Pengikut

Pengikut

Advertisement

Pesan dari Nisan-Nisan Lama di Pidie

Nisan lama sekitar abad 17-18 masih sangat banyak dijumpai di Aceh, belum lagi yang masih tersembunyi. Karena itu kita patut mengapresiasi kerja-kerja besar  Komunitas Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), dan guru-guru kita di sana yang berbuat untuk menaikkan kembali bukti peninggalan peradaban masa dulu. 

Tentu bukanlah untuk membenam diri dalam euphoria sejarah, akan tetapi dari nisan-nisan ini,  kita tahu dan sadar dari mana kita memulai kembali sebuah kehidupan yang bermartabat. Di sekitar Caleue saja tepatnya di kampung Meuleuwuek ada beberapa nisan abad 17-18 yang kita dapati.

Perlu penelusuran lebih lanjut tentang  nama atau siapa pemilik makam ini. Ada yang menyebut tentang keluarga Syekh Syamsuddin al-Sumatrani di makamkan di sini. Baru-baru ini saya mengambil foto dekat nisan di persimpangan masjid lama kampong Dayah Muara, Kecamatan Peukan Baro ada dua makam di sana. Foto tersebut saya kirim kepada Tgk Tarmizi (cek Midi) pakar nisan Aceh dan juga kepada Direktur Pedir Mesium, adinda Masykur. Hasilnya terindikasi diperkirakan bahwa makam ini abad ke 18 masehi, manakala pemerintah kesultanan Aceh masih wujud.

Teungku Tarmizi bahkan menambahkan melalui pesan facebook, bahwa ini makam sangat indah ukirannya, dan beliau menyebut kemungkinan pemilik makam tersebut adalah wanita masa kesultanan Aceh yang memilki kedudukan dan dihormati. Saya juga mengirim foto nisan lain yang ada di kampong Meuleuweuk. Salah satu makam yang paling besar itu, menurut Cek Midi separuhnya sudah terbenam  di dalam  tanah, makam ini bekisar pada abad ke 15 Masehi. 

Dalam beberapa video Mapesa, kita bisa melihat bagaimana Teungku Taqiyuddin (Abu Taqi) berusaha membaca inskripsi tulisan yang ada di nisan-nisan lama di Aceh. Kita mesti menyadari bahwa pemilik nisan-nisan yang  diambil batunya untuk bate asah adalah para tokoh, bangsawan bahkan ulama yang sangat dihormati. Oh, betapa malunya kita!

 

Posting Komentar

0 Komentar