Pengikut

Pengikut

Advertisement

Dari Masyarakat Jahili ke Masyarakat Akhlaki

Rasulullah lahir di tengah masyarakat yang tidak menghargai akhlak sebagai sebuah nilai tertinggi kemanusiaan. Hanya segelintir masyarakat kala itu yang masih mempertahankan syariat nabiyullah Ibrahim. Rasulullah lahir dalam masyarakat materialisme atau disebut jahiliyah, jadi pemaknaan jahiliyah bukan berorientasi kepada kebodohan secara ilmu. Ciri khas masyarakat materi; jahiliyah ini selalu memuja sesuatu yang berbau materi, pembicaraan kaum jahiliyah ini hanya lah seputar penumpukan harta, peperangan, perbudakan dan makanan-minuman.

Inilah ciri khas utama masyarakat jahili, makan-minum, mencari uang adalah sesuatu yang besar, orang bisa dihormati karena kekayaan dan pangkatnya, jika tidak dipanggil dengan titel  atau pangkatnya maka manusia akan marah dan hisa terjadi peperangan, hal ini disebabkan karena fanatik kesukuan yang sangat besar. Karena itu,  masyarakat Arab sebelum Islam sama sekali tidak menjadi perhatian  dua imperium besar yaitu, bangsa Persia dan Romawi.

Masyarakat jahili senantiasa berdebat, bahan pembicaraannya bukanlah konsep pemikiran, melainkan kebendaan, mobil atau kereta  dan pakaian baru. Dari sisi keluarga, seorang menantu akan dilihat apa pekerjaannya dan penghasilannya. Suksesnya seorang anak dianggap ketika dia telah berpenghasilan besar, begitu bangga orang tua, tidak dan bahkan sama sekali tidak memikirkan keadaan salatnya, hubungan anak dengan Allah dan yang berkaitan dengan pengembangan ilmu dan ruhiyah.

Inilah ciri khas masyarakat jahili yang selalu disebut-sebut penceramah setiap mengawali ceramah di atas mimbar. Masyarakat jahiliyah tidak terikat kepada tempat. Artinya bukan Arab pra Islam saja yang jahiliyah, seluruh dunia sebelum risalah Islam berada dalam zaman jahiliyah. Jahiliyah tidak terikat dengan waktu, semakin kita mencitai kebendaan, status sosial dan semakin jauh dari Allah, maka semakin jahiliyah masyarakat itu.

Islam datang membersihkan masyarakat ini, Rasulullah berhasil mengubah cara pandang masyarakat Arab  menjadi sebuah konsep yang mewah dan elegan. Prinsip kesederhanaan hidup, memuliakan sesama, apa yang berbeda hanyalah ketaqwaan, hal ini kembali diulas Rasul dalam khutbah wadak yang begitu fenomenal.

Harta ketika berada di tangan kaum muslimin  kemudian menjadi berkah karena dikelola dengan baik dan memberi manfaat, artinya pengelolaan harta pada masa Rasulullah telah memberikan maslahat yang sedemikian besar kepada masyarakat dengan mengedepankan prinsip keadilan dan kebermanfaatan.

Islam mengajarkan nilai akhlaki, ini sebuah konsep yang sangat mahal, jamuannya ada dalam kalam para ulama dahulu sebagai formulasi dari al-Quran dan Sunnah,  Kehidupan seperti ini telah pernah wujud di saat kebesaran Islam. Apabila masyarakatnya berkubang dengan kefanatikan, tidak selesai dengan ekonomi-kebendaan, berkutat dengan kuantitas saja inilah tsunami kemuduran jahiliyah, yang kita berlindung darinya. Tulisan ini untuk mengingat kembali bahwa sejarah akan mengulangi dirinya sendiri, manusia mesti belajar dari sejarahnya sendiri.  

Posting Komentar

0 Komentar