ketika Khadijah terkesan dengan akhlak yang dimiliki Rasulullah saw sehingga beliau (Khadijah) ingin menjadikan Nabi saw sebagai suaminya. Khadijah mengirim utusan untuk lebih mengetahui lebih jauh hal ihwal Rasul dan meminta untuk menikahinya. 

Khitbah memiliki beberapa persyaratan yang dibagi menjadi dua kategori, yaitu,

a)  Persyaratan mustahsinah, yaitu persyaratan yang berupa “anjuran” (tidak wajib) seorang pria yang akan meminang perempuan untuk memeriksa perempuan yang akan dipinangnya, apakah sudah sesuai harapannya atau belum, adanya keserasian demi menjamin kelanggengansebuah rumah tangga  dan dapat mendukung tercapainya tujuan pernikahan. Sabda Nabi, Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Saw. beliau bersabda: "Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung. "(HR. al-Bukhari).

Perempuan yang akan dipinang mempunyai sifat penyayang dan dapat melahirkan keturunan (sehat jasmani), dan sebaliknya, perempuan yang dipinang sebaiknya mengetahui pula kondisi pria yang meminangnya.

b)  Persyaratan lazimah, merupakan syarat yang harus dipenuhi sebelum khitbah dilakukan. Karena itu, sahnya sebuah pinangan tergantung kepada persyaratan lazimah, diantaranya:

1)  Perempuan yang akan dipinang bukan dalam pinangan pria lainnya sampai pria tersebut melepas pinangannya. Nabi saw. bersabda:

Dari Abu Hurairah dari Nabi saw. beliau bersabda: "Janganlah meminang wanita yang telah dipinang saudaranya.

2)  Perempuan yang akan dipinang bukan pada masa iddah, dan jika pada iddah raj’i maka yang berhak mengawininya adalah mantan suaminya, disamping itu ada beberapa hal yang terkait, diantaranya:

a.    Kebolehan meminang seorang wanita cerai yang belum disetubuhi, disebabkan tidak masuk pada masa iddah dalam kesepakatan para ulama, sesuai QS. Al-Ahzab/33: 49.

b.  Tidak bolehnya melamar wanita yang telah ditalak raj’i, baik terang-terangan ataupun tidak, hal ini disebabkan karena masih sebagai wanita yang diperistri.

c.  Kebolehan meminang seorang wanita dengan isyarat (tertutup) dan tidak terbuka atau terang-terangan bagi wanita dalam masa iddah disebabkan wafatnya suami.

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar